banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
BeritaBudayaPeristiwa

Menjaga Ikatan Persaudaraan di Tepian Sungai Tuntang, Tradisi Asrah Batin Kedungjati Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

×

Menjaga Ikatan Persaudaraan di Tepian Sungai Tuntang, Tradisi Asrah Batin Kedungjati Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Sebarkan artikel ini
Foto : Tradisi Asrah Batin di Kecamatan Kedungjati, Grobogan, menjadi simbol persaudaraan, gotong royong, dan pelestarian budaya yang terus dijaga lintas generasi.

SeputarDesa.com | Grobogan – Riuh sorak ribuan warga menggema di sepanjang bantaran Sungai Tuntang, tepatnya di Desa Ngombak dan Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Minggu (12/7/2026). Sejak pagi, masyarakat dari berbagai penjuru Grobogan bahkan luar daerah telah memadati lokasi untuk menyaksikan Tradisi Asrah Batin, sebuah warisan budaya leluhur yang hingga kini tetap bertahan di tengah derasnya arus modernisasi.

Bagi masyarakat Kedungjati, Asrah Batin bukan sekadar tontonan budaya. Tradisi yang digelar setiap dua tahun sekali pada tahun genap ini merupakan simbol persaudaraan, keikhlasan, serta penghormatan terhadap sejarah yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Di balik kemeriahan ribuan warga yang memadati Sungai Tuntang, tersimpan kisah yang menjadi asal-usul lahirnya tradisi tersebut. Cerita rakyat menyebutkan Raden Mas Bagus Sutejo atau Kedono dan Roro Ayu Mursiyah atau Kedini merupakan saudara kembar yang terpisah sejak kecil. Takdir mempertemukan mereka kembali saat dewasa hingga hampir melangsungkan pernikahan. Namun, setelah mengetahui bahwa keduanya masih memiliki hubungan darah sebagai saudara kandung, pernikahan itu dibatalkan.

Peristiwa tersebut diterima dengan lapang dada sebagai kehendak Tuhan. Rasa syukur atas pertemuan kembali kemudian diwujudkan melalui selametan yang lambat laun berkembang menjadi Tradisi Asrah Batin. Nama Asrah Batin sendiri dimaknai sebagai “Pasrah Batin”, sebuah filosofi tentang keikhlasan menerima ketentuan hidup, sekaligus pengingat bahwa persaudaraan harus dijaga di atas segala kepentingan.

Baca Juga :  Langkah Awal Koperasi Merah Putih, Koramil dan Perhutani Survei Lahan di Sanganom
Foto : Ribuan warga memadati Sungai Tuntang saat mengikuti Tradisi Asrah Batin di Desa Ngombak dan Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan, Minggu (12/7/2026).

Tradisi ini lazim dilaksanakan pada bulan Ruwah ketika musim kemarau tiba. Momentum tersebut dipercaya menjadi waktu terbaik untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta mempererat hubungan antarwarga yang selama ini hidup berdampingan.

Sejak pagi, berbagai prosesi adat digelar secara berurutan. Mulai dari Gebyuk, Tuba, hingga Nyekar sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Namun, perhatian masyarakat selalu tertuju pada Tradisi Tubo, ketika ribuan warga turun bersama ke Sungai Tuntang untuk menangkap ikan secara tradisional.

Suasana penuh tawa dan kegembiraan menyelimuti sungai. Anak-anak, orang dewasa, hingga para sesepuh ikut membaur tanpa sekat. Bukan semata-mata untuk mendapatkan ikan, tetapi lebih kepada merawat kebersamaan yang telah menjadi ciri khas masyarakat Kedungjati selama bergenerasi.

Puncak acara berlangsung ketika rombongan Kepala Desa Karanglangu bersama perangkat desa dan masyarakat menyeberangi Sungai Tuntang menggunakan rakit hias menuju Desa Ngombak. Di seberang sungai, rombongan disambut hangat dengan kesenian tradisional, doa bersama, serta hidangan khas Jawa sebagai lambang diterimanya saudara yang datang membawa niat baik.

Baca Juga :  Menu MBG di Pojokrejo Disorot, Klarifikasi SPPG Ulive Care Justru Tuai Pertanyaan

Prosesi berlanjut dengan sasrahan, panggih, wisuhan, pembacaan sejarah Asrah Batin, selametan Kembul Bujana, Munggut, hingga srah-srahan. Masyarakat kemudian menerima Badek berupa air tape dan Boreh berupa serbuk bedak yang dipercaya membawa keberkahan. Seluruh rangkaian ditutup dengan pertunjukan tari tayub yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi masyarakat setempat.

Di balik seluruh prosesi tersebut tersimpan pesan moral yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini mengajarkan bahwa perbedaan tidak boleh memutus tali persaudaraan, sementara kebersamaan hanya dapat terwujud melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan keikhlasan.

Pengamanan kegiatan melibatkan personel Polres Grobogan, Kodim Grobogan, Polsek Kedungjati, Koramil Kedungjati, BPBD Grobogan, Linmas, serta Karang Taruna dari kedua desa sehingga seluruh rangkaian berlangsung aman dan tertib.

Kepala Desa Ngombak, Heriyanto, menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat yang terus menjaga tradisi tersebut.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Ini bukti warga masih mencintai budayanya. Kami berharap Tradisi Asrah Batin terus menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi muda,” katanya.

Foto : Pelaku UMKM memanfaatkan ramainya pengunjung Tradisi Asrah Batin dengan menjajakan berbagai kuliner dan produk lokal di kawasan Sungai Tuntang, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan.

Hal senada disampaikan Iwan Lutfi, warga desa klithikan Kecamatan Kedungjati, yang mengaku selalu menyempatkan diri hadir setiap kali Asrah Batin digelar.

“Hampir setiap penyelenggaraan saya bersama keluarga selalu datang menyaksikan. Suasananya sangat meriah dan penuh kebersamaan,” tuturnya.

Sementara itu, Solichin, warga Dusun Tempuran, Desa Jatilor, Kecamatan Godong, menilai Tradisi Asrah Batin menjadi bukti bahwa masyarakat Grobogan masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.

“Tradisi seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan. Ini menjadi bukti bahwa budaya leluhur masih hidup serta mampu mempererat persaudaraan antarwarga,” ujarnya.

Di tengah kehidupan modern yang terus berubah, Asrah Batin mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru melalui tradisi seperti inilah masyarakat menemukan identitasnya. Sungai Tuntang setiap dua tahun sekali bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah upacara adat, melainkan menjadi ruang perjumpaan antargenerasi, tempat sejarah diceritakan kembali, nilai-nilai luhur diwariskan, dan persaudaraan dirawat.

Baca Juga :  Fasilitas SPBE PT Osu Wonua Perkasa Disorot, Drainase Buruk dan Tumpukan Sampah Jadi Keluhan

Selama masyarakat masih berkumpul di tepian Sungai Tuntang untuk melaksanakan Asrah Batin, selama itu pula denyut kebudayaan Grobogan akan terus hidup, mengalir bersama arus sungai yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah masyarakat Kedungjati selama berabad-abad.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi