banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
DaerahTajuk Redaksi

Dari Terang Filipina ke Asa Listrik Bersih di Rumah Kita

×

Dari Terang Filipina ke Asa Listrik Bersih di Rumah Kita

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Sidoarjo – “Mas… Apakah negara tetangga kita sudah benar-benar bisa menikmati listrik dari sinar matahari selama 24 jam penuh tanpa putus?”

Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang tokoh warga desa saat kami duduk bersama di atas balai-balai kayu, memperhatikan lampu minyak yang berkedip-kedip ditiup angin malam. Meskipun sudah berulang kali saya turun ke pelosok untuk mendengarkan alur cerita pembangunan dan isu energi, hati saya tetap bergetar setiap kali menyaksikan betapa tingginya harapan masyarakat perdesaan terhadap hadirnya daya yang tak hanya terang, tetapi juga mandiri dan bebas polusi.

Suatu sore di kawasan pesisir, saya menemui seorang pengusaha UMKM pengolahan ikan setempat. Permintaan bernada cemas keluar dari mulutnya saat ia memeriksa mesin pembeku (freezer) yang mati akibat penurunan tegangan listrik. “Mas, kalau listrik di sini sering biar-pet atau biaya operasionalnya mahal terus, kami tidak bisa menjaga kualitas hasil tangkapan,” katanya dengan suara berat. Hal yang selalu saya tanyakan saat mengamati situasi seperti itu, “Kenapa tidak mencoba beralih penuh ke daya terbarukan, Pak?”. Kali ini giliran istrinya yang menjawab sambil mengusap peluh di dahi, “Kami dengar teknologi listrik surya itu mahal dan tidak stabil kalau malam hari, Mas. Kami takut modal kami habis tapi listriknya tetap mati-matian. Kami bingung harus percaya pada sistem yang mana.” Di ruangan sederhana sore itu, saya merenung sambil mendengar deru mesin pendingin yang timbul tenggelam.

Saat ini, kawasan Asia Tenggara sedang menghadapi tantangan transisi energi dan dinamika ekonomi yang tidak ringan. Perubahan iklim yang ekstrem, fluktuasi harga bahan bakar fosil, hingga tuntutan penurunan emisi karbon memaksa negara-negara di kawasan ini untuk merombak arsitektur ketenagalistrikannya. Indonesia dan negara-negara tetangga berada di persimpangan jalan terus bergantung pada energi konvensional yang memicu emisi, atau melangkah berani menuju energi terbarukan yang berkelanjutan. Di tingkat tapak, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa energi bersih bukan sekadar wacana di meja seminar, melainkan solusi nyata yang stabil dan terjangkau untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Baca Juga :  Kasdim 0819 Pasuruan Hadiri Penutupan Diklat SPPI, KDKMP dan KNMP, Cetak 172 Generasi Siap Mengabdi untuk Negeri

Tanpa disadari, skeptisisme terhadap energi bersih sering kali muncul karena anggapan bahwa sumber daya seperti sinar matahari bersifat intermiten hanya menyala saat siang dan redup saat malam. Di era modern, tantangan ini sebenarnya telah dijawab oleh lompatan teknologi. Melalui integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS), listrik bersih kini mampu disalurkan secara baseload atau terus-menerus selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Keberhasilan inovasi ini bukan lagi cerita fiksi, melainkan kenyataan konkret yang sudah dibuktikan di kawasan regional.

Mengamati perkembangan teknologi ini, pikiran saya melayang pada data dan catatan capaian strategis Pertamina New and Renewable Energy (Pertamina NRE) melalui perusahaan afiliasinya, Citicore Renewable Energy Corporation (CREC). Di Batangas, Filipina, proyek PLTS berkapasitas 197 Megawatt peak (MWp) yang dilengkapi sistem baterai BESS sebesar 329 Megawatt hour (MWh) telah resmi beroperasi di dua lokasi, yakni Lumbangan (125 MWp) dan Luntal (72 MWp). Pembangkit ini mampu memasok listrik bersih untuk 158.300 rumah tangga sekaligus menekan emisi karbon hingga 265.933 ton per tahun. Sungguh sebuah pencapaian yang ironis sekaligus membanggakan di satu sisi kita menyaksikan bagaimana ekspansi BUMN energi kita berhasil menerangi ratusan ribu rumah tangga di negara tetangga dengan teknologi terdepan, namun di sisi lain, masyarakat di pelosok negeri sendiri masih sering membayangkan apakah kepastian energi bersih 24 jam itu bisa hadir di ruang tamu mereka.

Terbesit di pikiran saya sebuah analogi untuk membedah dinamika transisi energi ini. Menariknya, cara ini memiliki kesamaan prinsip dengan teknik analisis lapangan yang biasa saya gunakan  jika kita paham bagaimana sistem ketenagalistrikan modern yang ideal bekerja, kita akan peka terhadap potensi dan peluang besar yang bisa diterapkan di tanah air. Prinsip sederhana, namun sangat kuat untuk dijadikan bekal memahami isu-isu energi publik.

Baca Juga :  Cabe Jamu Asal Sumenep Siap Dibudidayakan di Balikpapan, Dukung Pengembangan Herbal Nasional

Selama bertahun-tahun mengamati dari dekat pergerakan ekonomi dan energi, saya dituntut untuk memahami anatomi sistem ketenagalistrikan dari hulu ke hilir. Seorang mentor senior pernah mengajarkan kepada saya, “Dengan memahami bagaimana sebuah infrastruktur energi bekerja secara stabil, seseorang akan segera tahu di titik mana sebuah daerah mengalami ketimpangan daya.” Dulu saya belum sepenuhnya menghayati pesan itu. Namun melihat fakta bagaimana CREC yang membukukan pendapatan US 134 juta dan laba bersih US 32 juta (tumbuh 38 persen) di semester I 2025 mampu menargetkan penambahan kapasitas 1 GW per tahun, baru saya paham artinya. Energi terbarukan bukan lagi sekadar proyek sosial atau kelestarian lingkungan semata, melainkan sektor bisnis yang sangat sehat, efisien, dan teruji secara teknis. Dengan memahami bahwa BESS adalah kunci keandalan baseload, kita bisa dengan cepat menilai mana sistem kelistrikan perdesaan yang sudah siap bertransformasi dan mana yang masih tertinggal. Prinsip ini berlaku universal memahami kebenaran teknologi membuat kita lebih peka terhadap solusi yang tepat.

Setelah saya renungkan, kekhawatiran masyarakat akan ketidakstabilan energi terbarukan menyerupai penyakit akibat kurangnya literasi teknologi ia muncul saat informasi yang benar belum sampai ke tingkat tapak. Banyak orang berpikir bahwa listrik tenaga surya selalu lemah di kala malam atau cuaca mendung. Solusi sebenarnya bukanlah menghindari teknologi ini, melainkan memahami dua hal mendasar.

Pertama, pemahaman mengenai aspek keandalan teknologi (technological reliability). Integrasi antara panel surya dan baterai penyimpan skala besar (BESS) adalah jawaban atas sifat intermiten energi terbarukan. Seperti yang dibuktikan pada PLTS Batangas, daya yang dipanen di siang hari disimpan secara presisi untuk disalurkan tanpa henti sepanjang malam. Ketika masyarakat dan pelaku usaha paham bahwa teknologi ini sudah teruji untuk skala industri dan ratusan ribu pemukiman, keraguan untuk beralih ke energi bersih akan terkikis.

Baca Juga :  Anggota Kodim Grobogan Dan Warga Bersihkan Marshalling Area Di Desa Mrisi

Kedua, pemahaman mengenai dampak ekonomi dan keberlanjutan. Konversi ke energi terbarukan bukan hanya soal menekan emisi, tetapi juga soal efisiensi biaya dalam jangka panjang. Ketika BUMN seperti Pertamina NRE mengambil peran kepemimpinan di Asia Tenggara, hal ini membuktikan bahwa kemampuan teknologis dan finansial bangsa kita telah matang untuk memimpin transisi energi regional.

Sebuah pesan bijak dalam dunia energi menyebutkan “Energi terbaik bukan hanya energi yang mampu menyalakan lampu hari ini, tetapi energi yang memastikan anak cucu kita tetap memiliki langit yang bersih esok hari.”

Melalui prinsip tersebut, saya belajar bahwa mengawal penyebaran informasi mengenai keandalan energi bersih sama pentingnya dengan menyaksikan pembangunan fisiknya di lapangan.

“Pak, Bu, teknologi listrik bersih itu nyata dan sudah terbukti bisa menyala 24 jam penuh tanpa mati. Jika di negara tetangga saja karya anak bangsa melalui Pertamina NRE bisa menerangi lebih dari 158 ribu rumah tangga, maka masa depan terang yang sama pasti bisa hadir di desa kita,” tutur saya kepada pasangan pengusaha UMKM itu untuk memberikan keyakinan baru.

Sore itu, senyum optimis perlahan terukir di wajah mereka. Kekhawatiran akan masa depan usaha dan biaya energi yang mencekik berganti dengan harapan akan hadirnya modernisasi kelistrikan yang ramah lingkungan. Saya melangkah pergi meninggalkan kawasan pesisir itu dengan keyakinan yang kian mantap transisi energi bukan lagi sekadar impian di atas kertas, melainkan keniscayaan yang sedang bergerak maju. Dari Batangas hingga ke pelosok Nusantara, terang energi bersih akan terus mengalir, menghidupkan roda ekonomi, dan menjaga bumi tetap lestari.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi