SeputarDesa.com, Jombang — Malam itu, sebagaimana biasanya, usai melaksanakan istighotsah Jam’iyyah Noto Laku di salah satu rumah warga Nahdlatul Ulama (NU) di Desa Pojokkulon, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sejumlah warga melanjutkan kegiatan dengan diskusi ringan.
Kali ini, pembahasan diarahkan pada tema yang menarik sekaligus penting untuk ditelusuri, yakni jejak tokoh pejuang NU dan kemerdekaan di wilayah Kesamben, salah satunya sosok KH Abdurrahman Pojok Kulon.
Diskusi tersebut tidak sekadar bernostalgia tentang masa lalu. Para peserta mencoba membuka kembali cerita yang selama ini berkembang di tengah masyarakat mengenai seorang ulama sepuh yang disebut memiliki hubungan dengan jaringan ulama besar Jombang, khususnya keluarga Pesantren Tebuireng, serta kisah mengenai kedekatannya dengan sejumlah tokoh pada masa awal Nahdlatul Ulama.
KH Abdurrahman, Ulama Sepuh dari PojokKulon
KH Abdurrahman dari Desa Pojokkulon dikenal dalam cerita keluarga dan masyarakat sebagai sosok ulama lokal sepuh yang bersahaja, berwibawa dan dihormati di kawasan Jombang utara Brantas.
Jejak perjuangan beliau disebut berpusat pada dakwah kultural, pendidikan agama dasar, pengajaran Al-Qur’an dan pembinaan masyarakat di wilayah Kesamben.
Pada masa itu, Pojokkulon disebut sebagai salah satu wilayah yang membutuhkan penguatan dakwah dan pendidikan keagamaan. KH Abdurrahman kemudian dikenal aktif mengajarkan Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama kepada masyarakat sekitar.
Kediamannya juga disebut kerap didatangi masyarakat maupun santri dari luar daerah untuk meminta nasihat, doa dan mendapatkan pengajaran keagamaan.
Karena kedalaman ilmu, kesederhanaan dan keteladanannya, beliau dikenang sebagai salah satu kiai sepuh yang menjadi rujukan masyarakat pada zamannya.
Jejak Keluarga yang Terhubung dengan Tebuireng
Salah satu bagian penting dari sejarah keluarga KH Abdurrahman adalah hubungan keluarganya dengan Pesantren Tebuireng.
Salah seorang putri beliau, Nyai Hj. Masykuroh binti KH Abdurrahman, menikah dengan KH. Abdul Karim Hasyim (Kiai Karim), putra kandung Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng.
Pernikahan tersebut berlangsung pada tahun 1943.
Dari pernikahan Nyai Hj. Masykuroh dan KH. Abdul Karim Hasyim, lahir empat orang putra-putri, yaitu:
- Nyai Lilik Nailufari
- H. Muhammad Hasyim Karim (Gus Aying)
- Nyai Cicik Nafiqoh
- KH. Muhammad Natsir (Gus Cecep)
Jalur pernikahan tersebut menjadi salah satu bukti penting mengenai hubungan keluarga KH Abdurrahman Pojok Kulon dengan keluarga besar Tebuireng dan keturunan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Dari jaringan keturunan tersebut kemudian lahir sejumlah tokoh keluarga besar Tebuireng, di antaranya KH. Muhammad Baidhowi Karim, yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, serta Nyai Hj. Lilik Khadijah Karim.
Dengan demikian, sejarah keluarga KH Abdurrahman Pojokkulon memiliki keterhubungan yang menarik dengan jaringan keluarga besar ulama Jombang.
Kisah Kedekatan dengan Hasyim Asy’ari dan Wahab Hasbullah
Di luar hubungan keluarga dengan Tebuireng, masyarakat juga menyimpan cerita mengenai kedekatan KH Abdurrahman dengan dua tokoh besar NU, yakni Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah.
Dalam cerita yang berkembang, ketiganya disebut pernah memiliki kedekatan dalam hubungan keilmuan maupun perjuangan. Bahkan, terdapat cerita bahwa ketiganya sama-sama pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.
Menurut cerita tutur masyarakat, pada masa-masa awal berdirinya NU, rumah KH Abdurrahman di Pojokkulon disebut menjadi salah satu tempat berkumpul dan berdiskusi para kiai.
Namun, bagian sejarah ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Cerita tersebut perlu dikonfirmasi melalui keluarga, arsip pesantren, dokumen NU, maupun sumber sejarah primer agar dapat diketahui secara pasti posisi dan peran KH Abdurrahman dalam rangkaian sejarah tersebut.
Hubungan dengan Keluarga KH Wahab Hasbullah Masih Perlu Diklarifikasi
Salah satu bagian yang perlu mendapat perhatian khusus adalah cerita mengenai hubungan pernikahan antara keluarga KH Abdurrahman dengan keluarga KH Abdul Wahab Hasbullah.
Di tengah masyarakat berkembang cerita bahwa hubungan kedekatan tersebut kemudian terikat melalui hubungan pernikahan. Akan tetapi, detail mengenai siapa yang menikah dan status hubungan keluarganya masih perlu diverifikasi.
Khususnya, perlu dipastikan apakah sosok yang disebut menikah dengan keluarga KH Abdurrahman merupakan putra atau putri kandung KH Abdul Wahab Hasbullah, ataukah putra/putri tiri beliau.
Klarifikasi tersebut penting karena menyangkut silsilah keluarga tokoh-tokoh besar NU. Penulisan sejarah tidak cukup hanya berdasarkan cerita yang diwariskan secara lisan, tetapi perlu dibandingkan dengan dokumen keluarga, catatan pesantren, arsip NU, maupun keterangan dari keturunan langsung.
Karena itu, dalam tulisan ini bagian tersebut ditempatkan sebagai cerita yang masih membutuhkan verifikasi, bukan sebagai fakta sejarah yang telah final.
Rumah yang Disebut Menjadi Tempat Pertemuan
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, rumah KH Abdurrahman diP ojokkulon pada masa lalu bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga salah satu tempat berkumpulnya para tokoh agama.
Bahkan, terdapat cerita bahwa rumah tersebut pernah digunakan sebagai tempat pembahasan berbagai persoalan perjuangan dan pergerakan pada masa awal NU.
KH Abdurrahman juga disebut menjadi salah satu tokoh yang memberikan dukungan terhadap perjuangan para kiai, termasuk dukungan materi.
Namun, sebagaimana cerita mengenai pertemuan para tokoh NU, keterangan mengenai peran tersebut juga masih perlu ditelusuri dan dibuktikan melalui sumber sejarah yang lebih kuat.
Dikaitkan dengan Strategi Perjuangan 10 November
Tidak hanya sejarah NU, nama KH Abdurrahman juga dikaitkan dengan kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, rumah KH Abdurrahman di Pojokkulon disebut pernah menjadi tempat penyusunan strategi perjuangan menjelang peristiwa 10 November di Surabaya.
Sementara itu, pasukan disebut bermarkas di rumah Ir. Sudigno Kesamben, yang lokasinya kini dikenal sebagai kawasan SDI Tebuireng.
Cerita tersebut tentu menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Namun, karena berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan, diperlukan penelitian dan pencocokan dengan arsip sejarah, dokumen perjuangan, kesaksian keluarga, serta sumber-sumber lain yang relevan.
Jejak Sejarah yang Mulai Redup
Yang menjadi keprihatinan dalam diskusi malam itu adalah kondisi sejumlah peninggalan yang dikaitkan dengan KH Abdurrahman.
Rumah kasepuhan peninggalan beliau yang disebut pernah menjadi salah satu saksi sejarah kini telah berubah fungsi menjadi salah satu pusat pendidikan Muhammadiyah di Pojokkulon.
Masjid peninggalan beliau juga disebut telah mengalami perubahan dalam praktik amaliahnya. Sementara makam KH Abdurrahman dinilai belum banyak dikenal masyarakat, khususnya generasi muda, sebagai makam seorang ulama sepuh yang memiliki jejak sejarah di wilayah Kesamben.
Akibatnya, kisah perjuangan dan keteladanan beliau dikhawatirkan semakin redup, bahkan berpotensi hilang apabila tidak segera didokumentasikan.
Padahal, sejarah sebuah daerah tidak hanya terdiri dari bangunan, jalan dan pemerintahan. Di dalamnya terdapat kisah para ulama, guru, pejuang dan tokoh masyarakat yang pernah memberikan warna bagi kehidupan masyarakat pada masanya.
Perlu Program Khusus untuk Menggali Sejarah
Diskusi malam itu kemudian ditutup dengan sebuah harapan agar sejarah KH Abdurrahman Pojokkulon tidak berhenti sebagai cerita tutur yang hanya diketahui oleh sebagian kecil masyarakat.
Para peserta mendorong agar MWCNU Kesamben maupun PRNU Pojok Kulon dapat mempertimbangkan program khusus untuk mengenang sekaligus menggali kembali jejak perjuangan beliau.
Program tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti ziarah bersama ke makam KH Abdurrahman, merawat makam, mendoakan beliau, serta mendokumentasikan cerita dari keluarga dan para sesepuh yang masih mengetahui sejarahnya.
Selanjutnya, penggalian sejarah dapat dilakukan secara lebih serius melalui wawancara sejarah lisan, penelusuran dokumen keluarga, arsip pesantren, dokumentasi lama dan sumber-sumber sejarah lainnya.
Yang tidak kalah penting, proses tersebut harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Mana yang sudah memiliki bukti sejarah harus dibedakan dengan cerita tutur yang masih membutuhkan verifikasi.
Dengan cara demikian, upaya mengenang KH Abdurrahman tidak hanya menjadi kegiatan nostalgia, tetapi juga menjadi usaha membangun dokumentasi sejarah lokal yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab, para sesepuh telah mengajarkan kepada generasi penerus untuk tidak melupakan jasa para pendahulu.
“Alangkah senangnya beliau apabila melihat kita, para penerus perjuangan, masih berkenan mendoakan, merawat makam dan mengingat jejak perjuangan beliau.”
Mengenang bukan berarti mengagungkan tanpa dasar. Mengenang berarti merawat sejarah, mencari kebenaran, mengambil keteladanan dan memastikan jejak para pendahulu tidak hilang ditelan zaman.
Dan mungkin, dari sebuah diskusi kecil setelah istighotsah di Pojok Kulon itulah, langkah untuk membuka kembali lembaran sejarah KH Abdurrahman dapat dimulai.
Wallahu a’lam. 🙏
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com







