Oleh: Dr. H. Miyadi, S.Ag., M.M.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban
Ketua DPC PKB Tuban
Momentum ibadah haji dan qurban selalu menghadirkan pelajaran besar bagi kehidupan manusia, bukan hanya dalam hubungan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga dalam membangun kehidupan sosial dan kebangsaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam kedua ibadah tersebut sesungguhnya sangat relevan untuk diterapkan dalam dunia politik yang saat ini menghadapi banyak tantangan, mulai dari menurunnya kepercayaan publik, meningkatnya polarisasi masyarakat, hingga munculnya sikap individualisme dalam kepemimpinan.
Haji mengajarkan bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Saat mengenakan pakaian ihram, tidak ada perbedaan antara pejabat, rakyat biasa, orang kaya, maupun orang miskin. Semua melebur dalam kesederhanaan dan persaudaraan. Nilai kesetaraan ini seharusnya menjadi fondasi penting dalam praktik politik dan pemerintahan. Kekuasaan tidak boleh menciptakan jarak antara pemimpin dan masyarakat, melainkan harus menjadi sarana untuk melayani serta memperjuangkan kepentingan rakyat.
Dalam kehidupan politik, sering kali jabatan dipandang sebagai simbol kehormatan dan kekuatan. Akibatnya, tidak sedikit yang rela melakukan berbagai cara demi memperoleh maupun mempertahankan kekuasaan. Padahal, jika meneladani makna ibadah haji, seorang pemimpin sejatinya dituntut untuk memiliki kerendahan hati serta kesadaran bahwa amanah yang dimiliki akan dipertanggungjawabkan, baik di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah SWT.
Ibadah haji juga mengajarkan pentingnya persatuan. Jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang berkumpul dalam satu tujuan yang sama. Semangat ini menjadi pesan kuat bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling bermusuhan. Dalam konteks politik Indonesia yang penuh keberagaman, nilai persatuan harus menjadi prioritas utama. Politik jangan sampai memecah belah masyarakat hanya karena perbedaan pilihan dan kepentingan sesaat.
Selain haji, ibadah qurban juga memiliki pesan moral yang sangat mendalam bagi dunia politik. Qurban mengajarkan tentang keikhlasan dan pengorbanan. Nabi Ibrahim AS memberikan teladan bahwa kepatuhan dan pengabdian membutuhkan ketulusan hati. Dalam kehidupan berbangsa, nilai pengorbanan ini sangat penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Jabatan bukan tempat mencari keuntungan pribadi, melainkan ruang pengabdian untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
Pemimpin yang memiliki semangat qurban akan lebih mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan kelompoknya sendiri. Ia tidak hanya hadir saat membutuhkan dukungan politik, tetapi juga hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Politik yang dilandasi semangat pengorbanan akan melahirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan umum, terutama bagi masyarakat kecil yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Makna berbagi dalam qurban juga menjadi refleksi penting di tengah kondisi sosial yang masih menghadapi persoalan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Pembagian daging qurban mengajarkan bahwa kebahagiaan harus dirasakan bersama. Dalam konteks pemerintahan, semangat berbagi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang adil, pemerataan pembangunan, peningkatan pelayanan publik, serta perhatian nyata terhadap kesejahteraan masyarakat.
Saat ini, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ketulusan hati. Rakyat ingin melihat politik yang lebih manusiawi, yang mampu menghadirkan rasa aman, keadilan, dan harapan. Oleh karena itu, nilai kepedulian yang diajarkan dalam ibadah qurban perlu menjadi semangat dalam setiap pengambilan kebijakan publik.
Di sisi lain, ibadah qurban juga mengingatkan bahwa tidak semua hal harus diukur dengan keuntungan materi maupun kepentingan politik jangka pendek. Ada kalanya seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan yang mungkin berat, tetapi penting demi masa depan masyarakat yang lebih baik. Keberanian untuk berkorban demi kepentingan rakyat merupakan bentuk nyata dari kepemimpinan yang berintegritas.
Dalam era demokrasi modern, etika politik menjadi sesuatu yang sangat penting. Masyarakat semakin kritis dalam menilai perilaku para pemimpin. Oleh sebab itu, politik harus dibangun di atas nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut sebenarnya telah diajarkan melalui ibadah haji dan qurban, yang menempatkan moralitas sebagai inti dari pengabdian dan kepemimpinan.
Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai religius dan gotong royong, Indonesia memiliki modal besar untuk membangun politik yang lebih sehat dan bermartabat. Semangat keikhlasan dalam haji serta semangat berbagi dalam qurban seharusnya mampu menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa, terutama para pemimpin, untuk menghadirkan politik yang membawa kesejahteraan dan persatuan.
Pada akhirnya, ibadah haji dan qurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga pengingat bahwa kehidupan harus dijalani dengan keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama. Ketika nilai-nilai tersebut diterapkan dalam dunia politik, maka kekuasaan tidak lagi menjadi alat kepentingan pribadi, melainkan jalan pengabdian untuk menciptakan masyarakat yang adil, harmonis, dan sejahtera.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















