banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Berita

Menanti Ketukan Pintu di Ruang Camat Gubeng Surabaya

×

Menanti Ketukan Pintu di Ruang Camat Gubeng Surabaya

Sebarkan artikel ini
Keterangan foto: Kantor Kecamatan Gubeng, Jalan Gubeng Airlangga II Surabaya

SeputarDesa.com, Surabaya — Siang itu, Kamis, 17 September 2026, riuh kendaraan di Jalan Gubeng Airlangga II, Surabaya, terdengar samar dari koridor Kantor Kecamatan Gubeng.

Di sudut ruang tunggu, M. Taufik kembali melirik jam dinding. Ini merupakan kedatangannya yang ketujuh. Angka yang cukup untuk menguji batas kesabaran seorang warga yang hanya ingin menyampaikan aspirasi.

Di tangannya, sebundel berkas berisi catatan tentang persoalan di wilayahnya mulai tampak kusut. Taufik merupakan satu dari sekian warga yang meyakini bahwa penataan kota yang baik harus bermula dari dialog yang sehat.

Namun, niat baik itu seolah membentur dinding birokrasi.

“Tujuan saya murni untuk menyampaikan aspirasi dan masukan dari sudut pandang warga,” ujar Taufik dengan nada kecewa, Senin (21/9/2026).

“Sangat disayangkan, sudah tujuh kali saya datang ke kantor kecamatan, tetapi alasannya selalu sama: sedang tidak di tempat.”

Sengkarut Malam dan Sisa Sampah di Pagi Hari

Aspirasi yang dibawa Taufik bukan sekadar keluhan tanpa dasar. Bagi siapa pun yang melintasi Jalan Karang Menjangan, kondisi kawasan tersebut dinilai membutuhkan perhatian serius.

Baca Juga :  SDN Kesamben I Bagikan 400 Paket Takjil dan Gelar Buka Bersama di Bulan Ramadhan 1447 H

Saat matahari terbenam, kawasan ini berubah menjadi pusaran aktivitas yang semrawut. Kendaraan roda dua dan roda empat berebut ruang di bahu jalan akibat tata parkir yang tidak beraturan.

Di antara deru mesin, kepulan asap dari lapak pedagang kaki lima (PKL) turut mengaburkan pandangan. Sementara itu, pejalan kaki terpaksa berjalan di badan jalan karena trotoar telah beralih fungsi menjadi area komersial.

Kondisi pada malam hari tersebut kemudian menyisakan persoalan berbeda pada pagi harinya.

Saat kota mulai beraktivitas, pemandangan berganti menjadi tumpukan kantong plastik, sisa makanan, dan styrofoam yang berserakan di sejumlah sudut jalan. Aroma tak sedap bahkan kerap tercium sebelum petugas kebersihan sempat membersihkannya.

Kondisi itulah yang mendorong Taufik berkali-kali mendatangi kantor kecamatan. Ia ingin menyampaikan masukan sekaligus menawarkan solusi konkret dari sudut pandang warga yang melihat langsung dinamika kawasan tersebut.

Sebagai kepala wilayah, Camat Gubeng, Annita Hapsari Oktorina Sesoria, disebut tengah mengawal program pembenahan dari Pemerintah Kota Surabaya. Upaya pemusatan kantong parkir dan penertiban lapak kuliner malam terus digodok untuk mengembalikan fungsi pedestrian.

Baca Juga :  Dukung Ekonomi Rakyat, Dandim 0819/Pasuruan Evaluasi Pembangunan KDKMP Melalui Vicon

Namun, sebagai warga yang menyaksikan dinamika tersebut setiap hari, Taufik merasa masih terdapat sejumlah hal di lapangan yang perlu dievaluasi dan disampaikan langsung kepada pemangku kebijakan.

Renovasi Ruangan versus Ruang Dialog

Alih-alih mendapatkan ruang audiensi, kunjungan ketujuh Taufik justru menghadirkan jawaban yang kembali menimbulkan pertanyaan.

Seorang staf kecamatan yang enggan disebutkan namanya menyampaikan alasan baru mengenai ketidakhadiran sang pimpinan.

“Ibu Camat belakangan memang jarang berkantor di sini karena ruangannya mau direnovasi,” ungkap staf tersebut.

Alasan renovasi ruangan itu pun memunculkan tanda tanya baru di benak warga. Di tengah tuntutan keterbukaan publik, apakah pembenahan fisik ruang kerja juga harus berdampak pada akses komunikasi antara pejabat dan masyarakat?

Dalam praktik pelayanan publik, kehadiran seorang kepala wilayah memang dapat terbagi dengan agenda dinas luar, koordinasi di Balai Kota, maupun peninjauan lapangan.

Baca Juga :  Penanggulangan Risiko Digital Dini: Polwan Polresta Sidoarjo Kawal Literasi Gadget di 'Kampung Lali Gadget'

Pihak Kecamatan Gubeng sendiri, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, disebut telah menegaskan komitmennya untuk memantau ketertiban dan kebersihan pascapenataan ulang kawasan tersebut.

Namun, cerita yang disampaikan Taufik menunjukkan adanya persoalan komunikasi yang menurutnya perlu mendapat perhatian di lini depan pelayanan publik.

Ketika ruang kerja sang camat bersiap dipercantik dengan material baru, warga justru berharap ruang dialog dapat lebih dahulu dibuka seluas-luasnya.

Hingga laporan ini diturunkan, upaya konfirmasi resmi kepada Camat Gubeng terkait keluhan warga serta rencana renovasi ruangan tersebut belum mendapatkan respons.

Bagi Taufik dan masyarakat Gubeng, penataan Jalan Karang Menjangan merupakan langkah yang perlu didukung. Namun, mereka juga berharap wajah ramah Kota Surabaya tidak hanya tercermin dari estetika trotoarnya, tetapi juga dari pintu kantor kecamatan yang selalu terbuka bagi warga yang datang mengetuk.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

Penulis: Ariad

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi