banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Berita

Langka dan Turun-Temurun, Kue Banjar Asal Jombang Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran

×

Langka dan Turun-Temurun, Kue Banjar Asal Jombang Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Jombang – Di Dusun Garu, Desa Podoroto, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, terdapat satu kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini, yakni Kue Banjar. Keunikan kue ini tidak hanya terletak pada cita rasanya, tetapi juga pada fakta bahwa produksinya hanya dilakukan oleh satu keluarga secara turun-temurun.

Kue Banjar telah menjadi warisan keluarga yang dijaga selama puluhan tahun. Hingga saat ini, tidak ada produsen lain di wilayah tersebut yang membuat kue serupa dengan resep dan teknik yang sama. Hal ini menjadikan Kue Banjar sebagai jajanan tradisional yang tergolong langka dan memiliki nilai eksklusivitas tinggi.

Asal-usul nama Kue Banjar sendiri belum diketahui secara pasti. Namun, masyarakat setempat meyakini bahwa istilah “Banjar” berasal dari tradisi bertani, yaitu proses “membanjari” saat menanam padi. Dalam proses tersebut, petani membuat garis lurus untuk menanam benih secara teratur dan berurutan.

Baca Juga :  Semarak Songsong Ramadhan, SDN 01 Ogan Lima Adakan Doa Bersama

Filosofi tersebut tercermin dalam proses pembuatan Kue Banjar. Adonan disusun satu per satu dengan rapi dan penuh ketelitian, menyerupai pola tanam di sawah. Proses ini membutuhkan kesabaran dan keterampilan khusus, sehingga tidak semua orang mampu membuatnya dengan hasil yang sama.

Dari segi bahan, Kue Banjar menggunakan beras ketan sebagai bahan utama. Pengolahan bahan ini memerlukan teknik khusus agar menghasilkan tekstur kenyal yang menjadi ciri khasnya. Selain itu, harga bahan baku yang cenderung fluktuatif turut memengaruhi biaya produksi kue ini.

Karena prosesnya yang cukup rumit dan memakan waktu, produksi Kue Banjar tidak dilakukan setiap hari. Di luar momen tertentu seperti Ramadan dan Lebaran, kue ini jarang tersedia di pasaran. Kondisi tersebut membuat Kue Banjar menjadi salah satu jajanan tradisional yang sulit ditemukan.

Baca Juga :  Kerja Keras Satgas TMMD Berbuah Nyata, Rumah Ibu Saidah Segera Dihuni

Namun, memasuki bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idulfitri, produksi meningkat drastis. Permintaan yang melonjak membuat keluarga produsen harus bekerja lebih intensif untuk memenuhi pesanan yang datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Jombang tetapi juga luar kota.

Saat ini, usaha pembuatan Kue Banjar tersebut diteruskan oleh generasi penerus keluarga, Machmudah. Ia memegang peran penting dalam menjaga kelangsungan produksi sekaligus mempertahankan resep asli yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Machmudah menuturkan bahwa tantangan terbesar adalah menjaga kualitas di tengah tingginya permintaan. Meski produksi meningkat, seluruh proses tetap dilakukan secara tradisional tanpa bantuan mesin modern.

“Karena ini warisan keluarga, kami tetap menjaga cara pembuatannya seperti dulu. Walaupun pesanan banyak saat Lebaran, kualitas tetap kami utamakan,” ujarnya.

Keberadaan Kue Banjar yang hanya diproduksi oleh satu keluarga ini menjadikannya tidak sekadar jajanan, tetapi juga simbol kekayaan kuliner lokal yang unik. Dengan keterbatasan produksi dan proses yang khas, kue ini tetap diminati dan menjadi incaran masyarakat, khususnya saat momen Lebaran.

Baca Juga :  Gebyar Tahfidz 30 Juz Pertama Kemenag Sidoarjo, Hafalan Siswa Madrasah Dinilai Makin Baik

Ke depan, diharapkan Kue Banjar tetap dapat bertahan sebagai warisan budaya sekaligus identitas kuliner khas Dusun Garu yang terus hidup di tangan generasi penerus.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa