banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Berita

Muktamar NU Dan Demokrasi : Merawat Perbedaan, Menjaga Persaudaraan

×

Muktamar NU Dan Demokrasi : Merawat Perbedaan, Menjaga Persaudaraan

Sebarkan artikel ini

Oleh: H. Sholikin
Wakil Ketua PCNU Grobogan, Jawa Tengah

 

Jombang kembali menjadi titik temu warga Nahdlatul Ulama dari berbagai penjuru negeri. Di tengah suasana Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, wajah-wajah Nahdliyin datang membawa harapan, gagasan, dan tentu saja pilihan masing-masing tentang siapa yang dianggap mampu membawa organisasi ini melangkah lebih jauh. Muktamar yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melihat kembali arah perjalanan NU ke depan.

Muktamar pada dasarnya bukan hanya agenda pergantian kepemimpinan. Ia merupakan ruang untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, menyusun arah kebijakan, membicarakan persoalan umat, sekaligus menentukan siapa yang akan menerima amanah kepemimpinan NU untuk masa khidmah berikutnya.

Karena itu, Muktamar seharusnya tidak semata-mata dipahami sebagai arena perebutan suara. Di dalamnya terdapat amanah yang dibawa setiap peserta dari struktur organisasi dan warga Nahdliyin di daerah masing-masing.

Di sinilah demokrasi NU menemukan maknanya.

Demokrasi bukan sekadar ketika suara dihitung dan seorang kandidat dinyatakan menang. Demokrasi juga menyangkut bagaimana setiap orang diberi ruang menyampaikan pandangan, bagaimana perbedaan diperlakukan, bagaimana aturan dihormati, serta bagaimana setiap pihak menerima keputusan yang telah ditetapkan melalui mekanisme organisasi.

Dalam konteks Muktamar NU, perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar. Organisasi sebesar NU tidak mungkin dibangun dengan satu warna pemikiran saja. Ada keragaman latar belakang, pengalaman, karakter daerah, tradisi pesantren, dan cara pandang yang berkembang di antara para kader. Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik.

Yang perlu dikhawatirkan bukan perbedaannya, melainkan ketika perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan.

Kontestasi kepemimpinan pasti menghadirkan dukungan dan pilihan. Setiap kandidat tentu memiliki kelebihan dan gagasan yang ditawarkan. Para pendukung pun memiliki alasan masing-masing. Dalam suasana seperti itu, perbedaan argumentasi menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Tetapi kompetisi seharusnya tetap berada dalam batas kewajaran dan adab organisasi.

Baca Juga :  Perkuat Sinergitas TNI–Polri, Batituud Hadiri Tasyakuran HUT ke-27 PP Polri Ranting Gempol

Jangan sampai semangat memenangkan kandidat membuat kita lupa bahwa orang yang berbeda pilihan tetap merupakan saudara sesama Nahdliyin.

Sebab setelah proses pemilihan selesai, semua akan kembali berada dalam rumah yang sama. Mereka yang hari ini berada di barisan yang berbeda akan kembali bertemu dalam kegiatan organisasi, forum keagamaan, pesantren, lembaga pendidikan, hingga berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Jangan sampai kontestasi yang berlangsung dalam hitungan hari meninggalkan luka yang harus dipikul bertahun-tahun.

Ada hal lain yang juga penting dijaga, yaitu integritas proses Muktamar. Suara peserta harus benar-benar lahir dari pertimbangan dan keyakinan masing-masing. Tidak boleh ada tekanan, intimidasi, maupun praktik yang mereduksi suara menjadi sekadar alat transaksi kepentingan. Muktamar harus memberikan ruang kepada peserta untuk menentukan pilihan secara bebas dan bertanggung jawab.

Sebab satu suara bukan sekadar angka.

Di balik satu suara terdapat mandat organisasi, kepercayaan warga, dan harapan terhadap masa depan NU.

Karena itu, siapa pun yang mendapatkan amanah kepemimpinan nantinya harus menyadari bahwa kemenangan dalam sebuah kontestasi bukanlah akhir perjalanan. Justru setelah terpilih, tanggung jawab yang sesungguhnya dimulai. Ketua Umum PBNU bukan hanya milik mereka yang memberikan dukungan. Ia harus menjadi pemimpin bagi seluruh warga NU.

Di sinilah kualitas kepemimpinan akan diuji.

Pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang mampu memenangkan pemilihan, tetapi mereka yang mampu merangkul pihak yang berbeda. Pemimpin yang kuat bukan yang menggunakan kemenangan untuk menunjukkan kekuasaan, melainkan yang mampu mengubah kemenangan menjadi energi persatuan.

Begitu pula bagi mereka yang belum mendapatkan mandat. Kekalahan dalam sebuah kontestasi tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan perjuangan. Kritik tetap diperlukan, pengawasan tetap penting, dan gagasan yang baik tetap harus disampaikan. Namun semuanya dilakukan dalam semangat membangun, bukan untuk memperpanjang pertarungan.

NU terlalu besar jika hanya dipandang sebagai arena perebutan jabatan.

Ada persoalan umat yang jauh lebih besar menunggu untuk diselesaikan. Pendidikan, pesantren, ekonomi masyarakat, kaderisasi generasi muda, perkembangan teknologi, persoalan sosial, lingkungan, serta berbagai tantangan kebangsaan membutuhkan perhatian serius. Energi organisasi semestinya diarahkan untuk menjawab persoalan-persoalan tersebut.

Baca Juga :  Kades Ali Mustain Dorong Ketahanan Pangan Desa Jeketro Melalui Budidaya Padi

Karena itu, kepemimpinan NU ke depan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengonsolidasikan dukungan. Dibutuhkan kemampuan membaca zaman, mendengar suara akar rumput, merangkul generasi muda, memperkuat pesantren, serta membawa nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin dalam kehidupan kebangsaan.

Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memiliki makna tersendiri. Forum besar ini berlangsung di lingkungan pesantren yang memiliki hubungan kuat dengan sejarah perjalanan NU dan KH Abdul Wahab Hasbullah. Karena itu, Muktamar di Tambakberas seakan mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya berbicara tentang masa depan, tetapi juga mengingat kembali akar perjuangan NU: pesantren, kiai, santri, khidmah, dan kepentingan umat.

Dari tempat yang memiliki jejak sejarah tersebut, kita berharap demokrasi NU tidak kehilangan ruh musyawarahnya. Perbedaan hendaknya tetap menjadi bagian dari dinamika, bukan menjadi alasan untuk saling meniadakan.

Masyarakat akan melihat bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana proses menuju kemenangan itu berlangsung. Apakah aturan dihormati? Apakah perbedaan diberikan ruang? Apakah peserta dapat menentukan pilihan secara bebas? Dan yang paling penting, apakah setelah keputusan ditetapkan seluruh pihak mampu kembali bersama?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena demokrasi yang matang tidak diukur dari seberapa keras seseorang mempertahankan pilihannya, tetapi dari seberapa dewasa ia menerima perbedaan dan keputusan bersama.

Tradisi NU sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk menghadapi situasi tersebut. Budaya pesantren mengenal musyawarah. Para ulama terbiasa berbeda pandangan dalam berbagai persoalan, tetapi perbedaan itu tidak selalu menghilangkan penghormatan dan persaudaraan. Ada adab yang menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Nilai inilah yang semestinya menjadi ruh Muktamar.

Kita boleh berdebat keras mengenai gagasan, tetapi jangan saling merendahkan. Kita boleh memiliki kandidat pilihan masing-masing, tetapi jangan menjadikan kandidat lain sebagai musuh. Kita boleh memperjuangkan kemenangan, tetapi jangan mengorbankan persatuan.

Baca Juga :  Pastikan Program TNI Manunggal Air Tepat Sasaran, Danramil Rejoso Tinjau Langsung Pengeboran Air di Arjosari

Karena pada akhirnya, tidak ada kemenangan yang lebih penting daripada tetap utuhnya NU.

Ketika palu sidang diketuk dan seluruh rangkaian Muktamar selesai, nama-nama kandidat akan menjadi bagian dari sejarah. Hasil pemilihan akan menjadi keputusan organisasi. Tetapi kehidupan NU akan terus berjalan.

Para ulama tetap akan mengajar.

Para santri tetap akan belajar.

Para kader tetap akan bergerak.

Masyarakat tetap membutuhkan NU.

Dan pada saat itulah kita akan menyadari bahwa kontestasi kepemimpinan hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang sebuah jam’iyyah.

Maka siapa pun yang mendapatkan mandat harus siap mengemban amanah dengan rendah hati. Mereka yang belum mendapatkan mandat harus tetap menjaga perjuangan. Dan seluruh warga Nahdliyin harus kembali melihat bahwa perbedaan pilihan tidak pernah lebih besar daripada ikatan persaudaraan.

Semoga Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang benar-benar menjadi momentum memperkuat persatuan, memperkokoh tradisi musyawarah, memperluas khidmah, dan melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa NU menjawab tantangan zaman.

Semoga dari Tambakberas tidak hanya lahir keputusan tentang siapa yang memimpin NU, tetapi juga lahir semangat baru tentang bagaimana NU terus menjaga marwah, memperkuat khidmah, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Sebab demokrasi yang baik bukan demokrasi yang menghapus perbedaan. Demokrasi yang baik adalah demokrasi yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

Dan bagi NU, demokrasi yang paling indah adalah ketika setelah berbeda pilihan, kita tetap mampu duduk dalam satu barisan, menjaga satu rumah, dan melanjutkan satu perjuangan.

Karena pada akhirnya, yang harus menang bukan satu kelompok, bukan satu kandidat, dan bukan satu kepentingan.

Yang harus menang adalah NU.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

Penulis: Irwani UmamEditor: Irwani Umam

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi