SeputarDesa.com, Grobogan – Di tengah maraknya produk kerajinan yang diproduksi secara massal dengan bantuan mesin modern, para pengrajin batu akik di Dusun Tumbal, Desa Kluwan, Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, tetap mempertahankan tradisi pembuatan batu akik secara manual. Keahlian yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menghasilkan karya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan kearifan lokal yang terus dijaga hingga kini.
Berbekal keterampilan tangan dan ketelitian tinggi, setiap batu akik yang dihasilkan memiliki karakter, motif, dan keunikan tersendiri. Tidak ada dua batu yang benar-benar sama, sehingga setiap hasil karya memiliki nilai eksklusif bagi para kolektor maupun pecinta batu akik.
Proses pembuatan batu akik di Dusun Tumbal dilakukan melalui enam tahapan utama yang seluruhnya dikerjakan secara manual.
Tahap pertama diawali dengan pemilihan bahan, yakni memilih bongkahan batu yang diperoleh dari sungai maupun galian di sekitar wilayah Grobogan. Pengrajin hanya memilih batu yang memiliki kepadatan tinggi serta corak alami yang menjanjikan.
Selanjutnya memasuki tahap pemotongan, menggunakan gergaji manual untuk membelah batu sekaligus melihat motif yang tersembunyi di bagian dalam.
Tahap ketiga adalah pembentukan kasar, di mana batu dibentuk menggunakan gerinda sesuai ukuran dan model yang diinginkan pelanggan.
Setelah itu dilakukan penghalusan dengan menggunakan amplas bertingkat mulai ukuran 240 hingga 2.000. Proses ini dilakukan secara bertahap menggunakan air agar permukaan batu menjadi halus sekaligus mengurangi debu.
Tahap berikutnya adalah pemolesan, menggunakan serbuk intan dan kain poles untuk mengeluarkan kilau alami batu sehingga motif dan warna asli tampak lebih hidup.
Terakhir, pada tahap finishing, batu akik dipasang pada berbagai jenis ring, mulai dari kuningan, perak hingga titanium, sehingga siap dipasarkan kepada konsumen.

Sarif, salah satu pengrajin batu akik di Dusun Tumbal, mengatakan bahwa setiap batu membutuhkan perlakuan yang berbeda sehingga tidak bisa dikerjakan secara terburu-buru.
“Satu batu membutuhkan waktu sekitar tiga jam hingga satu hari untuk selesai, tergantung tingkat kekerasan batu dan tingkat kerumitan motif yang diinginkan,” ujar Sarif.
Menurutnya, proses manual menjadi keunggulan utama batu akik asal Dusun Tumbal dibandingkan produk yang diproduksi menggunakan mesin.
“Batu akik Tumbal itu berbeda. Karena seluruh prosesnya dikerjakan secara manual, setiap batu memiliki karakter dan tidak ada yang benar-benar sama,” ungkapnya.
Keberadaan industri rumahan ini kini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Desa Kluwan. Puluhan keluarga menggantungkan penghasilan dari usaha pembuatan batu akik, sementara para pembeli tidak hanya berasal dari Grobogan, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain memberikan nilai ekonomi, kerajinan batu akik manual juga menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal masih mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Ketekunan para pengrajin dalam mempertahankan metode tradisional menjadi bentuk nyata pelestarian keterampilan leluhur yang memiliki nilai seni tinggi.
Pemerintah Desa Kluwan bersama para pegiat UMKM berharap kerajinan batu akik khas Dusun Tumbal dapat dipromosikan lebih luas sebagai salah satu ikon ekonomi kreatif Kabupaten Grobogan. Ke depan, sentra kerajinan ini juga diharapkan berkembang menjadi destinasi wisata edukasi, sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung proses pembuatan batu akik secara tradisional sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan para pengrajin.
Dengan mempertahankan proses pembuatan yang sepenuhnya manual, Dusun Tumbal tidak hanya menghasilkan batu akik berkualitas, tetapi juga menjaga warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Grobogan.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















