banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
BeritaBudaya

Potensi Budaya Kabupaten Cirebon Capai 343, Disbudpar Siap Hidupkan Kembali Kuliner dan Tradisi yang Hampir Punah

×

Potensi Budaya Kabupaten Cirebon Capai 343, Disbudpar Siap Hidupkan Kembali Kuliner dan Tradisi yang Hampir Punah

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Cirebon – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon mencatat sedikitnya 343 potensi budaya yang tersebar di berbagai wilayah.

Dari ratusan potensi tersebut, sejumlah kuliner tradisional, teknologi tradisional, hingga pengetahuan lokal yang hampir punah akan kembali dieksplorasi dan dihidupkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.

Subkoordinator Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Cirebon, Iman Hermanto, mengatakan, angka 343 tersebut tidak hanya mencakup kesenian, tetapi juga berbagai objek pemajuan kebudayaan, seperti manuskrip, tradisi lisan, adat istiadat, situs budaya, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, hingga bahasa daerah.

“Jumlahnya sekitar 343, itu yang tercatat di kita,” ujar Iman, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, pendataan tersebut masih bersifat dinamis karena masih banyak potensi budaya yang belum terdokumentasi secara menyeluruh, termasuk berbagai jenis kuliner khas Cirebon, khususnya makanan dan kue tradisional.

Baca Juga :  Gus Fatchrur Pimpin APINDO Jombang 2026–2031, Targetkan Investasi Baru dan Ribuan Lapangan Kerja

Iman menegaskan, Disbudpar akan terus melakukan eksplorasi terhadap berbagai warisan budaya tersebut agar dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat sekaligus menjadi daya tarik budaya Kabupaten Cirebon.

“Dari 343 itu ada yang hampir punah, seperti makanan yang ketika kita kecil ada yang namanya dodongkal. Sekarang sudah jarang ditemukan. Kita berusaha mengeksplorasi dan memunculkannya kembali,” katanya.

Selain dodongkal, Iman juga menyoroti makanan tradisional bernama golondo, olahan berbahan dasar ampas tahu yang dahulu cukup dikenal masyarakat. Menurutnya, makanan tersebut merupakan bentuk kreativitas para perajin tahu dalam memanfaatkan limbah produksi menjadi pangan yang bernilai ekonomi sekaligus sumber energi bagi masyarakat.

“Artinya, itu bentuk kreativitas perajin tahu untuk memunculkan dan mempopulerkan makanan tersebut,” jelasnya.

Tak hanya kuliner, Disbudpar juga memberi perhatian terhadap teknologi tradisional yang mulai ditinggalkan, salah satunya kerajinan gerabah.

Baca Juga :  Polresta Sidoarjo Gelar Operasi Zebra Semeru 2025: Sasar Pelanggaran Fatal, Tekan Kecelakaan Jelang Nataru

Iman menjelaskan, sentra gerabah di Kabupaten Cirebon dahulu tersebar di sejumlah wilayah, seperti Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Arjawinangun, Ciledug, Pabedilan, hingga Astanajapura. Namun, beberapa sentra kini nyaris hilang.

“Di Arjawinangun dan Ciledug sudah hampir punah. Hanya tersisa beberapa perajin yang masih membuat cowet untuk kebutuhan tahu gejrot. Sementara di Blender, Kecamatan Karangwareng, yang dulu terkenal sebagai sentra gerabah dan genteng, sekarang sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi dukungan Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon yang mendorong eksplorasi berbagai potensi budaya, mulai dari kuliner, pengetahuan tradisional, kemahiran tradisional hingga jamu.

“Alhamdulillah Pak Kadis mendukung eksplorasi potensi budaya yang ada seperti kuliner, pengetahuan tradisional, kemahiran, dan jamu. Teknik tradisional itu sebenarnya sangat banyak di Kabupaten Cirebon,” paparnya.

Ke depan, Disbudpar akan memperkuat kolaborasi dengan masyarakat, komunitas budaya, serta kalangan akademisi untuk melakukan kajian sebagai dasar pengusulan penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Baca Juga :  Pemkab Cirebon Siapkan Solusi Terpadu Tangani Limbah Kerang Hijau di Pesisir Mertasinga

Menurut Iman, seluruh upaya tersebut merupakan implementasi empat pilar pemajuan kebudayaan, yakni pelestarian, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.

“Di pilar kebudayaan itu ada empat, yaitu pelestarian, pemanfaatan, pengembangan, dan pembinaan. Pada aspek pelestarian, langkah yang dilakukan adalah penetapan dan eksplorasi agar potensi budaya itu kembali muncul,” ujarnya.

Selain itu, Disbudpar juga akan memperkuat program pembinaan bagi sanggar-sanggar seni sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem kebudayaan di Kabupaten Cirebon.

“Mudah-mudahan ke depan, dengan adanya kolaborasi dan dukungan pimpinan, empat pilar kebudayaan itu bisa terwujud secara optimal,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi