banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
BeritaBudayaDaerah

Momentum May Day, Seniman Cirebon, Antara Profesi dan Kebutuhan, Seni Jadi Mata Pencaharian

×

Momentum May Day, Seniman Cirebon, Antara Profesi dan Kebutuhan, Seni Jadi Mata Pencaharian

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Cirebon -Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day menjadi momentum refleksi bagi berbagai kalangan pekerja, termasuk para pelaku seni budaya di Cirebon. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup, seni yang dulunya dianggap sekadar panggilan jiwa kini berubah menjadi salah satu sumber mata pencaharian yang terus diperjuangkan agar tetap bertahan.

Bagi sebagian seniman tradisi, May Day bukan hanya bicara soal buruh pabrik atau pekerja formal, namun juga menyangkut para pelaku seni yang bekerja melalui keterampilan, ketekunan, serta pengabdian panjang terhadap warisan budaya.

Maestro Sintren Cirebon, Zebod, yang juga pemilik Sanggar Pawang Telik Cirebon, menilai bahwa seni tradisi sejatinya adalah profesi yang lahir dari ketekunan dan proses panjang, namun sering kali belum mendapatkan pengakuan yang layak.

“Orang kadang melihat seni itu hiburan saja. Padahal bagi kami, ini kerja, ini profesi. Latihan itu butuh waktu, butuh tenaga, dan butuh biaya,” ujar Zebod, Jumat (1/5/2026).

Menurutnya, pelaku seni tradisional seperti sintren tidak hanya tampil untuk menghibur, tetapi juga memikul tanggung jawab besar untuk menjaga budaya tetap hidup. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu sejalan dengan pengorbanan yang diberikan.

Baca Juga :  Skandal Lontong dan 2 Anggur: SPPG Patemon Barat Diduga Pangkas Gizi

“Kalau tidak ada panggilan pentas, ya kami harus cari cara lain. Tapi kalau seni ini tidak dijalani, budaya kita bisa hilang. Makanya mau tidak mau seni juga harus bisa jadi mata pencaharian,” ungkapnya.

Zebod menyebut bahwa kebutuhan ekonomi saat ini membuat para seniman harus beradaptasi. Sebagian di antaranya tetap bertahan melalui panggilan hajatan, acara adat, hingga kegiatan pariwisata, meskipun penghasilan yang diperoleh belum menentu.

“Kami tetap jalan. Walaupun kadang upahnya kecil, tapi yang penting tradisi ini tetap ada. Seniman itu bukan hanya cari uang, tapi juga menjaga amanat leluhur,” tambahnya.

Senada dengan Zebod, Penggiat Sejarah Seni dan Budaya Cirebon yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Pencinta Sejarah Seni dan Budaya Cerbon (FORKO PANCER), Dido Gomes atau yang akrab disapa Mama Dido, menilai bahwa May Day seharusnya menjadi ruang pengakuan bagi semua pekerja, termasuk pekerja seni yang selama ini berada di pinggir perhatian.

“May Day jangan dimaknai sempit. Buruh itu bukan hanya yang bekerja di pabrik. Seniman juga buruh, karena mereka bekerja dengan kemampuan, tenaga, dan kreativitas,” kata Mama Dido.

Baca Juga :  Tunjangan BPD Disorot, Ketua BPD Suarakan Aspirasi hingga Isu Aksi Mengemuka di Musrenbang Peterongan

Mama Dido menegaskan bahwa seni tradisi Cirebon memiliki nilai besar, namun sering tidak dihargai secara layak. Bahkan banyak seniman yang akhirnya tampil dari panggilan ke panggilan semata demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Realitanya, banyak seniman tradisi di Cirebon yang hidup pas-pasan. Mereka tetap berkesenian bukan karena ingin kaya, tapi karena seni sudah menjadi jalan hidup. Namun kebutuhan hidup memaksa seni menjadi sandaran ekonomi,” ujarnya.

Ia menyebut, profesi seniman sering kali tidak memiliki kepastian pendapatan, tidak ada jaminan sosial, bahkan tidak sedikit yang harus menjual karya atau tampil di jalanan demi bertahan hidup.

“Seniman itu pekerja yang tidak punya jam kantor, tapi punya jam latihan. Mereka tidak punya slip gaji, tapi punya tanggung jawab budaya. Ini yang sering tidak terlihat,” tegas Mama Dido.

Mama Dido berharap pemerintah daerah dan masyarakat lebih peduli terhadap keberlangsungan seni tradisi. Menurutnya, pelaku seni tidak cukup hanya diapresiasi lewat pujian, namun juga harus didukung melalui ruang tampil, program pembinaan, serta penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Baca Juga :  Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Imbau Warga Waspadai Penyakit Pancaroba

“Kita sering bangga mengaku punya budaya besar, tapi para penjaga budayanya justru dibiarkan berjuang sendiri. Kalau mau budaya Cirebon tetap hidup, maka senimannya juga harus sejahtera,” katanya.

Ia menambahkan, May Day menjadi pengingat bahwa setiap profesi memiliki nilai dan perjuangan masing-masing. Termasuk para pelaku seni yang setiap hari bekerja menjaga identitas budaya daerah.

“May Day ini momentum untuk menghargai semua bentuk kerja. Seni itu bukan hanya tontonan, tapi juga kerja keras. Seni itu kehidupan. Dan bagi banyak orang, seni adalah mata pencaharian,” pungkas Mama Dido.

Peringatan May Day tahun ini pun menjadi cermin bahwa di balik panggung pertunjukan, tarian, musik, hingga tradisi rakyat, terdapat para pekerja seni yang terus bertahan di tengah perubahan zaman. Seni bukan hanya soal ekspresi, namun juga soal perjuangan hidup yang terus berjalan demi kebutuhan dan keberlangsungan budaya.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi