banner 970x250
Opini

Menjaga Demokrasi dengan Spirit Ramadhan

×

Menjaga Demokrasi dengan Spirit Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Andhi Hartanto, S.Pd.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban

SeputarDesa.com, Tuban – Awal Ramadhan yang jatuh pada 19 Februari 2026 bukan hanya menjadi penanda dimulainya ibadah puasa bagi umat Islam, tetapi juga momentum refleksi kebangsaan. Menurut Andhi Hartanto, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Ramadhan menghadirkan nilai-nilai moral yang sangat relevan dengan praktik demokrasi di tingkat lokal maupun nasional.

Ia menilai bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan politik.

“Demokrasi bukan hanya soal perbedaan pilihan, tetapi tentang bagaimana kita mengelola perbedaan itu dengan kedewasaan,” ujarnya.

Dalam suasana Ramadhan, masyarakat diajak untuk menahan amarah, menjaga lisan, dan memperkuat empati. Nilai-nilai ini, menurutnya, harus tercermin pula dalam sikap para pemimpin dan penyelenggara pemerintahan.

Baca Juga :  Ketika Warga Bicara: Pesan di Balik Aksi Demo di Mbandilan

Sebagai pimpinan legislatif di daerah, Andhi Hartanto melihat langsung dinamika aspirasi masyarakat yang beragam. DPRD, katanya, adalah rumah bersama bagi seluruh warga, tanpa memandang latar belakang politik, agama, maupun sosial. Karena itu, semangat kesetaraan yang terasa kuat di bulan Ramadhan, di mana semua orang berdiri sejajar dalam ibadah, menjadi inspirasi dalam menjalankan fungsi representasi rakyat.

Ia juga menekankan pentingnya keadilan sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Ramadhan identik dengan penguatan solidaritas melalui zakat, infak, dan sedekah. Bagi Andhi, praktik berbagi ini sejalan dengan semangat kebijakan publik yang berpihak pada masyarakat kecil.

“Demokrasi harus menghadirkan kesejahteraan. Jangan sampai kebebasan politik tidak diiringi dengan keberpihakan kepada wong cilik,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa integritas adalah fondasi utama demokrasi. Puasa melatih kejujuran yang bersifat personal, tidak ada pengawasan selain kesadaran diri. Dalam konteks pemerintahan, hal ini berarti setiap pejabat harus memegang teguh amanah dan menjauhi praktik-praktik yang merugikan rakyat. Menurutnya, Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat komitmen antikorupsi dan transparansi dalam pengelolaan anggaran daerah.

Baca Juga :  Badan Kehormatan DPRD: Menjaga Nurani Politik di Tengah Arus Zaman

Di tengah dinamika politik yang sering kali memanas, Andhi Hartanto berharap Ramadhan 2026 menjadi penyejuk suasana. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Tuban untuk menjaga persatuan, memperkuat dialog, dan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan.

“Perbedaan adalah keniscayaan dalam demokrasi, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi prioritas,” katanya.

Baginya, demokrasi yang sehat bukan hanya tentang siapa yang menang dalam kontestasi, melainkan tentang bagaimana semua pihak tetap merasa dihargai dan dilibatkan. Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri, atas ego dan kepentingan sempit.

Baca Juga :  Double Job Pendamping Desa, Pelanggaran Etika yang Dibiarkan oleh Lemahnya Penegakan Regulasi Kemendes

Menutup refleksinya, Andhi Hartanto menegaskan bahwa bulan suci harus menjadi titik tolak memperbaiki kualitas kehidupan publik. Dengan menginternalisasi nilai kesabaran, kejujuran, dan solidaritas, demokrasi di tingkat daerah dapat tumbuh lebih matang dan beradab. Ramadhan, dalam pandangannya, bukan hanya ibadah ritual, melainkan energi moral untuk merawat demokrasi agar tetap hidup dan bermartabat.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi