SeputarDesa.com, Kuningan – Sebuah pernikahan unik di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, mendadak menjadi perhatian publik dan viral di berbagai platform media sosial. Momen tersebut menarik perhatian karena seorang suami mendapatkan hadiah yang tidak biasa dari istri pertamanya, yakni seorang istri kedua yang dipilih dan dicarikan langsung oleh sang istri.
Video prosesi pernikahan yang berlangsung di Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, ramai beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut terlihat seorang mempelai pria duduk berdampingan dengan dua perempuan yang menjadi istrinya. Suasana pelaminan tampak hangat, penuh kebahagiaan, dan jauh dari kesan perselisihan yang kerap dikaitkan dengan praktik poligami.
Belakangan diketahui bahwa mempelai pria dalam video tersebut adalah Dede Nadif Ar-Rasyid (40), pimpinan Pondok Pesantren Roudlotul Ummah. Ia menikahi Syifa Sri Wahyuni (20), seorang santri sekaligus alumni pesantren yang dipimpinnya.
Pernikahan tersebut digelar pada 6 Juni 2026, bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-40 Dede sekaligus hari jadi pernikahannya yang ke-16 bersama istri pertama, Wida Sayyidatul Anwar (34).
Pengurus Pondok Pesantren Roudlotul Ummah, Solehudin, menjelaskan bahwa pernikahan tersebut bukan keputusan yang diambil secara mendadak. Menurutnya, rencana tersebut telah dipersiapkan sejak tiga tahun lalu dan justru berasal dari keinginan istri pertama.
“Rencana ini sudah ada sejak tiga tahun yang lalu. Awalnya ditanggapi dingin oleh Kiai Dede, tetapi justru Ibu Wida yang memiliki keinginan kuat untuk mencarikan pendamping bagi suaminya agar semakin lengkap dalam berkeluarga dan berdakwah,” ujar Solehudin saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026)
Ia menuturkan, selama tiga tahun terakhir Wida aktif mencari sosok perempuan yang dinilai memiliki akhlak baik, pemahaman agama yang kuat, serta visi yang sejalan dengan keluarga dan pesantren.
“Istri pertama sudah mencari ke berbagai daerah, mulai dari Tasikmalaya, Ciamis hingga Cikijing. Bahkan sempat ada beberapa calon yang dipertimbangkan, namun belum berjodoh,” katanya.
Pencarian tersebut akhirnya berlabuh pada Syifa Sri Wahyuni, seorang alumni pesantren yang telah lama berkhidmat di lingkungan Pondok Pesantren Roudlotul Ummah.
“Akhirnya pilihannya jatuh kepada alumni pesantren sendiri. Pertimbangannya karena sudah satu visi, satu guru, satu pemahaman, dan memiliki tujuan dakwah yang sama. Itu yang membuat semuanya berjalan damai,” jelas Solehudin.
Sementara itu, Wida mengungkapkan bahwa niat mencarikan pendamping kedua bagi suaminya muncul sejak beberapa tahun lalu. Ia mengaku proses tersebut tidak berlangsung mudah karena harus melalui banyak pertimbangan dan komunikasi dengan seluruh pihak yang terlibat.
“Awalnya saya mencari ke Cikijing, ke Ciamis, ke mana-mana. Sampai akhirnya bertemu dengan Eneng dan ada banyak hal yang membuat saya yakin bahwa inilah jawaban dari pencarian selama ini,” ungkap Wida.
Menurutnya, seluruh proses berlangsung atas dasar kesepakatan bersama tanpa adanya tekanan ataupun paksaan.
“Semua berjalan dengan sukarela dan atas persetujuan semua pihak,” katanya.
Dede Nadif Ar-Rasyid juga mengungkapkan adanya sejumlah kebetulan menarik yang membuat momen pernikahannya terasa istimewa. Ia menilai angka enam memiliki makna tersendiri dalam perjalanan hidup keluarganya.
Pernikahan kedua tersebut berlangsung pada 6 Juni 2026 atau 06-06-2026, bertepatan dengan peringatan 16 tahun pernikahannya bersama Wida. Selain itu, pasangan tersebut telah dikaruniai enam orang anak.
Tak hanya itu, Syifa diketahui lahir pada tahun 2006, sedangkan Dede lahir pada tahun 1986. Deretan angka tersebut menurutnya menjadi rangkaian kebetulan yang penuh makna.
Solehudin menjelaskan bahwa tanggal pernikahan awalnya direncanakan pada 1 Juni 2026 yang bertepatan dengan ulang tahun Dede. Namun karena jadwal penyelenggara acara telah penuh, tanggal pelaksanaan akhirnya digeser menjadi 6 Juni.
“Ketika dipindahkan ke tanggal 6 Juni, ternyata bertepatan dengan hari jadi pernikahan beliau yang ke-16. Ibu Wida kemudian memaknai pernikahan kedua ini sebagai hadiah ulang tahun untuk suami sekaligus kado istimewa anniversary pernikahan mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tujuan utama pernikahan tersebut adalah untuk memperkuat perjuangan dakwah dan pengabdian di lingkungan pesantren.
“Tujuan utamanya adalah dakwah. Yang paling penting, istri pertama sudah benar-benar rela dan ikhlas. Beliau bahkan mencari calon pendamping itu selama tiga tahun. Jadi yang terlihat di pelaminan adalah kebahagiaan bersama, bukan kesedihan,” tegas Solehudin.
Meski menuai beragam tanggapan di media sosial, kisah pernikahan ini terus menjadi perbincangan publik. Sebagian warganet mengaku kagum dengan sikap istri pertama yang dinilai tulus dan ikhlas, sementara sebagian lainnya mempertanyakan keputusan tersebut dari berbagai sudut pandang.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, pernikahan pimpinan pesantren di Kuningan tersebut menjadi salah satu kisah paling viral di media sosial dalam beberapa hari terakhir karena dinilai menghadirkan cerita yang tidak biasa dan sarat makna bagi para pelakunya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















