SeputarDesa.com, Surabaya – Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur kembali menunjukkan eksistensinya di panggung global melalui penyelenggaraan pameran seni internasional bertajuk Decenterion. Kegiatan ini menjadi bukti konkret bahwa institusi pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang produksi budaya yang mampu menjembatani dialog lintas negara. Diselenggarakan di Balai Pemuda Surabaya pada 20 hingga 21 Juni 2026, pameran ini menghadirkan total 172 karya terkurasi yang terdiri dari 16 karya seniman mancanegara dan 156 karya seniman dalam negeri.
Dalam perspektif kajian media dan budaya visual, pameran ini mencerminkan dinamika globalisasi seni yang tidak lagi terpusat pada negara-negara Barat, melainkan bergerak menuju desentralisasi praktik kreatif. Kehadiran seniman dari berbagai latar belakang budaya memperkaya narasi visual yang ditampilkan, sekaligus memperlihatkan bahwa Indonesia, khususnya Surabaya, memiliki posisi strategis dalam ekosistem seni global kontemporer.
Tema yang diangkat pada tahun ini, yaitu “Incarnate”, berasal dari bahasa Latin incarnare yang berarti “menjadi wujud fisik”. Secara filosofis, tema ini merepresentasikan transformasi ide abstrak menjadi realitas visual yang dapat diindra. Dalam konteks desain komunikasi visual, proses ini merupakan inti dari praktik kreatif, di mana gagasan, emosi, dan memori diolah menjadi bentuk visual yang komunikatif dan bermakna. Tema ini juga menegaskan pentingnya peran desainer sebagai mediator antara konsep dan realitas, antara imajinasi dan pengalaman publik.
Ketua Pameran Decenterion, Deamarilis Sonia Pramono, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan karya seni, tetapi juga membangun ekosistem kolaboratif antar seniman global. Partisipasi seniman dari 14 negara menunjukkan bahwa pameran ini telah berkembang menjadi platform internasional yang kredibel. Dalam kerangka akademik, kegiatan semacam ini memiliki nilai strategis sebagai sarana pertukaran pengetahuan, praktik terbaik, serta eksplorasi perspektif baru dalam bidang seni dan desain.
Lebih jauh, pameran ini juga berfungsi sebagai ruang diskursif yang memungkinkan terjadinya dialog antarbudaya. Setiap karya yang dipamerkan tidak hanya berdiri sebagai objek estetis, tetapi juga sebagai representasi identitas, pengalaman sosial, serta konteks budaya masing-masing seniman. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya menikmati karya secara visual, tetapi juga terlibat dalam proses interpretasi yang lebih mendalam.
Apresiasi terhadap keberhasilan penyelenggaraan acara ini juga disampaikan oleh Wakil Rektor III UPN “Veteran” Jawa Timur, Prof. Dr. Drs. Lukman Arif, M.Si. Beliau menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi internasional sebagai upaya meningkatkan kualitas karya dan daya saing institusi di tingkat global. Dukungan dari pihak rektorat menunjukkan bahwa kegiatan ini selaras dengan visi universitas dalam mengembangkan pendidikan berbasis kreativitas, inovasi, dan jejaring internasional.
Salah satu aspek yang paling menonjol dalam pameran Decenterion tahun ini adalah komitmen terhadap inklusivitas. Dalam wacana media kontemporer, inklusi menjadi isu penting yang berkaitan dengan representasi dan aksesibilitas. Pameran ini secara khusus menyediakan ruang bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk menampilkan karya mereka. Sebanyak 11 karya yang dihasilkan oleh siswa penyandang autisme, tunagrahita, dan tunarungu turut dipamerkan dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari pengunjung.
Kehadiran karya-karya tersebut tidak hanya memperkaya keberagaman estetika dalam pameran, tetapi juga menghadirkan perspektif baru tentang makna seni itu sendiri. Seni tidak lagi dipandang semata sebagai produk teknis, melainkan sebagai medium ekspresi yang inklusif dan humanistik. Dalam konteks ini, karya-karya ABK menjadi simbol bahwa kreativitas tidak dibatasi oleh kondisi fisik maupun kognitif.
Lebih dari sekadar pameran, Decenterion dapat dipahami sebagai ruang interaksi sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Akademisi, praktisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum memiliki kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan karya seni. Hal ini menciptakan pengalaman estetis yang tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif.
Sebagai penutup, keberhasilan penyelenggaraan Decenterion menegaskan peran penting institusi pendidikan dalam mendorong perkembangan seni dan budaya. Dengan menggabungkan aspek akademik, profesional, dan sosial, pameran ini menjadi contoh ideal bagaimana seni dapat berfungsi sebagai jembatan komunikasi global sekaligus alat pemberdayaan masyarakat. Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas, sehingga kontribusi Indonesia dalam kancah seni internasional semakin signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















