SeputarDesa.com, Cirebon – Tradisi Bubur Sura kembali menjadi bagian penting dalam peringatan 10 Muharram atau Hari Asyura di lingkungan Pengguron Pegajahan Cirebon. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menghadirkan sajian kuliner khas, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan semangat berbagi kepada sesama di momentum Tahun Baru Islam.
Setiap tanggal 10 Muharram, para Abdi Dalem, murid, dan jamaah berkumpul untuk memasak Bubur Sura secara gotong royong di dapur khusus. Proses pembuatannya dilakukan sejak pagi hari dengan melibatkan banyak orang yang bahu-membahu menyiapkan berbagai bahan hingga mengaduk bubur dalam wadah berukuran besar.
Pengasuh Pengguron Pegajahan Cirebon, Pangeran Bagus Chandra Kusuma Ningrat, mengatakan bahwa tradisi Bubur Sura memiliki nilai spiritual dan sosial yang sangat mendalam.
“Bubur Sura bukan sekadar makanan, tetapi simbol persatuan, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Melalui tradisi ini, kami diajarkan untuk berbagi rezeki, memperkuat silaturahmi, serta menjaga warisan budaya dan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan para leluhur,” ujarnya, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, tradisi ini juga berkaitan dengan kisah Nabi Nuh AS yang dipercaya membuat makanan dari sisa bahan yang tersedia di kapal setelah banjir besar melanda bumi. Nilai kebersamaan dan ketahanan hidup dari kisah tersebut kemudian menjadi inspirasi lahirnya tradisi Bubur Sura di berbagai daerah, termasuk di Cirebon.
“Filosofi Bubur Sura mengajarkan bahwa dalam keterbatasan sekalipun, manusia tetap dapat bersatu, saling membantu, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Karena itu tradisi ini terus kami lestarikan sebagai media pendidikan spiritual dan sosial bagi generasi muda,” tambahnya.
Keunikan Bubur Sura di Pengguron Pegajahan Cirebon terletak pada ragam bahan yang digunakan. Hidangan ini terdiri dari Bubur Sura yang dipadukan dengan tahu dan tempe potong dadu, daging, bergedel bulat, sambal goreng Jamblang, abon, kacang-kacangan, bawang goreng, jeruk bali, delima, serta siraman santan yang telah dimasak hingga mendidih.
Penyaji Bubur Sura, Ratu Prima Andriani Kusumawati, menjelaskan bahwa setiap bahan yang digunakan memiliki makna tersendiri.
“Bubur Sura mencerminkan keberagaman yang menyatu dalam satu rasa. Berbagai bahan dengan karakter berbeda dipadukan menjadi hidangan yang lezat. Ini melambangkan kehidupan masyarakat yang beragam namun tetap hidup berdampingan dalam harmoni,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Ratu Sekar Mayanganti Kusuma Dewi. Menurutnya, penyajian Bubur Sura juga menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi dan budaya yang berkembang di lingkungan keraton dan masyarakat Cirebon.
“Tradisi ini mengandung pesan tentang pentingnya menjaga persaudaraan. Saat bubur dibagikan kepada jamaah dan masyarakat, di situlah nilai wujud syukur, kepedulian, dan kasih sayang diwujudkan secara nyata,” katanya.
Sementara itu, salah seorang Abdi Dalem Putra Murid yang terlibat dalam proses memasak, Agus Sutisna, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut.
“Memasak Bubur Sura membutuhkan kesabaran dan kekompakan. Semua dilakukan bersama-sama, mulai dari menyiapkan bahan hingga membagikannya kepada masyarakat. Kami merasa bahagia karena dapat menjadi bagian dari tradisi yang penuh berkah ini,” ungkap Agus.
Setelah matang, Bubur Sura dibagikan secara gratis kepada jamaah dan masyarakat yang hadir. Tradisi ini juga menjadi bagian dari rangkaian ibadah puasa sunnah Sura, di mana bubur kerap disajikan sebagai hidangan berbuka puasa bersama.
Di tengah perkembangan zaman, Bubur Sura tetap menjadi simbol kuat nilai gotong royong, sedekah, dan rasa syukur. Melalui tradisi yang terus dijaga oleh Pengguron Pegajahan Cirebon, pesan tentang persatuan dan kepedulian sosial tetap hidup serta menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga warisan budaya dan spiritual yang berharga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















