Oleh : Dr. Yohanes Winarto, S.H., M.H
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Tengah
Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Jawa Tengah
SeputarDesa.com, Semarang – Dalam politik, kenaikan seorang kader sering dirayakan sebagai keberhasilan organisasi. Namun di balik sorak itu, proses pelentingan sejatinya adalah fase paling sunyi dan paling berbahaya. Ia bukan hanya perpindahan posisi, melainkan pergeseran kesadaran: dari menjadi bagian dari barisan, menuju figur yang sorot lampunya terus menyala.
Pada titik inilah politik mengajukan pertanyaan mendasar bukan tentang kecakapan, melainkan kesetiaan. Apakah kader yang dilentingkan masih melihat dirinya sebagai produk kolektif, atau mulai percaya bahwa ia adalah pusat dari segalanya?
Pelentingan membangun struktur, tetapi juga menanam godaan. Kekuasaan yang tidak ditopang ingatan ideologis mudah menjelma menjadi proyek personal yang tercerabut dari rumah tempat ia dibesarkan.
Rumah Politik: Lebih dari Sekadar Struktur
Rumah politik tidak hidup dalam dokumen atau logo. Ia hidup dalam kebiasaan, kesepakatan tak tertulis, dan kesadaran bersama tentang batas-batas moral kekuasaan. Di sanalah kader belajar bahwa politik bukan sekadar menang, tetapi merawat makna dari kemenangan itu sendiri.
Merawat rumah politik berarti memastikan arah tetap terjaga, garis komando tidak terputus, dan kepercayaan internal tidak diperdagangkan demi kepentingan sesaat. Ketika rumah ini diabaikan oleh mereka yang telah naik ke puncak, kerusakan yang terjadi sering kali tak kasat mata namun fatal.
Partai tidak runtuh karena kekalahan elektoral semata, melainkan karena kehilangan keyakinan kolektif dari dalam.
Tiga Pusat Kekuasaan dan Satu Ujian Etik
Hubungan antara partai, legislatif, dan eksekutif kerap dibingkai sebagai pembagian peran. Padahal yang dipertaruhkan jauh lebih dalam: kemampuan kekuasaan untuk menahan diri. Tanpa partai, arah perjuangan kabur. Tanpa legislatif, kekuasaan kehilangan koreksi. Tanpa eksekutif, gagasan tinggal wacana.
Kesolidan ketiganya bukan soal efektivitas teknis, melainkan kedewasaan etik. Ketika masing-masing pilar memahami batas dan tanggung jawabnya, politik berhenti menjadi panggung saling klaim, dan mulai bekerja sebagai instrumen kepentingan publik.
Akar Rumput: Memori Kolektif yang Menolak Dilupakan
Di saat elite sibuk mengelola citra dan posisi, akar rumput menyimpan ingatan politik yang panjang. Mereka mengingat janji, merasakan kebijakan, dan membaca kejujuran lebih tajam daripada survei apa pun.
Akar rumput yang tetap hidup dan bergerak bukan hasil rekayasa pusat. Mereka adalah indikator apakah ideologi masih bernapas atau telah menjadi slogan kosong. Ketika mereka solid, itu pertanda bahwa politik masih punya daya ikat emosional sesuatu yang tak bisa diciptakan melalui strategi semata.
Di sinilah akar rumput berfungsi sebagai pengingat: bahwa kekuasaan tanpa kepekaan akan kehilangan legitimasi, seberapa pun kuat strukturnya.
Ketika Pusat Bergantung pada Pinggiran
Ada fase dalam perjalanan politik ketika kendali elite justru melemah, dan legitimasi berpindah ke tangan mereka yang berada di bawah. Solidaritas akar rumput yang tumbuh mandiri adalah kekuatan yang rapuh sekaligus menentukan rapuh karena mudah dikhianati, menentukan karena tak bisa dipaksa.
Paradoks politik modern terletak di sini: rumah yang dibangun dari pusat hanya akan bertahan jika pinggirannya merasa memiliki. Dan ketika pinggiran itu bergerak bukan karena perintah, melainkan karena keyakinan, di situlah politik menemukan bentuknya yang paling jujur. (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














