SeputarDesa.com, Brebes – Di tengah musim kemarau yang disertai dampak El Niño, para petani di wilayah Daerah Irigasi (DI) Jengkelok mulai menikmati hasil panen padi pada musim tanam ketiga (MT III). Kondisi ini membawa kabar menggembirakan bagi petani di tengah tantangan keterbatasan air untuk mengairi lahan persawahan.
Daerah Irigasi Jengkelok memiliki hamparan lahan seluas 6.279 hektare. Pada musim tanam ketiga tahun ini, sebagian lahan persawahan masih dapat ditanami dan kini mulai memasuki masa panen.
Daerah irigasi yang berada di wilayah ujung Provinsi Jawa Tengah tersebut memperoleh suplai air dari Bendungan Kuningan, selain mengandalkan pasokan dari Waduk Malahayu. Dukungan sumber air tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian saat curah hujan mulai berkurang.
Di tengah kondisi kemarau, sekitar 40 persen dari hamparan lahan disebut masih dapat ditanami. Kondisi ini memberikan harapan bagi petani untuk tetap berproduksi sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
Usman, Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Bhakti Tani Kemantren Rungkang, Daerah Irigasi Jengkelok, turut menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran pengairan bagi lahan pertanian di wilayah tersebut.
Sementara itu, Sutara, salah satu petani setempat, mengatakan bahwa sebagian petani di wilayahnya masih dapat mengairi lahan persawahan meskipun menghadapi musim kemarau dan dampak El Niño.
“Alhamdulillah, sebagian petani di wilayah kami masih bisa mendapatkan air untuk mengairi sawah. Kami juga sering berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya petugas pengairan, agar kebutuhan air untuk tanaman padi tetap terpenuhi,” ujar Sutara.
Menurutnya, koordinasi antara petani dan pihak pengelola pengairan menjadi hal penting untuk menjaga ketersediaan air, terutama ketika kebutuhan air untuk pertanian harus diatur di tengah keterbatasan pasokan.
Mulainya panen musim tanam ketiga ini menjadi angin segar bagi petani di kawasan DI Jengkelok. Di tengah tantangan perubahan cuaca dan kemarau, ketersediaan air irigasi serta koordinasi yang baik diharapkan dapat membantu menjaga produktivitas pertanian.
Pengelolaan distribusi air yang optimal dan komunikasi berkelanjutan antara petani, GP3A, serta pihak pengairan diharapkan mampu mendukung keberlangsungan musim tanam dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah Brebes dan sekitarnya.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















