banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Berita

Musim Hujan Tiba, Desa-Desa di Kota Batu Diminta Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

×

Musim Hujan Tiba, Desa-Desa di Kota Batu Diminta Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Sebarkan artikel ini
Jajaran Forkopimda Kota Batu berfoto bersama usai Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi 2026 di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Rabu (4/11/2026).

SeputarDesa.com, Kota Batu– Memasuki musim penghujan, seluruh desa di wilayah Kota Batu diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor, banjir, angin kencang, hingga pohon tumbang. Penguatan kembali peran Desa Tangguh Bencana (Destana) dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengantisipasi risiko bencana sejak dini.

Pesan tersebut disampaikan dalam Apel Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Tahun 2026 yang digelar Polres Batu di Lapangan Rest Area Jalibar, Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Rabu (4/11/2026) pagi.

Apel tersebut diikuti ratusan personel gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Satpol PP, serta relawan kebencanaan. Hadir dalam kegiatan itu Wali Kota Batu Nurochman, Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Dandim 0818 Malang-Batu Letkol Czi Bayu Nugroho, serta Kapolres Batu AKBP Panji Gedhe Prabawa yang memimpin langsung jalannya apel.

Dalam arahannya, Kapolres Batu mengingatkan bahwa masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan merupakan periode yang memiliki potensi risiko bencana cukup tinggi. Kondisi geografis Kota Batu yang memiliki kawasan perbukitan, lereng, dan aliran sungai membuat sejumlah wilayah perlu mendapat perhatian khusus.

Baca Juga :  Firosyat Abdu Resmi Dilantik Jadi KDAW Menturus, Akhiri Kekosongan Kepemimpinan Desa

Kapolres menegaskan pentingnya mengaktifkan kembali Destana agar tidak sekadar menjadi program administratif, tetapi benar-benar berfungsi sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi bencana di tingkat desa.

“Yang paling tahu kondisi desanya adalah warga desa itu sendiri. Karena itu Destana harus dihidupkan lagi. Jangan sampai hanya ada namanya saja,” tegas Kapolres Batu.

Menurutnya, setiap desa perlu memiliki pemetaan wilayah rawan bencana, memahami jalur evakuasi, menentukan lokasi pengungsian, serta memastikan masyarakat mengetahui pihak yang harus dihubungi ketika terjadi keadaan darurat.

Selain penguatan Destana, Kapolres juga menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini, kesiapan personel dan peralatan penanggulangan bencana, sosialisasi jalur evakuasi kepada masyarakat, serta koordinasi lintas instansi. Seluruh unsur terkait diharapkan dapat bergerak cepat dan tidak saling menunggu ketika situasi darurat terjadi.

Wali Kota Batu Nurochman turut menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat keamanan. Keterlibatan masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan rawan bencana, sangat diperlukan untuk meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan.

Baca Juga :  Road Barrier Beton Dipasang di Depan Exit Terminal Purabaya untuk Kurangi Macet

Ia mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, serta segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda awal terjadinya longsor maupun kondisi lingkungan yang berpotensi membahayakan.

Pemerintah Kota Batu juga terus melakukan pemantauan dan penyisiran sejumlah aliran sungai, termasuk Kali Krecek yang memiliki potensi meluap. Upaya perbaikan fasilitas serta penataan aliran sungai di beberapa titik turut disiapkan untuk mendukung kelancaran aliran air saat hujan dengan intensitas tinggi.

Pentingnya kesiapsiagaan tersebut diperkuat dengan data kejadian bencana di Kota Batu. Berdasarkan data Polres Batu, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 73 kejadian bencana. Sementara itu, sejak awal 2026 hingga 4 November 2026, jumlah kejadian meningkat menjadi 122 peristiwa.

Dari jumlah tersebut, tercatat 20 kejadian kebakaran hutan dan lahan, 52 tanah longsor, 11 banjir, serta 39 kejadian angin kencang dan puting beliung.

Baca Juga :  Ngaji Bareng Jumat Wage Dusun Garu: Tradisi 7 Tahun yang Terus Menguatkan Ukhuwah

Peningkatan jumlah kejadian tersebut menjadi perhatian bersama, terutama bagi pemerintah desa dan masyarakat yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan bencana cukup tinggi.

Melalui momentum apel kesiapsiagaan ini, penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kesiapan menghadapi bencana harus diwujudkan melalui langkah nyata, mulai dari pemetaan risiko, edukasi masyarakat, pemeriksaan sarana prasarana, hingga pengaktifan kembali relawan Destana.

Masyarakat juga diimbau mengenali jalur evakuasi, menyiapkan kebutuhan darurat keluarga, serta tidak mengabaikan informasi dan peringatan dini dari pihak berwenang.

Sebab, dalam menghadapi bencana, kecepatan informasi, kesiapan masyarakat, dan koordinasi di tingkat desa menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa maupun kerugian material.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

Penulis: AriadEditor: Irwani Umam

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi