SeputarDesa.com, Mojokerto — Penyebab keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar, santri, dan warga di Kabupaten Mojokerto setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) menu soto ayam mulai terkuak. Hasil penyelidikan sementara mengarah pada telur ayam rebus yang diduga sudah tidak layak konsumsi.
Seluruh sampel makanan MBG serta muntahan korban telah selesai diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Mojokerto. Temuan tersebut kemudian dibahas dalam rapat tertutup lintas instansi di Smart Room Satya Bina Karya (SBK) Kantor Bupati Mojokerto, Kamis (15/1/2026) malam.
Rapat itu dihadiri perwakilan Kodim 0815 Mojokerto, BPOM, Polres Mojokerto, Sekretariat Daerah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Badan Gizi Nasional (BGN), Labkesda, serta tim ahli gizi.
Komandan Kodim 0815 Mojokerto Letkol Inf Abi Swanjoyo mengatakan, hasil diskusi sementara mengerucut pada penggunaan telur matang yang tidak diproduksi langsung oleh dapur penyedia MBG.
“Ada dugaan sementara dari telur matang yang dibeli dari luar. Detail teknis akan disampaikan oleh tim ahli,” kata Abi.
Berdasarkan penelusuran tim investigasi, telur ayam rebus tersebut dimasak oleh pihak ketiga pada Rabu (7/1/2026) malam dan baru dikirim ke dapur SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Pondok Pesantren Al Hidayah pada Kamis (8/1/2026) sore. Telur itu kemudian menjadi salah satu komponen soto ayam yang didistribusikan pada Jumat (9/1/2026).
Distribusi MBG dilakukan ke 22 sekolah dan pondok pesantren pada Jumat pagi hingga menjelang Salat Jumat. Namun, sebagian besar korban diketahui baru mengonsumsi makanan tersebut setelah Salat Jumat sekitar pukul 12.30 WIB.
“Titik korban terbanyak berasal dari lokasi yang mengonsumsi MBG setelah Salat Jumat,” ujar Abi.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Mojokerto mencatat sebanyak 411 orang mengalami keracunan dengan gejala pusing, mual, muntah, demam, dan diare. Gejala mulai muncul pada Jumat malam hingga Sabtu (10/1/2026) pagi. Hingga Kamis malam, dua korban masih menjalani perawatan inap.
Guna mendalami penyebab kejadian, investigasi gabungan terus dilakukan. Selama proses tersebut, Badan Gizi Nasional menghentikan sementara operasional SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Ponpes Al Hidayah.
SPPG tersebut diketahui beroperasi sejak 22 September 2025 dan memproduksi 2.679 porsi MBG setiap hari untuk 22 sekolah dan pondok pesantren di Kecamatan Kutorejo dan Mojosari. Operasional dapur MBG itu terancam dihentikan permanen apabila terbukti melanggar ketentuan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














