SeputarDesa.com, Jombang – Di tengah lautan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang memadati kawasan Muktamar ke-35 NU di Jombang, sebuah dapur umum swadaya bergerak tanpa banyak sorotan. Dari tempat inilah, sekitar 7.000 nasi bungkus gratis disiapkan setiap hari untuk para muhibbin yang datang dari berbagai daerah.
Bukan katering besar, bukan pula semata fasilitas panitia. Dapur tersebut lahir dari gotong royong warga Nahdliyin. Sejak pagi, puluhan relawan berjibaku menyiapkan bahan, memasak dalam kawah besar, mengemas ribuan nasi bungkus hingga mendistribusikannya kepada para pencinta NU.
Koordinator Bidang Konsumsi, Lailatun Ni’mah atau Ning Eli, mengatakan ribuan paket makanan tersebut dibagikan dalam dua shift untuk menjaga ketertiban distribusi di tengah padatnya massa Muktamar.
“Pendistribusian ini dibagi dua shift, siang pukul 11.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB. Tiap shift 3.500 bungkus,” ujar Ning Eli.
Tujuh Ekor Sapi Jadi Menu Daging
Yang menarik, kekuatan dapur umum ini bukan hanya pada jumlah makanan yang diproduksi, tetapi juga pada dukungan masyarakat yang terus mengalir.
Bahan makanan berasal dari sumbangan para donatur, alumni pesantren, hingga wali santri dari Jombang dan sekitarnya. Bahkan, tujuh ekor sapi disumbangkan alumni pesantren untuk menopang kebutuhan konsumsi selama Muktamar.
“Alhamdulillah menunya daging terus karena kita mendapat bantuan pasokan tujuh ekor sapi dari para alumni,” kata Ning Eli.
Menu pun dibuat berganti setiap hari. Namun, pasokan daging membuat olahan sapi menjadi salah satu menu yang cukup dominan dalam ribuan paket makanan yang dibagikan.
Puluhan Relawan Tak Berhenti Bergerak
Di balik 7.000 nasi bungkus yang keluar setiap hari, terdapat puluhan relawan yang bekerja dalam satu rantai kerja panjang.
Ada yang membersihkan dan menyiapkan bahan, memotong daging, meracik bumbu, memasak dalam kawah besar, mengemas makanan hingga mengatur pembagian kepada para muhibbin.
Relawan datang dari berbagai badan otonom NU, seperti GP Ansor, Banser, Fatayat, IPNU-IPPNU, hingga personel Taruna Siaga Bencana (Tagana).
“Para relawan membagi tugas mulai dari penyiapan bahan, pemotongan daging, meracik bumbu, memasak dalam kawah besar, hingga membungkus dan membagikan paket nasi secara tertib kepada para muhibbin,” tuturnya.
Bagi Ning Eli, apa yang dilakukan para relawan bukan sekadar aktivitas memasak. Dapur umum menjadi bentuk nyata kepedulian warga Jombang dalam menyambut ribuan tamu yang datang mengikuti maupun meramaikan Muktamar.
“Ini bagian dari gotong royong kita untuk melayani para muhibbin yang datang dari berbagai daerah,” ujarnya.
20 UMKM Dilibatkan untuk Konsumsi Muktamirin
Dukungan konsumsi juga diperluas kepada peserta resmi Muktamar atau muktamirin. Sedikitnya 20 pelaku UMKM dilibatkan untuk menyuplai kebutuhan konsumsi selama gelaran Muktamar ke-35 NU.
“Kita juga melibatkan 20 UMKM untuk para muktamirin,” pungkas Ning Eli.
Muktamar ke-35 NU akhirnya tidak hanya menghadirkan forum-forum strategis organisasi. Di luar ruang sidang, denyut gotong royong justru terasa kuat.
7.000 nasi gratis setiap hari, tujuh ekor sapi dari alumni pesantren, puluhan relawan, dan 20 UMKM yang terlibat. Semuanya bertemu dalam satu semangat: melayani tamu dan menyukseskan Muktamar NU ke-35 dari akar rumput.
Di tengah padatnya agenda Muktamar, dapur swadaya itu menjadi pesan sederhana bahwa kekuatan NU tidak hanya terlihat di ruang persidangan, tetapi juga dari tangan-tangan warga yang memilih berbagi.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















