Oleh: Fahmi Fikroni, S.H.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Tuban
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa
Dalam dunia politik, kita sedang menghadapi krisis yang lebih berbahaya daripada sekadar kurangnya kompetensi, krisis adab. Ilmu pengetahuan, gelar akademik, dan kepiawaian retorika hari ini sering dipamerkan sebagai simbol kelayakan memimpin. Namun ironisnya, semakin tinggi ilmu yang diklaim, semakin kasar pula cara sebagian orang menyampaikannya. Di titik inilah harus ditegaskan tanpa kompromi: adab lebih tinggi daripada ilmu.
Politik tanpa akhlak adalah panggung kesombongan. Ia melahirkan para tokoh yang fasih berbicara, tetapi miskin kebijaksanaan, cepat mengkritik, tetapi lambat bercermin. Mereka merasa berhak menghakimi hanya karena baru memegang data, jabatan, atau “kebenaran versi sendiri”. Padahal, ilmu yang tidak dibingkai etika justru berubah menjadi alat pembenaran untuk merendahkan orang lain.
Yang lebih memprihatinkan, membuka aib lawan politik kini seolah menjadi strategi yang dianggap wajar, bahkan efektif. Privasi dilucuti, kesalahan masa lalu diungkit, dan kehormatan diinjak demi tepuk tangan sesaat. Ini bukan kecerdasan politik, ini kemunduran moral. Ketika aib dijadikan senjata, maka sesungguhnya yang hancur bukan hanya lawan, tetapi juga martabat ruang publik itu sendiri.
Padahal peringatan moralnya sangat jelas: siapa yang menutupi aib sesama, akan ditutupi aibnya oleh Tuhan. Sebaliknya, siapa yang gemar membuka aib orang lain, maka ia sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri. Dalam politik, hukum ini tidak hanya berlaku secara spiritual, tetapi juga sosial, kepercayaan publik runtuh, legitimasi hancur, dan reputasi perlahan terkikis.
Jangan keliru, adab bukan kelemahan, bukan pula penghalang untuk bersikap tegas. Justru adab adalah pembeda antara kritik yang membangun dan serangan yang merusak. Tanpa adab, kritik berubah menjadi caci maki; tanpa etika, perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, kita perlu berhenti mengagungkan kecerdasan yang tidak berkarakter. Politik membutuhkan lebih dari sekadar orang pintar, ia membutuhkan manusia yang tahu batas, menjaga lisan, dan menghormati sesama, bahkan terhadap lawan. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang paling cerdas, tetapi siapa yang tetap beradab ketika memiliki kuasa.
Jika adab terus dikalahkan oleh ambisi dan ilmu dijadikan tameng kesombongan, maka politik tidak lagi menjadi jalan pengabdian, melainkan arena saling membuka aib dan menjatuhkan. Dan saat itu terjadi, kita semua sedang menyaksikan runtuhnya martabat, bukan kemenangan siapa pun.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com
















