Oleh: Dian Ayunita Prasstumi, S.H., M.Kn
Anggota DPRD Kabupaten Jombang
Hari Buruh Internasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan momentum refleksi atas arah masa depan dunia kerja. Pada 1 Mei 2026 ini, kita dihadapkan pada perubahan besar yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin memengaruhi berbagai sektor pekerjaan.
Sebagai bagian dari lembaga legislatif di Kabupaten Jombang, saya melihat bahwa transformasi ini tidak bisa dihindari, tetapi harus dikelola dengan bijak. Prinsip “manusia di atas mesin” menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi tetap berada dalam kendali manusia dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan sebaliknya.
Namun kita juga harus jujur melihat kondisi di daerah. Pertanyaannya, sudahkah buruh di Jombang siap menghadapi era ini? Jawabannya: belum sepenuhnya siap, meskipun kita tidak dalam posisi tertinggal. Daya serap tenaga kerja di Jombang tergolong baik, namun tantangan kualitas sumber daya manusia masih nyata. Masih banyak tenaga kerja dengan latar belakang pendidikan menengah yang belum sepenuhnya dibekali keterampilan digital dan kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Di sisi lain, struktur pekerjaan yang masih didominasi sektor konvensional membuat sebagian pekerja rentan terdampak otomatisasi. Kasus pemutusan hubungan kerja juga menjadi pengingat bahwa ketahanan tenaga kerja kita belum sepenuhnya kuat. Jika kondisi ini tidak segera direspons, maka perkembangan AI berpotensi memperlebar kesenjangan dan menekan kelompok pekerja yang kurang siap.
Karena itu, kesiapan tidak bisa dimaknai sekadar tersedianya lapangan kerja, tetapi juga kemampuan untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan. Peningkatan keterampilan (upskilling), pelatihan ulang (reskilling), serta penguatan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, dan sektor usaha harus bergerak bersama agar transformasi ini tidak meninggalkan masyarakat.
Refleksi Hari Buruh tahun ini juga menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menciptakan ketimpangan baru. Setiap pekerja harus memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan beradaptasi. Akses terhadap pelatihan dan pendidikan yang relevan harus diperluas sebagai bentuk keadilan sosial di era digital.
Pada akhirnya, masa depan dunia kerja bukan tentang manusia melawan mesin, melainkan tentang bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan. Teknologi akan terus berkembang, tetapi manusia harus tetap menjadi penentu arah. Dengan semangat kolaborasi dan keberpihakan pada pekerja, kita dapat membangun dunia kerja yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Hari Buruh 2026 adalah saat yang tepat untuk menegaskan kembali komitmen tersebut: bahwa di tengah kemajuan teknologi, manusia harus tetap menjadi pusat dari setiap kebijakan dan inovasi dan bahwa buruh Jombang harus dipersiapkan, bukan dibiarkan menghadapi perubahan sendirian.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com
















