SeputarDesa.com, Jombang – Di sebuah kota santri yang tenang namun dinamis, Jombang, pada 26 November 1970, lahirlah seorang putra daerah yang kelak mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk pelayanan publik. Dialah Agung Hariadi, ST, MM—sosok birokrat yang meniti karier dari bawah, dibentuk oleh disiplin pengawasan, ditempa oleh pengalaman lintas sektor, dan matang dalam kepemimpinan yang berpijak pada nilai kemanusiaan.
Akar Kehidupan: Nilai yang Tertanam Sejak Dini
Tumbuh dalam lingkungan masyarakat Jombang yang religius dan menjunjung tinggi gotong royong, Agung kecil belajar tentang arti kerja keras, kesederhanaan, dan tanggung jawab. Sejak mengenyam pendidikan di SDN Ceweng Diwek, SMPN 2 Jombang, hingga SMA 2 Jombang, ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan konsisten.
Nilai yang tertanam sejak dini itu sederhana namun kuat: bahwa setiap proses harus dijalani dengan kesungguhan, dan setiap amanah harus dipertanggungjawabkan. Lingkungan sosial yang sarat nilai spiritual membentuknya menjadi pribadi yang rendah hati dan tidak mudah tergoda oleh ambisi sesaat.
Fondasi Akademik: Perpaduan Teknik dan Manajemen
Ketertarikannya pada pembangunan membawanya menempuh pendidikan S1 Teknik Sipil di ITPS Surabaya. Dunia teknik membentuk cara berpikirnya yang sistematis, terukur, dan berbasis analisis. Ia belajar bahwa sebuah bangunan yang kokoh selalu berdiri di atas perencanaan yang matang dan perhitungan yang presisi.
Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa pembangunan fisik hanyalah satu sisi dari tata kelola pemerintahan. Sisi lainnya adalah manajemen dan pengelolaan keuangan yang akuntabel. Kesadaran itu mendorongnya melanjutkan studi S2 Magister Manajemen Keuangan di Unmer Malang. Kombinasi teknik dan manajemen inilah yang kemudian menjadi kekuatan khas dalam kepemimpinannya: berpikir strategis namun tetap detail, visioner namun tetap rasional.
Menapaki Karier dari Dasar: Sekolah Nyata di Lapangan
Kariernya di pemerintahan dimulai pada tahun 2002 sebagai Staf Bidang Penagihan Dispenda Kabupaten Bondowoso. Ia terlibat langsung dalam penagihan pajak reklame dan retribusi sewa rumah dinas. Pengalaman ini memberinya pemahaman konkret bahwa pembangunan daerah sangat bergantung pada optimalisasi pendapatan asli daerah.
Tahun 2006–2012 menjadi fase pembentukan profesionalisme ketika ia bertugas sebagai staf pemeriksa pada Bidang Pembangunan Bawasda/Inspektorat Kabupaten Bondowoso. Di sinilah ia belajar bahwa pengawasan bukan sekadar mencari kesalahan, melainkan memastikan sistem berjalan sesuai aturan dan tujuan pembangunan tercapai secara efektif.
Tahun 2013, ia memasuki babak baru sebagai Auditor Ahli Pertama di Inspektorat Kabupaten Jombang. Kariernya meningkat menjadi Auditor Ahli Muda (2015–2018) dan kemudian Inspektur Pembantu Bidang Pembangunan (2018–2023). Dalam posisi ini, ia mengawal berbagai proyek strategis daerah, memastikan kesesuaian regulasi, efisiensi anggaran, serta kualitas hasil pembangunan.
Pendekatannya dalam pengawasan selalu konstruktif. Ia percaya bahwa auditor tidak hanya berfungsi sebagai pengoreksi, tetapi juga sebagai konsultan internal yang membantu perangkat daerah memperbaiki sistem kerja.
Komitmen pada Profesionalisme: Belajar Tanpa Henti
Sepanjang perjalanan kariernya, Agung Hariadi aktif mengikuti berbagai diklat dan pelatihan untuk memperkuat kompetensinya. Mulai dari Diklat Ahli Nasional Pengadaan Barang/Jasa Unair (2008), Pembentukan Auditor oleh BPKP (2009 dan 2014), e-Audit CPPR UGM (2013), hingga Reviu LKPD berbasis akrual dan Audit Kinerja di Balai Diklat BPK RI.
Ia juga mengikuti Pelatihan Audit Investigasi BPKP Jawa Timur (2018), Diklat PKA BPSDM Jawa Timur (2021), Diklat Audit SPBE TATI-ITS (2022), hingga Diklat PKN 2024. Setiap pelatihan bukan hanya formalitas administratif, melainkan bagian dari komitmen untuk terus relevan dalam dinamika reformasi birokrasi dan digital governance.
Kepemimpinan di Dinas Perkim: Prestasi yang Berbasis Sistem
Pada 2023–2025, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Jombang. Di bawah kepemimpinannya, pendekatan teknis dan pengawasan berpadu dalam pelaksanaan program.
Capaian kinerjanya membuahkan penghargaan Kabupaten Terbaik Penanganan Kawasan Kumuh 2023 tingkat Provinsi Jawa Timur, serta Kabupaten Terbaik Pelaksanaan DAK Fisik Bidang Perumahan Permukiman 2024 tingkat nasional. Prestasi ini tidak lahir dari kerja instan, melainkan dari sistem perencanaan yang matang, pengendalian yang ketat, dan koordinasi lintas sektor yang solid.
Di bidang administrasi, tertib arsip dan tata kelola dokumen mengantarkan instansi yang dipimpinnya meraih Peringkat II Penilaian Arsip 2023–2024.
Mengemban Amanah Sosial: Membangun Keberdayaan
Sejak 11 September 2025 hingga kini, Agung Hariadi menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang. Amanah ini ia maknai sebagai fase pengabdian yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan.
Visinya adalah terwujudnya digitalisasi bantuan sosial di Kabupaten Jombang yang didukung pemutakhiran DTSEN yang semakin valid dan akurat. Dengan sistem data yang kuat, bantuan sosial diharapkan tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.
Namun ia menegaskan bahwa bantuan sosial bukanlah solusi permanen. Ia mendorong model intervensi berbasis pemberdayaan ekonomi bagi penerima bansos berulang. Tujuannya jelas: mengubah ketergantungan menjadi kemandirian.
Baginya, “Bansos itu sementara, keberdayaan itu selamanya.”
Kehidupan Pribadi: Keseimbangan dalam Kesederhanaan
Di luar tanggung jawab birokrasi, Agung Hariadi adalah pribadi yang menjaga keseimbangan hidup. Ia memiliki hobi membaca—terutama buku-buku kepemimpinan, manajemen, tata kelola publik, serta refleksi spiritual. Membaca menjadi ruang perenungan dan sumber inspirasi dalam mengambil kebijakan.

Selain membaca, ia juga menekuni hobi memelihara burung perkutut. Bagi sebagian orang, hobi ini tampak sederhana. Namun baginya, merawat perkutut adalah latihan kesabaran, ketelatenan, dan kepekaan terhadap harmoni. Suara perkutut di pagi hari menghadirkan ketenangan batin di tengah dinamika tugas yang kompleks.
Dari perkutut, ia belajar bahwa sesuatu yang dirawat dengan sabar dan konsisten akan menghasilkan kualitas terbaik. Filosofi sederhana itu juga ia terapkan dalam memimpin organisasi.
Prinsip Hidup dan Gaya Kepemimpinan
Ia memegang teguh motto: “Berbuat baiklah kepada sesama dan biarkan alam semesta yang membalasnya.”
Prinsip ini menjadikannya pemimpin yang tidak reaktif, tidak gemar mencari sorotan, namun kuat dalam konsistensi. Ia percaya bahwa kebaikan dan integritas memiliki mekanisme balasan tersendiri dalam kehidupan.
Gaya kepemimpinannya tenang, berbasis data, namun tetap humanis. Ia mengedepankan komunikasi, kolaborasi, dan pembinaan. Baginya, keberhasilan organisasi adalah hasil kerja tim, bukan individu.
Penutup: Jejak Pengabdian yang Berkelanjutan
Perjalanan Agung Hariadi adalah refleksi tentang arti proses. Dari staf penagihan hingga kepala dinas, dari auditor hingga pengambil kebijakan sosial, setiap jenjang dilalui dengan kerja nyata dan integritas.
Ia meyakini bahwa jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral. Di Kabupaten Jombang, ia terus melangkah membawa visi besar: birokrasi yang akuntabel, bantuan sosial yang tepat sasaran, dan masyarakat yang berdaya secara ekonomi.
Dalam sunyi kerja dan ketekunan yang konsisten, ia menorehkan jejak pengabdian, bukan untuk dikenang sebagai sosok yang berkuasa, melainkan sebagai pelayan masyarakat yang setia pada nilai dan tanggung jawabnya.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














