Oleh: Dr. Yohanes Winarto, S.H., M.H
(Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Tengah & Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Jawa Tengah)
SeputarDesa.com – Sebagai wakil rakyat di DPRD Provinsi Jawa Tengah dan sebagai Ketua Badan Kehormatan DPRD, Dr. Yohanes Winarto melihat secara langsung bagaimana demokrasi kita hari ini mengalami distorsi yang memprihatinkan. Demokrasi yang seharusnya menjadi instrumen penguatan rakyat, justru digerogoti oleh pola-pola transaksional yang mengaburkan esensi kepemimpinan.
Dalam pandangan seorang legislator dari Fraksi PDI Perjuangan, demokrasi tidak boleh berubah menjadi mekanisme jual-beli pengaruh. Namun kenyataan sekarang menunjukkan bahwa demokrasi kita perlahan kehilangan kemurniannya. Banyak pemimpin yang tampil bukan karena gagasan atau rekam jejak, tetapi karena hasil transaksi, lobi, dan permainan kekuatan modal yang bekerja di balik layar.
Dr. Yohanes Winarto menyebut fenomena ini sebagai lahirnya pemimpin transaksional, pemimpin yang lebih mirip pemadam kebakaran: hanya bergerak ketika ada api, tetapi tidak pernah memperbaiki bangunan agar tidak terbakar lagi. Kepemimpinan semacam ini hanyut dalam arus survei, pencitraan manipulatif, dan respons jangka pendek, bukan dalam visi jangka panjang yang memerdekakan rakyat.
Dari kacamata beliau sebagai Ketua Badan Kehormatan, praktik-praktik seperti ini bukan hanya merusak kualitas demokrasi, tetapi juga merusak martabat lembaga legislatif. Ketika demokrasi dikendalikan oleh biaya politik yang mahal, maka yang terjadi adalah pemisahan antara rakyat dan pemimpinnya. Demokrasi tetap hidup secara prosedural, tetapi mati secara substansial.
Di tengah situasi ini, Dr. Yohanes Winarto menegaskan bahwa kita tidak bisa terus membiarkan demokrasi dikendalikan oleh bohir, oleh mereka yang menata panggung di belakang layar. Demokrasi harus kembali kepada rakyat, bukan kepada pemodal.
Karena itu, beliau melontarkan pertanyaan yang seharusnya menggugah seluruh bangsa:
Di manakah para pemuda Indonesia?
Sebagai anggota dewan yang setiap hari berhadapan dengan dinamika sosial-politik daerah, Dr. Yohanes Winarto melihat bahwa bangsa ini tidak kekurangan pemuda cerdas. Yang kurang adalah pemuda yang berani mengambil posisi. Terlalu banyak yang nyaman bersuara di media sosial, tetapi enggan turun menjadi pelaku perubahan. Padahal sejarah bangsa ini selalu digerakkan oleh keberanian pemuda, bukan oleh kenyamanan pemuda.
Melalui posisinya di Fraksi PDI Perjuangan dan Badan Kehormatan DPRD, Dr. Yohanes Winarto menyerukan bahwa pemuda harus kembali menjadi garda moral demokrasi. Pemuda harus menolak politik transaksional dan menuntut standar kepemimpinan yang lebih tinggi: kepemimpinan yang jujur, progresif, dan berpihak pada rakyat kecil.
Bangsa ini menunggu pemuda yang tidak hanya ingin mewarisi Indonesia, tetapi berani membentuk ulang masa depannya. Tanpa kehadiran pemuda yang tegas, demokrasi akan terus ditarik oleh kepentingan modal dan manipulasi persepsi.
Dan Dr. Yohanes Winarto mengajak: Bangkitlah, pemuda Indonesia. Jangan menjadi penonton. Jadilah penggerak.














