Seputardesa.com, Artikel – Bagi sebagian orang, pukul enam pagi masih menjadi waktu untuk menarik selimut lebih rapat. Namun bagi komunitas pesepeda cofferidesociety.cc, jam tersebut justru menjadi fase krusial yang menentukan kualitas latihan mereka hari itu.
Dalam dunia bersepeda, dikenal istilah bonking, kondisi ketika tubuh mendadak kehilangan tenaga, kepala terasa ringan, dan fokus menurun akibat cadangan glikogen yang menipis. Sejumlah riset menunjukkan bahwa bersepeda intens dengan kondisi perut kosong setelah puasa semalaman membuat tubuh dipaksa membakar lemak secara kurang efisien. Dampaknya, performa turun drastis, terutama saat menghadapi tanjakan atau tempo tinggi.
Tantangan utama pesepeda pagi bukan soal kemauan untuk makan, melainkan keterbatasan akses asupan yang memadai di waktu subuh. Banyak tempat belum beroperasi, sementara tubuh membutuhkan energi yang tepat sebelum mulai mengayuh.
Karena itu, pemilihan lokasi dan waktu sarapan menjadi bagian penting dari persiapan. Bukan sekadar mengisi perut, tetapi memastikan tubuh mendapatkan karbohidrat kompleks dan protein yang cukup untuk menopang aktivitas fisik selama berjam-jam di atas sadel. Asupan ini membantu menjaga kestabilan gula darah dan mencegah kelelahan dini.
Sains di Balik Sarapan Pesepeda
Sarapan 1–2 jam sebelum bersepeda tidak hanya berdampak pada stamina, tetapi juga pada fungsi kognitif. Bersepeda di jalan raya menuntut kewaspadaan tinggi, otak yang kekurangan glukosa akan lebih lambat bereaksi, sehingga meningkatkan risiko saat harus bermanuver atau melakukan pengereman mendadak.
Dengan pola makan yang tepat sebelum rolling time, tubuh memperoleh energi yang dilepas secara bertahap. Mekanisme ini membantu mencegah lonjakan insulin berlebihan yang kerap berujung pada rasa lemas di tengah perjalanan.
Lebih dari Sekadar Energi
Bagi komunitas pesepeda, rutinitas sarapan pagi juga memiliki makna sosial. Duduk bersama sebelum latihan menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, bertukar cerita, sekaligus mempersiapkan mental sebelum menempuh jarak panjang.
Pada akhirnya, performa pesepeda tidak hanya ditentukan oleh jenis sepeda atau perlengkapan yang digunakan. Ada faktor-faktor sederhana namun krusial, seperti apa yang dikonsumsi di pagi hari yang kerap luput dari perhatian.
Jadi, ketika melihat rombongan pesepeda tetap tampak segar setelah menempuh puluhan kilometer, jawabannya mungkin bukan pada harga sepedanya, melainkan pada persiapan mereka sejak pukul enam pagi.














