SeputarDesa.com, Bangkalan – Museum Uang Perusnia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat literasi sejarah dan numismatik paling prestisius di Pulau Madura. Peran strategis tersebut tercermin dari kunjungan edukatif puluhan siswa-siswi SD Negeri Pejagan 4 Bangkalan yang didampingi langsung oleh guru pembimbing, Dessy Rimadhini Apritanti.
Kunjungan ini merupakan bagian dari metode pembelajaran inovatif yang mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan IPAS. Para siswa diajak membedah narasi sejarah masuknya peradaban Hindu-Budha di Indonesia sekaligus menelusuri evolusi alat tukar secara autentik, mulai dari koin kerajaan kuno hingga mata uang Rupiah modern.
Dessy menegaskan bahwa pembelajaran di luar kelas memberikan pengalaman yang jauh lebih konkret bagi peserta didik.
“Dengan hadir langsung di Museum Uang Perusnia, siswa tidak hanya belajar dari teks, tetapi bisa melihat bukti autentik sejarah bangsa kita,” ungkapnya.
Koleksi yang Terus Bertransformasi
Di bawah kepemimpinan R.P. Salman Alrosyid Dungmoso, bangsawan muda dari Keluarga Keratuan Sembilangan, Museum Uang Perusnia mengalami perkembangan signifikan. Koleksi yang semula berjumlah sekitar 2.300 jenis kini telah meningkat menjadi 2.600 jenis.
“Kami berkomitmen melengkapi kepingan sejarah ekonomi Nusantara. Penambahan terbaru mencakup koin perak masa Hindu-Budha dari Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, hingga koin Kesultanan Palembang dan Aceh,” jelas Salman.

Keistimewaan museum ini semakin bertambah berkat dukungan komunitas Kolektor Oeang Koeno (KOK) serta sumbangan artefak bersejarah dari RM. Agus Suryoadikusumo. Koleksi tersebut meliputi manuskrip lontar kuno hingga pusaka sakral seperti Keris Panji Anom milik Sultan Abdul Kadirun dan Keris Rojo Abolo Rojo milik Senopati Cakraaningrat I.
Minim Perhatian Pemerintah Daerah
Meski memiliki koleksi luar biasa dan berperan penting dalam pendidikan karakter generasi muda, Museum Uang Perusnia dinilai masih berjalan sendiri tanpa dukungan signifikan dari pemerintah daerah.
Pengamat budaya sekaligus aktivis sosial, Aruf Kenzo, melontarkan kritik keras terhadap Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang dianggap kurang memberi perhatian terhadap inisiatif pelestarian sejarah tersebut.
“Sangat disayangkan, Museum Perusnia yang memiliki koleksi selengkap ini justru dikelola secara mandiri tanpa perhatian serius dari Pemerintah Bangkalan. Pemerintah seharusnya hadir, minimal melalui dukungan infrastruktur atau promosi yang terintegrasi,” ujar Aruf.
Ia menambahkan, jika sikap abai terus berlanjut, aset sejarah tersebut berisiko sulit berkembang di masa depan.

“Jangan sampai pemerintah baru merasa memiliki ketika museum ini sudah besar di mata nasional. Saat pemilik museum berjuang menambah koleksi dan memberikan edukasi gratis kepada siswa, di mana peran Dinas Pendidikan atau Dinas Pariwisata? Mereka seharusnya malu melihat inisiatif mandiri warga yang jauh lebih progresif dibanding kebijakan daerah,” tegasnya.
Meski menghadapi keterbatasan dukungan, Museum Uang Perusnia tetap konsisten menjalankan fungsinya sebagai benteng sejarah dan penjaga marwah budaya Madura, berjuang secara swadaya demi merawat ingatan kolektif bangsa.(**)














