banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Opini

1 Juni: Pancasila Bukan Sekadar Warisan, Tetapi Arah Bangsa

×

1 Juni: Pancasila Bukan Sekadar Warisan, Tetapi Arah Bangsa

Sebarkan artikel ini

Oleh: Triana Handayani, S.T.
Anggota DPRD Kabupaten Grobogan
Fraksi PDI Perjuangan

 

Tanggal 1 Juni merupakan salah satu momentum paling penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, pemerintah menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Penetapan tersebut merujuk pada peristiwa bersejarah ketika Ir. Soekarno menyampaikan pidato monumental di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai pidato “Lahirnya Pancasila”.

Dalam pidato tersebut, Bung Karno memperkenalkan lima prinsip dasar yang menjadi fondasi bagi negara Indonesia merdeka. Gagasan itu lahir dari pergulatan pemikiran yang mendalam, hasil perenungan terhadap realitas bangsa yang majemuk, sekaligus cita-cita besar tentang masa depan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Pancasila tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari kesadaran bahwa Indonesia terdiri atas beragam suku, agama, budaya, bahasa, dan golongan yang harus dipersatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Karena itulah, Pancasila menjadi titik temu sekaligus perekat yang menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh hingga hari ini.

Baca Juga :  Iduladha sebagai Momentum Pengabdian dan Kepedulian Sosial untuk Kemajuan Daerah

Sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, saya memandang Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, melainkan juga jiwa dan arah perjuangan bangsa. PDI Perjuangan sejak awal menempatkan ajaran Bung Karno sebagai landasan perjuangan politik kebangsaan, termasuk menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan bangsa ini terletak pada semangat gotong royong, persatuan, dan keberpihakan kepada rakyat. Nilai-nilai tersebut merupakan inti dari Pancasila yang selalu diperjuangkan oleh Bung Karno dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Politik, dalam pandangan tersebut, bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan alat perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun, tantangan terhadap Pancasila pada era sekarang justru semakin kompleks. Arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, polarisasi politik, penyebaran ujaran kebencian, intoleransi, hingga kesenjangan sosial menjadi ujian nyata bagi kokohnya nilai-nilai kebangsaan.

Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat sering kali lebih mudah terpecah oleh perbedaan dibanding dipersatukan oleh persamaan. Politik identitas masih kerap digunakan untuk membangun sekat-sekat sosial. Sementara itu, ketimpangan ekonomi dan akses terhadap pelayanan publik yang belum merata menunjukkan bahwa cita-cita keadilan sosial masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.

Baca Juga :  Opini Hukum Dr. Marlin, S.H., M.H.: Ketidakpatuhan Upah Minimum pada Dosen Perguruan Tinggi Swasta

Momentum Hari Lahir Pancasila harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan, dibacakan dalam upacara, atau dipasang di dinding kantor dan ruang kelas. Nilai-nilai Pancasila harus hidup dalam tindakan nyata, dalam kebijakan publik, dalam sistem pendidikan, dalam pelayanan pemerintahan, hingga dalam perilaku sehari-hari masyarakat.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap keyakinan dan toleransi antarumat beragama. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan pentingnya menghargai martabat setiap manusia. Sila Persatuan Indonesia menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Sila Kerakyatan mengajarkan musyawarah dan demokrasi yang beradab. Sedangkan Sila Keadilan Sosial menegaskan bahwa pembangunan harus menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, bukan hanya segelintir kelompok.

Baca Juga :  Peran Pekerja dalam Mewujudkan Hubungan Kerja Industrial yang Harmonis, Aman, dan Produktif

Bagi generasi muda, Pancasila juga harus menjadi kompas moral dalam menghadapi perubahan zaman. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya pengaruh budaya global, bangsa ini memerlukan karakter yang kuat agar tidak kehilangan jati diri. Pancasila adalah identitas bangsa yang membedakan Indonesia dari negara lain.

Pada akhirnya, memperingati 1 Juni bukan sekadar mengenang sejarah lahirnya dasar negara. Lebih dari itu, Hari Lahir Pancasila merupakan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan, memperkuat persatuan, serta memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri bangsa tetap menjadi arah dalam setiap langkah pembangunan nasional.

Pancasila bukan sekadar warisan masa lalu. Pancasila adalah panduan masa kini dan arah masa depan bangsa. Selama nilai-nilainya terus dijaga dan diamalkan, Indonesia akan tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang berdaulat, bersatu, dan berkeadilan sosial.(**)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi