SeputarDesa.com, Purworejo – Kerusakan jembatan gantung yang menghubungkan sejumlah wilayah di Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, hingga kini masih menjadi keluhan masyarakat. Jembatan yang berada di wilayah Desa Tanjunganom tersebut diketahui telah rusak total sejak Desember 2025 akibat putusnya konstruksi utama dan sampai sekarang belum mendapatkan perbaikan.
Kepala Desa Tanjunganom, Kasidi, mengatakan jembatan tersebut memiliki peran penting sebagai akses penghubung antarwilayah dan jalur utama aktivitas masyarakat sehari-hari. Selain menghubungkan Desa Tanjunganom dengan Desa Mangunjayan dan wilayah sekitar, jembatan itu juga menjadi jalur tercepat warga menuju fasilitas pendidikan, pertanian, serta pusat perekonomian.
Menurutnya, sebelum mengalami kerusakan, jembatan gantung tersebut setiap hari digunakan oleh pelajar yang bersekolah di Desa Wareng, baik tingkat MI, SMP, maupun SMK. Bahkan sebagian warga yang beraktivitas pendidikan ke wilayah Grabag dan Kutoarjo juga memanfaatkan akses tersebut untuk mempersingkat perjalanan.
“Jembatan ini sangat vital bagi masyarakat. Anak-anak sekolah setiap hari melintas di sini. Kalau jembatan tidak ada, mereka harus memutar jauh untuk menuju sekolah maupun tempat aktivitas lainnya,” ujar Kasidi saat ditemui Kamis (21/05/2026).
Tidak hanya berdampak pada sektor pendidikan, kerusakan jembatan juga memengaruhi aktivitas pertanian warga. Banyak petani yang memiliki sawah di seberang sungai kini kesulitan mengakses lahan mereka sehingga aktivitas pengolahan maupun distribusi hasil pertanian menjadi terhambat.
Selain itu, roda perekonomian masyarakat ikut terdampak. Warga yang sebagian bekerja sebagai pedagang mengaku kesulitan menuju pasar tradisional terdekat seperti Pasar Sidomulyo maupun Pasar Mundusari di Desa Wareng untuk memenuhi kebutuhan pokok maupun berdagang.
Kasidi menjelaskan bahwa pemerintah desa sebenarnya telah beberapa kali mengusulkan pembangunan kembali jembatan tersebut kepada sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Pertanian, BPBD Kabupaten Purworejo, hingga Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut pembangunan.
“Sudah kami usulkan beberapa bulan terakhir melalui dinas terkait maupun BBWS Serayu Opak, tetapi sampai hari ini belum ada realisasi. Kemungkinan masih terkendala anggaran atau proses lainnya,” jelasnya.
Persoalan tersebut juga pernah disampaikan kepada anggota DPRD yang sempat meninjau lokasi, yakni Nur Hidayat. Namun pemerintah daerah maupun instansi terkait hingga kini belum memberikan kepastian mengenai rencana pembangunan.
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah dan kebijakan efisiensi belanja daerah, Pemerintah Desa Tanjunganom tetap berharap pembangunan jembatan dapat segera direalisasikan. Warga setempat setidaknya berharap dibangun kembali jembatan gantung agar akses masyarakat dapat kembali normal.
Kasidi menambahkan, kondisi saat ini membuat sebagian warga terpaksa menyeberangi sungai untuk mempersingkat perjalanan. Hal tersebut dinilai berisiko dan membahayakan keselamatan masyarakat, terutama saat debit air meningkat pada musim hujan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah maupun wakil rakyat agar pembangunan jembatan ini bisa segera terlaksana. Karena ini benar-benar menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat,” pungkasnya.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















