Seputardesa.com, Feature — Ada kalanya manusia melihat sebuah keadaan dan berkata, “Tidak mungkin.” Kondisi ekonomi belum memungkinkan, kebutuhan keluarga masih banyak, penghasilan pun pas-pasan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus bekerja keras, apalagi membayangkan bisa berangkat ke Tanah Suci.
Namun, manusia hanya mampu melihat apa yang ada di depan mata. Sementara Allah SWT memiliki cara dan kehendak yang tidak pernah bisa ditebak oleh manusia.
Rabu, 7 Oktober 2026, menjadi salah satu hari yang begitu istimewa. Hari ketika sebuah kabar tentang keberangkatan umrah kembali menjadi pengingat bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Kisah ini mempertemukan kita dengan perempuan-perempuan hebat, para pejuang keluarga yang selama ini menjalani kehidupan dengan penuh keteguhan.
Mereka bukan perempuan yang hidup dengan segala kemewahan. Mereka adalah para ibu dan perempuan yang setiap hari bekerja demi keluarganya.
Ada yang memiliki suami dengan pekerjaan serabutan. Ada yang harus mendampingi suami yang mengalami sakit stroke. Ada pula yang memiliki suami dengan penghasilan tidak menentu, sementara dirinya juga harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus merawat kedua orangtuanya.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, mereka tetap bekerja.
Tidak banyak mengeluh. Tidak berhenti berusaha.
Mereka bergabung sebagai Miss Cimory, menjalani pekerjaan dengan menjajakan berbagai produk Cimory dan Kanzler dari toko ke toko maupun kepada pelanggan.
Setiap hari mereka berkeliling, menawarkan produk, mengejar target penjualan, dan membawa pulang penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi mereka, pekerjaan tersebut mungkin pada awalnya hanya sebuah ikhtiar sederhana untuk mendapatkan rezeki.
Namun rupanya, Allah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar melalui jalan tersebut.
Dari Target Penjualan Menuju Baitullah
Cimory memberikan apresiasi kepada Miss Cimory yang mampu mencatatkan pencapaian penjualan secara konsisten. Salah satu bentuk apresiasi yang diberikan adalah hadiah perjalanan umrah lengkap dengan uang saku.
Dan di sinilah kisah itu menjadi begitu menyentuh.
Sebab, bagi sebagian penerima hadiah tersebut, perjalanan ke Baitullah mungkin bukan sesuatu yang mudah diwujudkan jika hanya mengandalkan kemampuan ekonomi keluarga.
Dalam hitungan manusia, mungkin masih terlalu berat.
Masih banyak kebutuhan keluarga.
Masih banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Bahkan mungkin ada yang sebelumnya berpikir, “Umrah? Kapan bisa?”
Tetapi ternyata Allah punya jawaban sendiri.
Ketika Allah sudah memanggil, jalan menuju Baitullah bisa datang dari arah yang sama sekali tidak pernah disangka.
Pekerjaan yang dijalani untuk membantu keluarga ternyata menjadi jalan datangnya kesempatan menjadi tamu Allah.
Di situlah kita kembali diingatkan bahwa panggilan ke Baitullah bukan semata-mata tentang seberapa banyak uang yang dimiliki seseorang.
Bukan berarti kemampuan finansial tidak diperlukan. Ikhtiar dan kemampuan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan ibadah.
Namun, di atas semua itu, ada kehendak Allah yang menentukan kapan dan melalui jalan apa seseorang mendapatkan kesempatan untuk datang ke rumah-Nya.
Bukankah kita sering melihat orang yang secara materi sudah sangat mampu, tetapi belum juga mendapatkan kesempatan berangkat?
Di sisi lain, ada orang-orang yang secara ekonomi terlihat jauh dari kata mampu, tetapi justru mendapatkan jalan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Entah Amal Baik Apa yang Mengantarkan Mereka
Melihat kisah para perempuan ini, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin juga ada di benak banyak orang.
Entah amal baik apa yang pernah mereka lakukan hingga Allah memberikan jalan seindah ini?
- Mungkin hanya Allah yang tahu.
- Bisa jadi ada doa orangtua yang diam-diam mengiringi.
- Bisa jadi ada sedekah kecil yang pernah diberikan.
- Bisa jadi ada kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui siapa pun.
- Atau mungkin ada perjuangan mereka mencari nafkah untuk keluarga yang selama ini terlihat sederhana di mata manusia, tetapi begitu bernilai di hadapan Allah.
Kita tidak pernah tahu.
Sebab Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.
Dan boleh jadi, hadiah umrah tersebut bukan sekadar penghargaan atas pencapaian penjualan.
Boleh jadi, itulah salah satu cara Allah membuka pintu menuju Baitullah.
Jangan Pernah Berhenti Berharap
Kisah ini bukan berarti kita boleh berhenti berusaha dan hanya menunggu keajaiban.
Justru sebaliknya.
Berdoa, berusaha, bekerja, berbuat baik dan tetap istiqamah harus terus berjalan bersama.
Sebab kita tidak pernah tahu ikhtiar mana yang kelak menjadi jalan datangnya pertolongan Allah.
Jangan pernah mengatakan, “Saya tidak mungkin bisa umrah.”
Ubahlah menjadi, “Ya Allah, jika Engkau menghendaki, mudahkanlah aku menjadi tamu-Mu.”
Sebab keadaan ekonomi hari ini bukanlah batas bagi kuasa Allah.
Hari ini mungkin belum mampu.
Hari ini mungkin masih harus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.
Hari ini mungkin tabungan untuk umrah belum ada.
- Tidak apa-apa.
- Teruslah bekerja.
- Teruslah berdoa.
- Teruslah berbuat baik.
- Teruslah menjaga ibadah.
- Dan tetaplah istiqamah di jalan Allah.
Karena kita tidak pernah tahu dari mana Allah akan membuka pintu rezeki.
- Bisa melalui pekerjaan.
- Bisa melalui orang lain.
- Bisa melalui sebuah kesempatan.
- Bisa melalui sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita pikirkan.
Dan ketika waktunya tiba, kita mungkin hanya bisa berkata:
“Ternyata selama ini Allah hanya meminta kami untuk terus percaya.”
Pada akhirnya, kisah para perempuan pejuang keluarga ini mengajarkan satu hal sederhana namun begitu dalam:
Jangan mengukur kemungkinan dengan kemampuan manusia. Ukurlah dengan kebesaran Allah.
Sebab di mata manusia mungkin tidak mungkin.
Tetapi di hadapan Allah, semuanya tinggal menunggu waktu.
Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com









