banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Opini

Tahun Baru Hijriah 1448 H: Menjaga Harmoni Tradisi, Agama, dan Demokrasi

×

Tahun Baru Hijriah 1448 H: Menjaga Harmoni Tradisi, Agama, dan Demokrasi

Sebarkan artikel ini
Foto : H. Sholikin, S.Pd.I., Anggota DPRD Kabupaten Grobogan.

Oleh: H. Sholikin, S.Pd.I
Anggota DPRD  Kabupaten Grobogan
Partai NasDem

 

Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar pergantian angka dan waktu. Tahun Baru Islam 1448 Hijriah mengajak umat Islam untuk merenungkan perjalanan hidup, mengevaluasi apa yang telah dilakukan, dan menyusun langkah yang lebih baik untuk masa depan. Semangat hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam mengandung pesan tentang keberanian melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna, lebih berkeadaban, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Datangnya Tahun Baru Hijriah 1448 H sejatinya bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Islam. Momentum ini mengajak setiap muslim untuk melakukan muhasabah, yakni introspeksi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir. Sudahkah kualitas ibadah kita meningkat? Semakin dekatkah kita kepada Allah SWT? Ataukah justru kita mengalami kemunduran dalam menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam khazanah Islam, sering disampaikan pesan para ulama bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Sebaliknya, kerugian yang sesungguhnya bukan hanya kehilangan harta, jabatan, atau kedudukan, melainkan ketika usia terus bertambah tanpa diiringi peningkatan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh. Oleh karena itu, Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi cermin evaluasi bagi setiap pribadi untuk mengukur sejauh mana kualitas hubungan dengan Allah SWT, hubungan dengan sesama manusia, serta kontribusi nyata bagi kehidupan bermasyarakat.

Semangat muhasabah tersebut sejalan dengan makna hijrah yang menjadi tonggak penanggalan Islam. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perubahan sikap dan cara hidup menuju kondisi yang lebih baik. Hijrah berarti meninggalkan kebiasaan yang tidak produktif menuju perilaku yang lebih bermanfaat, meninggalkan sikap egois menuju kepedulian sosial, serta meninggalkan perpecahan menuju persatuan dan kebersamaan.

Baca Juga :  Satu Kebaikan di Tengah Politik Kepentingan

Nilai-nilai inilah yang relevan untuk terus dihidupkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang kita hadapi, semangat hijrah mengajarkan pentingnya membangun optimisme, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Dengan demikian, Tahun Baru Hijriah 1448 H tidak berhenti sebagai peringatan seremonial, tetapi menjadi momentum perubahan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan, hingga kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Bagi masyarakat Jawa, datangnya 1 Muharram memiliki makna yang lebih luas karena bertepatan dengan 1 Suro, awal tahun dalam kalender Jawa. Hubungan antara keduanya tidak lahir secara kebetulan. Pada masa Sultan Agung Mataram, kalender Jawa disusun dengan mengadopsi sistem perhitungan bulan dari kalender Hijriah tanpa menghilangkan identitas budaya Jawa yang telah lebih dahulu berkembang. Dari sinilah lahir sebuah warisan budaya yang menunjukkan bahwa agama dan tradisi dapat berjalan berdampingan dalam ruang yang saling menghormati.

Malam 1 Suro kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Ada yang mengisinya dengan doa bersama, pengajian, tirakatan, kegiatan sosial, atau ziarah ke makam tokoh dan leluhur. Di banyak daerah, tradisi tersebut bukan semata-mata ritual budaya, melainkan cara masyarakat menjaga hubungan dengan sejarah, nilai-nilai kebijaksanaan, serta ikatan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga :  Menjaga Demokrasi dengan Spirit Ramadhan

Dalam pandangan saya, keberadaan tradisi 1 Suro merupakan bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk memadukan nilai agama dengan kearifan lokal. Tradisi yang diwariskan para leluhur tidak harus dipertentangkan dengan ajaran agama, selama tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid dan syariat. Justru melalui tradisi yang baik, nilai-nilai agama dapat lebih membumi dan mudah diterima oleh masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, tantangan yang kita hadapi bukan hanya persoalan ekonomi dan pembangunan, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan antara identitas budaya, nilai keagamaan, dan kehidupan demokrasi. Ketiganya sering kali diposisikan seolah-olah saling berhadapan, padahal sesungguhnya dapat saling menguatkan.

Demokrasi, misalnya, tidak cukup hanya dimaknai sebagai mekanisme pemilihan pemimpin atau kebebasan berpendapat. Demokrasi membutuhkan etika, penghormatan terhadap perbedaan, serta kesadaran bahwa kepentingan bersama harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Nilai-nilai tersebut sejatinya juga diajarkan dalam agama dan diwariskan dalam berbagai tradisi luhur masyarakat Indonesia.

Karena itu, peringatan Tahun Baru Hijriah dan 1 Suro dapat menjadi pengingat bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan kemajuan fisik semata. Kita juga memerlukan kekuatan moral, kedewasaan budaya, dan komitmen demokrasi yang sehat. Masyarakat yang religius tanpa toleransi akan mudah terjebak dalam fanatisme. Masyarakat yang menjunjung demokrasi tanpa moralitas berisiko kehilangan arah. Begitu pula tradisi yang kehilangan nilai akan berubah menjadi sekadar seremoni tanpa makna.

Baca Juga :  Tahun Baru Hijriah 1448 H: Menjaga Jati Diri Bangsa di Tengah Arus Perubahan

Semangat hijrah pada Tahun Baru 1448 H hendaknya diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Hijrah dari sikap acuh menjadi peduli, dari perpecahan menuju persatuan, dari ujaran kebencian menuju dialog yang menyejukkan, dan dari kepentingan sempit menuju pengabdian untuk kemaslahatan masyarakat yang lebih luas. Itulah makna hijrah yang relevan bagi kehidupan berbangsa saat ini.

Sebagai masyarakat Grobogan yang dikenal menjunjung nilai gotong royong, toleransi, dan religiusitas, kita memiliki modal sosial yang kuat untuk menjaga harmoni tersebut. Tradisi kita rawat, agama kita amalkan dengan penuh kebijaksanaan, dan demokrasi kita jalankan dengan tanggung jawab. Dengan cara itulah warisan para pendahulu dapat terus hidup sekaligus menjawab tantangan masa depan.

Tahun Baru Hijriah 1448 H dan datangnya 1 Suro bukan hanya milik kalender, melainkan momentum untuk memperbarui cara berpikir, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan komitmen membangun Indonesia yang lebih adil, berbudaya, dan bermartabat. Di tengah dinamika kehidupan bangsa, semangat hijrah, kearifan tradisi, dan kedewasaan demokrasi harus terus berjalan beriringan sebagai fondasi dalam mewujudkan masyarakat yang maju, sejahtera, dan berakhlak mulia.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan Selamat Menyambut 1 Suro. Semoga momentum ini menjadi jalan bagi kita semua untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperkuat persatuan, serta meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

Penulis: Irwani UmamEditor: Irwani Umam

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi