Oleh: Agus Siswanto, S.Sos., M.M.
Anggota DPRD Kab Grobogan
SeputarDesa.com, Grobogan – Usia 53 tahun bagi PDI Perjuangan bukanlah sekadar penanda perjalanan waktu. Ia merupakan momentum refleksi dan penegasan arah. Pada titik inilah sebuah partai politik menilai kembali konsistensinya: apakah masih setia pada nilai-nilai dasar yang melahirkannya, atau mulai menjauh dari orientasi perjuangan awal. Sejarah mencatat bahwa partai yang bertahan adalah partai yang mampu menjaga keselarasan antara cita-cita dan praktik politiknya.
PDI Perjuangan lahir dari realitas kehidupan rakyat kecil. Dari keringat petani, dari kerja keras buruh, dari perjuangan nelayan, hingga dari lapak pedagang kecil. Latar sejarah ini menjadi pengingat bahwa energi utama partai selalu bersumber dari rakyat. Karena itu, PDI Perjuangan menangis dan tertawa bersama rakyat, hadir dalam kesulitan sekaligus berbagi harapan atas masa depan yang lebih baik.
Saya memaknai prinsip “menangis dan tertawa bersama rakyat” sebagai amanat ideologis yang disampaikan secara konsisten oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri. Prinsip ini bukan sekadar ungkapan emosional, melainkan pedoman sikap politik dan moral bagi seluruh kader. Ia menegaskan bahwa hubungan partai dengan rakyat tidak boleh bersifat seremonial, apalagi transaksional, melainkan harus dibangun di atas empati, kehadiran nyata, dan tanggung jawab jangka panjang.
Menangis bersama rakyat berarti memiliki kepekaan sosial dan keberanian moral untuk hadir di saat-saat paling sulit, ketika rakyat menghadapi persoalan kehidupan yang nyata, ketimpangan ekonomi, keterbatasan akses layanan dasar, bencana, atau tekanan sosial lainnya. Kehadiran ini tidak boleh menunggu momentum politik atau sorotan publik. Justru di ruang-ruang sunyi itulah integritas kader diuji: apakah ia benar-benar mendengar, memahami, dan merasakan penderitaan rakyat, atau sekadar datang ketika situasi telah aman dan menguntungkan.
Lebih jauh, menangis bersama rakyat juga mengandung makna kesediaan untuk memikul beban bersama. Ia menuntut kader agar tidak berjarak, tidak merasa lebih tinggi, dan tidak berlindung di balik jabatan. Dalam semangat ini, empati tidak berhenti pada simpati, tetapi diterjemahkan ke dalam kerja nyata, advokasi kebijakan, serta keberpihakan yang konsisten dalam setiap pengambilan keputusan politik.
Sementara itu, tertawa bersama rakyat memiliki makna yang tidak kalah penting. Ia menegaskan bahwa keberpihakan tidak berhenti pada fase krisis. Tertawa bersama rakyat berarti setia mengawal proses pemulihan secara berkelanjutan, memastikan bahwa kebijakan dan program yang dijalankan benar-benar menghadirkan perbaikan dalam kehidupan rakyat. Di sini, kader dituntut untuk bersabar, tekun, dan konsisten, hingga harapan rakyat pulih dan martabat mereka kembali berdiri dengan tegak.
Memperkuat kaum Marhaen merupakan bagian integral dari identitas ideologis PDI Perjuangan. Upaya menambah daya juang rakyat kecil bukanlah langkah sesaat, melainkan komitmen jangka panjang. Marhaenisme hidup bukan melalui simbol dan retorika, melainkan melalui kebijakan, kerja nyata, dan keberpihakan yang konsisten. Ketika kader hadir di tengah rakyat dan bekerja bersama mereka, di situlah ideologi menemukan wujudnya yang paling nyata.
PDI Perjuangan menempatkan prinsip sebagai fondasi perjuangan. Prinsip kejujuran, keadilan, dan kebenaran menjadi pedoman dalam menjalankan peran politik. Satyam eva jayate, kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya, menjadi pengingat bahwa politik yang sehat memerlukan integritas dan tanggung jawab moral. Tanpa prinsip, kepercayaan publik akan sulit dipertahankan.
Dalam kerangka tersebut, politik dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana. Sarana untuk mengambil keputusan yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara kepentingan sosial dan ekonomi, serta antara pembangunan dan keluhuran budaya. Kebijakan publik diharapkan mampu menghadirkan kemajuan yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan.
Memasuki usia ke-53, PDI Perjuangan dihadapkan pada tuntutan untuk terus memperkuat disiplin organisasi dan konsistensi ideologi. Tidak cukup hanya mengaku sebagai bagian dari partai; yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk bekerja, belajar, dan mengabdi secara berkelanjutan. Sikap oportunistik dan keberpihakan yang tidak konsisten tentu tidak sejalan dengan semangat perjuangan yang diwariskan sejak awal.
Sejarah akan terus berjalan dan menilai setiap langkah politik yang diambil. Kesetiaan pada rakyat kecil, keberanian menjaga prinsip, dan konsistensi dalam memperjuangkan keadilan sosial akan menjadi ukuran utama. Selama tantangan ketimpangan masih ada dan keadilan sosial belum sepenuhnya terwujud, PDI Perjuangan diharapkan terus hadir sebagai kekuatan politik yang bekerja untuk kepentingan rakyat luas.(**)














