banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Nasional

70.392 Ton Gandum di Banten, 24 Jam Pelabuhan Dijaga Tetap Hidup

×

70.392 Ton Gandum di Banten, 24 Jam Pelabuhan Dijaga Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Banten –  PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) Nonpetikemas tidak sedang menjual janji ketika arus logistik nasional memasuki fase paling sensitif menjelang Lebaran 2026. Di Banten, perusahaan ini menangani bongkar muat 70.392 ton gandum milik PT Nutrindo Bogarasa dari kapal MV Danae R di Pelabuhan Ciwandan, Banten, pada 9 Maret 2026. Muatan pangan itu datang dari Argentina, sandar di Dermaga 05C, lalu langsung masuk ke proses pemeriksaan dan bongkar muat oleh tim operasional pelabuhan.

Di titik inilah hard news bekerja: bukan sekadar menyebut perusahaan bergerak, tetapi menunjukkan bahwa yang bergerak adalah barang vital yang menyentuh rantai pasok pangan nasional. Dalam operasi itu, PTP Nonpetikemas menurunkan tiga unit Gantry Luffing Crane, tiga unit hopper, sekitar 70 truk pengangkut, dan wheel loader untuk trimming serta pembersihan muatan. Kegiatan tersebut juga melibatkan pemilik kargo, shipping line, perusahaan trucking, dan surveyor independen.

Menjelang Angkutan Lebaran 2026, perusahaan menegaskan operasional pelabuhan tetap berjalan normal 24 jam selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. PTP Nonpetikemas menyebut seluruh aktivitas bongkar muat, receiving, dan delivery dijalankan tanpa jeda dengan dukungan sumber daya manusia, peralatan operasional, serta sistem pendukung layanan di 11 pelabuhan yang mereka kelola di Indonesia.

Baca Juga :  KPK Kembalikan Gus Yaqut ke Rutan, Kebijakan Picu Perdebatan Publik

Langkah itu tidak berhenti pada pernyataan kesiapsiagaan. Cabang Banten di Pelabuhan Ciwandan kembali difungsikan sebagai jalur alternatif penyeberangan sepeda motor dan truk logistik menuju Sumatra sejak 11 Maret 2026. Tiga dermaga Ro-Ro dan area penyangga kendaraan disiapkan untuk membantu mengurai kepadatan di Merak sekaligus menjaga mobilitas logistik tetap jalan. Di sisi lain, Cabang Panjang di Lampung juga disiapkan sebagai simpul penting untuk arus logistik menuju Sumatra sambil tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai pelabuhan barang.

Di atas kertas, ini adalah pengamanan ritme. Di lapangan, ini adalah soal mencegah logistik tersendat pada momen ketika permintaan bergerak lebih cepat daripada kebiasaan operasi. Karena itu, PTP Nonpetikemas menempatkan koordinasi dengan otoritas pelabuhan, aparat keamanan, dan mitra kerja sebagai bagian dari antisipasi terhadap kenaikan aktivitas distribusi selama masa mudik dan arus balik.

Baca Juga :  ABPEDNAS–Kejaksaan RI Luncurkan “Jaga Desa”: BPD Didorong Jadi Pengawas Utama Dana Desa

Perusahaan juga membawa data kinerja yang lebih besar untuk menjelaskan kapasitasnya. Hingga akhir Juni 2025, throughput tercatat 22.401.788 ton/m³, naik 6,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Komposisinya didominasi curah kering 45 persen, general cargo 27 persen, curah cair 22 persen, dan bag cargo 6 persen. Pada kelompok curah kering, Pontianak menjadi sorotan dengan kenaikan 691 persen; pada curah cair, Jambi naik 69,64 persen; sementara Tanjung Priok memimpin general cargo dengan 4.633.805 ton/m³.

Angka-angka itu penting bukan karena besar semata, tetapi karena memperlihatkan bahwa lalu lintas logistik PTP Nonpetikemas tidak lagi terkonsentrasi di satu titik. Ada sebaran beban yang mulai bergerak di banyak cabang sekaligus. Di saat yang sama, perusahaan menargetkan throughput 53,5 juta ton/m³ pada 2025 dan mengandalkan modernisasi terminal, kolaborasi dengan pemilik kargo, serta PTOS-M sebagai platform planning and control terintegrasi.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Simpanan: Menakar Nyali Investasi Syariah di Balik Marwah Ibadah Haji

PTOS-M sendiri diklaim memangkas port stay hingga 33 persen, dari rata-rata tiga hari menjadi dua hari, sekaligus meningkatkan keselamatan kerja dan efisiensi operasional. Bagi pelabuhan, itu bukan sekadar perbaikan administratif. Itu berarti barang bergerak lebih cepat, antrian bisa dipangkas, dan rantai pasok punya ruang napas yang lebih panjang.

Jadi, yang sedang terjadi di PTP Nonpetikemas bukan cuma ekspansi layanan. Yang terlihat adalah pelabuhan yang dipaksa bekerja dalam tempo baru: 24 jam, berbasis data, dan makin dekat dengan kebutuhan pangan, industri, serta arus barang nasional. Di pelabuhan seperti ini, waktu bukan lagi angka di dinding. Waktu adalah biaya. Dan biaya itulah yang sedang dikejar untuk dipangkas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa