banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
BeritaDaerah

Adzan Pitu, Tradisi Unik Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Sejak Era Sunan Gunung Jati

×

Adzan Pitu, Tradisi Unik Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Sejak Era Sunan Gunung Jati

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Cirebon – Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di kawasan Keraton Kasepuhan, Cirebon, menyimpan tradisi langka yang masih terus dilestarikan hingga kini, yakni Tradisi Adzan Pitu. Tradisi ini merupakan seruan azan yang dikumandangkan secara serentak oleh tujuh orang muazin setiap pelaksanaan salat Jumat.

Tradisi Adzan Pitu hanya dilakukan pada azan pertama menjelang salat Jumat. Ketujuh muazin berdiri berdampingan di area masjid, mengenakan jubah seragam berwarna putih atau hijau, lalu melantunkan azan secara bersamaan dengan suara yang menggema khas dan penuh khidmat.

Penggiat Sejarah Cirebon, Ketua Umum Forum Komunikasi Pencinta Sejarah, Seni dan Budaya Cerbon (Forko Pancer), Dido Gomes mengatakan, tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, namun juga menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang kuat.

Baca Juga :  Bupati Kuningan: Guru Madrasah Harus Inspiratif di Era Digital

“Adzan Pitu adalah tradisi yang lahir dari situasi luar biasa pada masa Sunan Gunung Jati. Ketika wabah penyakit melanda sekitar tahun 1480-an, azan yang dikumandangkan tujuh orang dipercaya sebagai ikhtiar spiritual untuk menolak bala,” ujar Mama Dido, panggilan akrabnya, Selasa, 28 April 2026.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bagian penting dari sejarah dakwah Islam di Cirebon, yang selalu menyatukan unsur agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat.

“Dalam tradisi Cirebon, azan ini bukan hanya panggilan salat, tetapi juga simbol perlindungan dan kekuatan doa bersama. Dulu diyakini mampu melumpuhkan energi negatif dan kekuatan magis yang mengganggu masyarakat,” katanya.

Baca Juga :  Ekonomi Kabupaten Cirebon Tumbuh 6,23 Persen, Pemkab Jajaki Kerja Sama dengan China

Mama Dido menambahkan, muazin yang melaksanakan Adzan Pitu bukan orang sembarangan. Mereka merupakan bagian dari kaum masjid yang telah ditunjuk khusus dan memahami tata cara serta nilai sakral tradisi tersebut.

“Tujuh muazin ini adalah orang pilihan, karena Adzan Pitu bukan sekadar lantunan suara. Ada aturan, ada adab, dan ada tanggung jawab menjaga tradisi warisan para leluhur Cirebon,” ucapnya.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa sendiri dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Cirebon yang menjadi pusat penyebaran Islam pada masa Kesultanan Cirebon. Hingga kini, masjid tersebut tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi religi dan budaya yang menarik perhatian masyarakat luas.

Baca Juga :  Anyaman Bambu Pagar Gunung Cirebon, Warisan Pasca Kemerdekaan yang Terus Menghidupi Ratusan Keluarga

Keunikan Tradisi Adzan Pitu bahkan telah mendapat pengakuan resmi dari pemerintah. Tradisi ini telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Mama Dido menilai pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa Cirebon memiliki kekayaan tradisi yang patut dijaga bersama.

“Pengakuan WBTB ini bukan akhir, justru awal agar generasi muda lebih peduli. Adzan Pitu adalah identitas Cirebon, warisan yang harus terus hidup, bukan hanya dikenang,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa