banner 970x250
Sejarah Tokoh

Roehana Koeddoes dan Genealogi Pers Indonesia

×

Roehana Koeddoes dan Genealogi Pers Indonesia

Sebarkan artikel ini
Foto : Roehana koeddoes (sumber SMAN17 Pandeglang)

SeputarDesa.com,Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, Tempat kelahiran Roehana Koeddoes adalah kampung Koto Gadang di Sumatera Barat (yang waktu itu masih bagian dari Hindia Belanda).

Ketika sejarah pers Indonesia dituturkan, narasinya hampir selalu bergerak dari pusat ke pusat: Batavia, organisasi elite, tokoh laki-laki, dan pergulatan politik kolonial. Pers dibaca sebagai alat nasionalisme, jurnalis dipahami sebagai aktor pergerakan, dan media diposisikan sebagai corong ide besar. Di luar kerangka itu, ada satu sosok yang kerap disebutnamun jarang benar-benar dibaca secara mendalam: Roehana Koeddoes.

Selama ini, ia dikenal luas sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Sebutan itu benar, tetapi sekaligus menyederhanakan. Ia seakan hanya menjadi catatan awal, bukan fondasi. Padahal, jika sejarah pers dibaca sebagai genealogiyakni asal-usul nilai, praktik, dan orientasimaka Roehana tidak berdiri di pinggir cerita. Ia berada di hulunya.

Pers yang Tidak Lahir dari Politik, tetapi dari Kehidupan

Roehana tidak memasuki dunia pers lewat organisasi politik, partai, atau gerakan nasional. Ia masuk melalui kehidupan sehari-hari perempuan: keterbatasan pendidikan, ketergantungan ekonomi, adat yang membatasi suara, dan ketiadaan ruang bicara. Dari situlah lahir Soenting Melajoe pada 1912bukan sebagai proyek sensasional, melainkan kebutuhan sosial.

Berbeda dengan banyak surat kabar sezamannya yang berbicara kepada elite terdidik, Soenting Melajoe berbicara kepada perempuan yang selama ini dianggap tidak punya kepentingan publik. Isinya tidak hanya berita, tetapi refleksi, nasihat, korespondensi pembaca, dan gagasan tentang pendidikan serta kemandirian. Di sini, pers tidak diposisikan sebagai alat propaganda, melainkan ruang belajar kolektif.

Inilah titik genealogi yang penting: pers sebagai praktik kesadaran, bukan sekadar pelaporan peristiwa.

Redaksi sebagai Ruang Sosial

Yang sering luput dicatat, Roehana tidak sekadar menulis. Ia membangun redaksi. Ia mengajak perempuan lain menulis, membaca, dan berani mengemukakan pendapat. Dalam konteks Hindia Belanda awal abad ke-20, ini adalah lompatan besar. Media tidak lagi satu arah; ia menjadi ruang dialog.

Di sinilah Roehana berbeda dari banyak tokoh pers awal. Jika pers lain dibangun di sekitar figur kuat, Soenting Melajoe dibangun sebagai komunitas wacana. Redaksi bukan menara gading, melainkan perpanjangan dari kehidupan sosial perempuan pembacanya.

Model ini kelak dikenal sebagai jurnalisme berbasis komunitas. Namun Roehana mempraktikkannya jauh sebelum istilah itu dikenal.

Objektivitas yang Berpihak

Dalam standar pers modern, objektivitas sering dipahami sebagai netralitas. Roehana tidak netral. Ia berpihak pada perempuansecara terang dan sadar. Tetapi keberpihakan ini bukan propaganda murahan. Ia dibangun melalui argumentasi, pengalaman hidup, dan bahasa yang bisa dipahami pembaca.

Keberpihakan Roehana justru memperlihatkan bahwa objektivitas kolonial kerap bias pada struktur kuasa. Dengan menulis dari sudut pandang perempuan, ia menyingkap realitas yang selama ini disembunyikan oleh “kenetralan” media arus utama. Inilah bentuk awal dari jurnalisme advokatif, yang hari ini banyak diperbincangkan, tetapi kala itu nyaris tidak ada presedennya.

Pers, Pendidikan, dan Ekonomi: Satu Kesatuan

Roehana memahami satu hal mendasar: pers tidak bisa berdiri sendiri. Karena itu, ia juga mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 1911. Pendidikan membaca dan menulis berjalan seiring dengan pelatihan keterampilan ekonomi. Pers memberi kesadaran, pendidikan memberi kapasitas, ekonomi memberi kemandirian.

Keterkaitan ini menunjukkan visi jurnalistik yang jarang dimiliki: media bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari ekosistem perubahan sosial. Banyak media gagal bertahan karena hanya mengandalkan wacana. Roehana justru mengaitkan wacana dengan praktik hidup.

Menggeser Cara Membaca Sejarah Pers

Jika sejarah pers Indonesia hanya dibaca dari perspektif politik nasionalisme, maka Roehana akan selalu tampak “tambahan”. Namun jika pers dibaca sebagai sejarah produksi pengetahuan, maka posisinya menjadi sentral. Ia menunjukkan bahwa pers Indonesia lahir bukan hanya dari perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi juga dari perjuangan sosial di tingkat akar rumput.

Genealogi ini penting untuk dibaca ulang hari ini, ketika media sering terjebak antara kepentingan pasar dan politik. Roehana mengingatkan bahwa pers pernah lahir dari kebutuhan komunitas, bukan dari algoritma atau modal besar.

Relevansi untuk Jurnalisme Desa Hari Ini

Bagi media berbasis komunitas dan desa, warisan Roehana terasa sangat dekat. Ia membuktikan bahwa media lokal bukan media kecil. Justru dari sanalah nilai jurnalisme diuji: apakah ia benar-benar melayani pembacanya, atau hanya meniru pusat.

Perspektif Roehana sejalan dengan semangat jurnalisme desadekat dengan warga, berpihak pada yang terpinggirkan, dan berangkat dari persoalan nyata. Ia mengajarkan bahwa media tidak harus menunggu legitimasi kekuasaan untuk menjadi penting. Menempatkan Roehana Koeddoes dalam genealogi pers Indonesia bukan soal memberi gelar simbolik. Ini soal mengubah cara kita memahami asal-usul jurnalisme. Ia bukan hanya jurnalis perempuan pertama, tetapi bagian dari fondasi nilai pers itu sendiri: keberpihakan, komunitas, dan kesadaran sosial.

Jika pers Indonesia ingin menemukan kembali jati dirinya di tengah krisis kepercayaan publik, menengok Roehana bukan langkah romantik. Ia adalah langkah historisdan sekaligus strategis.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi