Oleh: Dr. Yohanes Winarto, S.H., M.H.
Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Jawa Tengah
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah tonggak sejarah penting: lahirnya Pancasila sebagai dasar negara dan fondasi kehidupan kebangsaan. Namun sesungguhnya, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan upacara dan slogan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila tetap hidup dalam tindakan, kebijakan, dan cara berpikir seluruh anak bangsa.
Tahun 2026 menghadirkan tantangan yang semakin kompleks bagi Indonesia. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat telah mengubah cara masyarakat berinteraksi, berpolitik, bahkan memandang identitas kebangsaan. Ruang digital sering kali dipenuhi ujaran kebencian, provokasi, dan sikap saling meniadakan. Dalam situasi seperti ini, Pancasila harus hadir bukan hanya sebagai simbol negara, tetapi sebagai pedoman moral yang mampu menjaga persatuan nasional.
Bangsa Indonesia dibangun di atas keberagaman. Perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan politik merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah bangsa ini. Para pendiri negara telah meletakkan Pancasila sebagai titik temu yang mempersatukan seluruh elemen bangsa. Karena itu, menjaga Pancasila berarti menjaga Indonesia tetap utuh.
Kita patut menyadari bahwa ancaman terhadap Pancasila saat ini tidak selalu datang dalam bentuk fisik atau gerakan terbuka. Ancaman justru sering muncul secara perlahan melalui lunturnya semangat gotong royong, meningkatnya individualisme, serta sikap intoleran yang berkembang di tengah masyarakat. Ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan bersama, maka sesungguhnya nilai Pancasila sedang diuji.
Sebagai negara demokrasi, Indonesia tentu memberikan ruang bagi perbedaan pendapat. Akan tetapi, demokrasi yang sehat harus tetap berpijak pada etika, penghormatan terhadap hukum, dan kepentingan rakyat. Demokrasi tanpa nilai hanya akan melahirkan perpecahan. Di sinilah Pancasila berperan sebagai penuntun agar kehidupan politik nasional tetap berjalan dalam koridor persatuan dan keadilan sosial.
Generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai Pancasila. Anak-anak muda Indonesia hari ini hidup di era global yang serba terbuka. Mereka memiliki akses luas terhadap berbagai informasi dan budaya dunia. Namun di tengah keterbukaan tersebut, karakter kebangsaan tidak boleh hilang. Pendidikan Pancasila harus mampu ditanamkan bukan sekadar melalui hafalan, tetapi melalui keteladanan dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari perjuangan ideologis bangsa, Pancasila harus terus menjadi jiwa dalam pembangunan nasional. Kemajuan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan modernisasi bangsa harus berjalan seiring dengan penguatan nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan solidaritas kebangsaan. Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang maju secara teknologi tetapi kehilangan arah moral.
Momentum Hari Lahir Pancasila 2026 harus menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia hanya dapat dibangun melalui persatuan. Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan, bahkan berbeda kepentingan, tetapi kita tetap satu tanah air, satu bangsa, dan satu cita-cita.
Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, melainkan energi pemersatu yang harus terus dijaga. Selama nilai-nilai Pancasila tetap hidup di hati rakyat Indonesia, selama itu pula bangsa ini akan mampu berdiri kokoh menghadapi perubahan zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















