banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Berita

BMKG: Malang Raya Cerah Terik, Warga Kota Batu Diimbau Waspadai Angin Kencang dan Kebakaran Lahan

×

BMKG: Malang Raya Cerah Terik, Warga Kota Batu Diimbau Waspadai Angin Kencang dan Kebakaran Lahan

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Kota Batu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda memprakirakan cuaca di sebagian besar wilayah Jawa Timur didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan pada Sabtu (17/10/2026). Masyarakat di wilayah Malang Raya, termasuk Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang, diimbau mewaspadai suhu terik serta angin kencang yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Berdasarkan informasi prakiraan cuaca tersebut, suhu udara di wilayah Malang Raya diperkirakan berkisar antara 17 hingga 37 derajat Celsius, dengan kelembapan udara sekitar 29–98 persen. Meski Kota Batu memiliki suhu yang relatif lebih sejuk dibandingkan sejumlah wilayah sekitarnya, kondisi siang hari tetap berpotensi terasa terik dengan peluang hujan yang rendah.

Angin Kencang dan Cuaca Kering Perlu Diwaspadai

Angin dari arah timur hingga tenggara dilaporkan berpotensi bertiup dengan kecepatan mencapai 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Kombinasi angin kencang, paparan sinar matahari, dan kondisi lahan yang mengering dapat meningkatkan risiko penyebaran api apabila terjadi kebakaran.

Baca Juga :  Lepas Kontingen Jambore Nasional XII 2026, Danramil Pandaan: Pramuka Bentuk Generasi Tangguh dan Berkarakter

Wilayah dengan lahan pertanian, perkebunan, semak belukar, serta kawasan yang memiliki vegetasi kering perlu mendapat perhatian lebih. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat meluas apabila tertiup angin kencang.

Petani dan masyarakat di wilayah Bumiaji, Junrejo, Pujon, serta kawasan lain di Malang Raya diimbau tidak membakar sisa panen maupun membuka lahan dengan cara dibakar.

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Masyarakat

Untuk mengantisipasi dampak cuaca, masyarakat diimbau memperhatikan sejumlah hal berikut.

Pertama, berhati-hati saat berkendara. Pengguna jalan yang melintasi jalur perbukitan Malang–Batu, termasuk kawasan Payung, Songgoriti, dan Punten, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kabut yang mengurangi jarak pandang, terutama pada pagi dan malam hari.

Baca Juga :  Babinsa Winong Dampingi Penyaluran BLT-DD kepada 11 Keluarga Penerima Manfaat

Kedua, mencegah kebakaran lahan. Hindari membakar sampah, sisa panen, atau semak kering secara terbuka. Pastikan sumber api benar-benar padam dan jangan membuang puntung rokok sembarangan di kawasan yang kering.

Ketiga, memeriksa keamanan lingkungan. Masyarakat, khususnya pemilik gudang pertanian dan bangunan penyimpanan hasil panen, disarankan memeriksa instalasi listrik serta memastikan tidak ada sumber panas yang berpotensi memicu kebakaran.

Keempat, menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan. Warga dan wisatawan disarankan menggunakan pelindung dari sinar matahari, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta membawa pakaian hangat untuk mengantisipasi suhu yang lebih dingin pada malam hari di kawasan dataran tinggi.

Baca Juga :  Gerak Cepat Babinsa Puspo Tangani Dampak Longsor Akibat Cuaca Ekstrem

Masyarakat Diminta Memantau Informasi Resmi

BMKG mengingatkan bahwa prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat diminta terus memantau informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi InfoBMKG.

Warga juga diharapkan tidak mudah mempercayai informasi cuaca yang belum terverifikasi serta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran lahan atau kondisi yang berpotensi membahayakan lingkungan.

Kewaspadaan bersama menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko bencana, menjaga keselamatan masyarakat, dan melindungi kawasan pertanian maupun lingkungan di Malang Raya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa