Oleh: H. M. Syarif Hidayatullah, ST., MMT.
Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Jombang
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Jombang
Pergantian tahun dalam kalender Hijriah selalu menghadirkan ruang perenungan bagi umat Islam. Tahun Baru 1448 Hijriah bukan sekadar penanda bertambahnya usia perjalanan waktu, melainkan kesempatan untuk melihat kembali arah kehidupan yang sedang kita tempuh, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.
Peristiwa hijrah yang menjadi dasar penanggalan Islam sejatinya mengandung pesan besar tentang keberanian menghadapi perubahan. Hijrah bukan tindakan melarikan diri dari persoalan, melainkan langkah strategis untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dari peristiwa itu, kita belajar bahwa perubahan memerlukan visi, kesabaran, persatuan, dan keteguhan prinsip.
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, nilai-nilai tersebut terasa semakin penting di tengah derasnya perubahan sosial, teknologi, dan politik. Kemajuan yang kita nikmati hari ini membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan baru. Informasi bergerak begitu cepat, ruang publik semakin terbuka, dan perbedaan pendapat sering kali menjadi sumber gesekan yang tidak perlu.
Di sinilah makna Tahun Baru Hijriah menjadi relevan. Hijrah mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan arah. Perubahan harus tetap berpijak pada nilai, etika, dan tanggung jawab sosial.
Sebagai bangsa yang dibangun di atas keberagaman, Indonesia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak negara lain. Kita memiliki ratusan budaya, bahasa, adat istiadat, dan tradisi yang hidup berdampingan. Tradisi bukan penghalang kemajuan, melainkan akar yang menjaga bangsa tetap kokoh ketika menghadapi perubahan zaman.
Begitu pula agama. Dalam kehidupan berbangsa, agama tidak hanya menjadi urusan ibadah pribadi, tetapi juga sumber inspirasi moral yang membentuk karakter masyarakat. Nilai kejujuran, keadilan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama merupakan fondasi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan publik.
Sementara itu, demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, berpartisipasi dalam pembangunan, dan ikut menentukan masa depan bangsa. Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang dipenuhi permusuhan, melainkan demokrasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.
Karena itu, tradisi, agama, dan demokrasi sesungguhnya bukan tiga hal yang saling bertentangan. Ketiganya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan. Tradisi menjaga identitas, agama memberikan arah moral, dan demokrasi memastikan setiap warga memiliki ruang untuk berkontribusi.
Tantangan terbesar bangsa saat ini bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan kecenderungan untuk mempertentangkan perbedaan. Kita sering terjebak pada sikap yang ingin menang sendiri, merasa paling benar, dan enggan mendengarkan pandangan orang lain. Padahal, bangsa ini tumbuh besar justru karena kemampuannya merawat keberagaman.
Momentum Tahun Baru Hijriah 1448 H hendaknya menjadi ajakan untuk melakukan hijrah sosial. Hijrah dari sikap saling curiga menuju saling percaya. Hijrah dari budaya menyalahkan menuju budaya mencari solusi. Hijrah dari kepentingan kelompok menuju kepentingan bersama. Dan hijrah dari perpecahan menuju persatuan.
Bagi masyarakat Jombang yang dikenal sebagai kota para ulama dan santri, semangat tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Warisan para pendahulu telah mengajarkan bahwa agama harus menjadi sumber kedamaian, bukan sumber pertentangan. Perbedaan harus disikapi dengan kebijaksanaan, bukan dengan permusuhan.
Memasuki tahun baru ini, harapan kita sederhana namun penting: masyarakat semakin rukun, demokrasi semakin dewasa, dan pembangunan semakin mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sebab kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kualitas persatuan, karakter, dan kepedulian sosial masyarakatnya.
Tahun Baru Hijriah 1448 H adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen tersebut. Bahwa di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, kita tetap memegang teguh nilai-nilai luhur agama, menjaga kearifan tradisi, dan merawat demokrasi sebagai jalan bersama menuju Indonesia yang lebih adil, maju, dan bermartabat.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Semoga setiap langkah yang kita tempuh menjadi bagian dari hijrah menuju kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri, masyarakat, dan bangsa Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















