banner 970x250
Berita

Negara yang Hadir Tanpa Berisik lewat Kerja Nyata BAZNAS

×

Negara yang Hadir Tanpa Berisik lewat Kerja Nyata BAZNAS

Sebarkan artikel ini

Seputadesa.com, Sidoarjo – Pagi tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Ia datang dengan ketepatan yang nyaris kejam, menyinari rumah-rumah yang penuh rencana maupun yang sudah kehilangan harapan. Di sebuah sudut Kabupaten Sidoarjo, pagi itu menyentuh tubuh seorang lelaki yang duduk diam di kursi roda, memandangi halaman rumahnya yang sempit. Tidak ada yang istimewa dari pemandangan itu—justru di situlah letak tragedinya.

Beberapa bulan sebelumnya, tubuh ini masih tegak. Seragam Linmas masih melekat dengan rasa bangga yang sederhana: menjaga lingkungan, menjadi bagian kecil dari keteraturan sosial. Lalu satu serangan stroke datang, tanpa negosiasi, tanpa memberi waktu bagi mental untuk menyesuaikan diri. Separuh tubuh melemah. Separuh hidup berubah.

Kejatuhan semacam ini jarang mendapat perhatian publik. Ia tidak tercatat sebagai bencana nasional, tidak memunculkan donasi besar-besaran, dan tidak masuk linimasa media. Namun justru di sinilah wajah kemiskinan paling jujur bekerja: kemiskinan yang lahir dari peristiwa tunggal, bukan dari kemalasan struktural.

Dari titik inilah kisah zakat seharusnya dibaca—bukan sebagai cerita heroik, melainkan sebagai respon sunyi terhadap luka-luka kecil yang jika dibiarkan, akan menjadi patahan sosial.

 KEMISKINAN YANG TIDAK BERTERIAK DAN ZAKAT SEBAGAI JAWABAN YANG TENANG

Kemiskinan tidak selalu datang dengan suara keras. Ia lebih sering hadir sebagai keputusan-keputusan kecil yang dipaksakan oleh keadaan: menunda membeli obat, membatalkan pembayaran sekolah, memilih diam saat sakit karena biaya terlalu mahal. Ini adalah kemiskinan yang bekerja secara psikologis, menggerogoti martabat sebelum menghabiskan materi.

Baca Juga  Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi Dimakamkan Hari Ini di Gontor

Dalam konteks ini, zakat sering disalahpahami. Ia dianggap sekadar amal—sebuah tindakan moral individual, bukan mekanisme sosial. Padahal, zakat adalah instrumen distribusi kekayaan yang secara konseptual jauh lebih modern daripada yang kita akui. Ia bekerja bukan dengan belas kasihan, tetapi dengan mandat.

BAZNAS hadir di titik ini: mengelola zakat bukan sebagai emosi, melainkan sebagai tanggung jawab publik. Ketika kursi roda diserahkan kepada lelaki itu, tidak ada janji perubahan hidup. Tidak ada retorika besar. Yang ada hanya satu hal: kemampuan untuk kembali bergerak.

Dan sering kali, kemampuan untuk bergerak—secara harfiah—adalah perbedaan antara bertahan dan menyerah.

Zakat tidak menyelesaikan kemiskinan. Tetapi ia mencegah kejatuhan yang lebih dalam. Dalam logika sosial, ini bukan hal kecil. Ini adalah bentuk intervensi paling rasional: menghentikan kerusakan sebelum biaya sosialnya membengkak.

Tidak ada dilema yang lebih sunyi dan kejam daripada dilema pendidikan bagi keluarga miskin. Pendidikan selalu dipuji sebagai jalan keluar dari kemiskinan, tetapi jarang disadari bahwa pendidikan sendiri membutuhkan modal untuk tetap hidup.

Baca Juga  Fatayat NU Ranting Luwungbata Gelar Pemilihan Ketua Masa Khidmat 2025–2028

Banyak anak tidak berhenti sekolah karena tidak mampu berpikir. Mereka berhenti karena orang dewasa di sekitarnya kehabisan daya tahan. Biaya seragam, buku, transportasi, dan iuran kecil yang tampak sepele bagi kelas menengah—bagi keluarga rentan, semuanya adalah tekanan berlapis.

Di titik inilah zakat pendidikan bekerja secara strategis. Ia tidak menciptakan keajaiban instan. Ia hanya memastikan satu hal: anak tidak dikeluarkan dari sistem terlalu cepat. Dan dalam banyak kasus, itulah yang menentukan arah hidup seseorang.

Setiap bantuan pendidikan adalah penundaan terhadap kegagalan struktural. Ia memberi waktu—dan waktu adalah komoditas paling mahal bagi orang miskin.

Musholla kecil yang dibantu pembangunannya oleh zakat tidak akan mengubah statistik ekonomi nasional. Tetapi ia menjaga sesuatu yang jauh lebih rapuh: kohesi sosial. Di ruang sempit itu, orang miskin tidak sendirian. Mereka memiliki tempat untuk berkumpul, berbagi, dan mengingat bahwa mereka masih bagian dari masyarakat.

Negara sering dibayangkan hadir dalam bentuk gedung megah dan regulasi tebal. Padahal, kehadiran negara yang paling bermakna justru terjadi ketika ia tidak terasa sebagai kekuasaan. Melalui BAZNAS, zakat menjadi medium kehadiran negara di level mikro—tempat APBN terlalu besar untuk menjangkau secara personal.

Baca Juga  Pemerintah Desa Podoroto Mulai Realisasikan Pembangunan Paving dan Kanopi di Gubuk Tani

Ini bukan romantisasi filantropi. Ini adalah praktik pemerintahan sosial dalam skala manusia.

 DIKUATKAN DARI HAL-HAL KECIL

Indonesia tidak runtuh oleh satu krisis besar. Ia melemah oleh ribuan luka kecil yang dibiarkan. Zakat bekerja pada luka-luka itu—satu per satu, tanpa gegap gempita.

Ia tidak menjanjikan dunia yang adil. Tetapi ia menolak dunia yang sepenuhnya kejam. Ia tidak membangun mimpi besar. Tetapi ia menjaga agar mimpi kecil tidak mati terlalu cepat.

Di kursi roda itu, hidup masih berat. Tetapi ia masih bergerak. Dan mungkin, di situlah makna paling jujur dari tema “Zakat Menguatkan Indonesia”: bukan karena ia menyelamatkan segalanya, melainkan karena ia cukup kuat untuk membuat seseorang bertahan satu hari lagi.

Dan dalam sejarah bangsa mana pun, ketahanan selalu dibangun dari hari-hari semacam itu.

– Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat
– Website resmi BAZNAS RI dan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo
– Rilis Berita BAZNAS Sidoarjo, 2 Juni 2025

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi