banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
ArtikelInvestigasi

Membedah Sinergi “Dipaksa Bisa” hingga Ruang Rangkul Orang Tua di MI Al-Ihsan Terpadu

×

Membedah Sinergi “Dipaksa Bisa” hingga Ruang Rangkul Orang Tua di MI Al-Ihsan Terpadu

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Sidoarjo – Jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB ketika riuh ruang tamu keluarga Ibrahim perlahan surut. Di atas meja kayu berkaki pendek, sebuah buku cetak Bahasa Indonesia dan buku tulis bergaris terbuka lebar. Mama Ibrahim, seorang ibu rumah tangga sekaligus wali murid kelas 1 di MI Al-Ihsan Terpadu Kedinding, mendampingi putra kecilnya yang mulai gelisah.

“Baru tiga baris membaca, matanya sudah ke mana-mana. Belum lagi kalau dapat tugas matematika dasar,” tutur Mama Ibrahim menghela napas panjang. “Jujur, kadang kesabaran saya habis bukan karena anak tidak mau belajar, tapi karena saya sendiri kelelahan setelah seharian mengurus rumah. Kami orang tua bingung kalau tidak didampingi anak tertinggal, tapi kalau didampingi, kami sering tidak paham cara mengajar yang benar tanpa membentak.”

Realitas di meja dapur keluarga Ibrahim adalah potret mikro yang dihadapi ribuan keluarga di tingkat pendidikan dasar. Ketika anak melangkah masuk sekolah, harapan orang tua dibebankan pada pundak guru. Namun begitu bel pulang berbunyi, sekat pemisah antara ruang kelas dan rumah kerap menjadi jurang hening yang memicu ketertinggalan literasi dan numerasi anak.

 Keheningan di Ruang Kelas

Sekitar 10 kilometer dari ruang tamu Mama Ibrahim, di lorong-lorong MI Al-Ihsan Terpadu Kedinding, keresahan senada dirasakan para pendidik. Ustadz Farid Maksum, Guru Mata Pelajaran Agama, mengamati langsung bagaimana dinamika di rumah berimbas langsung pada daya serap siswa di kelas.

“Anak-anak yang di rumahnya ada ruang dialog dengan orang tua menunjukkan kepercayaan diri dan kesiapan belajar yang sangat berbeda,” papar Ustadz Farid di sela-sela mengajar. “Sebaliknya, siswa yang orang tuanya menyerahkan 100 persen urusan belajar ke madrasah sering kali tampak kewalahan saat menghadapi materi pembiasaan karakter maupun hafalan. Pendidikan agama dan moral itu tidak bisa diisi pakai metode ‘suntik’ di kelas saja; harus ada kesinambungan pengulangan di rumah.”

Tantangan ini disadari betul oleh pihak manajemen madrasah. Bu Ria Sulistyowati, S.Pd., Waka Kesiswaan dan Humas MI Al-Ihsan Terpadu, menegaskan bahwa komunikasi antara sekolah dan wali murid tidak boleh disempitkan sekadar urusan penagihan administrasi atau laporan nilai akhir semester.

“Selama ini ada anggapan salah bahwa orang tua dipanggil ke sekolah hanya kalau anaknya bermasalah,” ujar Bu Ria. “Di MI Al-Ihsan Terpadu, kami mengubah pola itu lewat forum paguyuban dan rembuk berkala. Kami ingin orang tua paham bahwa mereka bukan ‘penonton’ atau ‘pengawas galak’ di rumah, melainkan mitra sejajar guru. Jika orang tua tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi atau keterbatasan waktu, kami berikan panduan stimulasi sederhana yang tidak membebani.”

Celah Regulasi

Melihat dinamika tersebut dari kacamata pengawasan daerah, Pak Hariono, Pengawas Madrasah, menilai bahwa efektivitas kolaborasi tripusat pendidikan (sekolah, keluarga, dan komunitas) masih kerap membentur sekat formalitas.

“Secara teori regulasi, semua pihak sepakat bahwa pendidikan dasar adalah tanggung jawab bersama. Namun di lapangan, koordinasi itu sering macet karena tidak ada jembatan praktis,” kata Pak Hariono saat melakukan kunjungan pengawasan.

“Madrasah seperti MI Al-Ihsan Terpadu yang mau membuka diri dan menginisiasi dialog jujur dengan orang tua adalah contoh penting. Kunci peningkatan mutu pendidikan dasar bukan sekadar menambah jam pelajaran, melainkan memastikan ekosistem di sekitar anak terutama keluarga berjalan selaras.”

Pandangan ini diperkuat oleh perspektif kelembagaan dari Tanoto Foundation. Dalam wawancara khusus pada 15 November 2026, perwakilan Tanoto Foundation menegaskan pentingnya intervensi pelibatan orang tua dalam fondasi belajar anak.

“Riset dan pemantauan program Tanoto Foundation pada periode 2022 hingga 2026 yang ditegaskan oleh Country Head Tanoto Foundation Indonesia, Inge Kusuma, menunjukkan bahwa keterlibatan aktif orang tua di rumah berhubungan langsung dengan peningkatan capaian literasi dasar dan numerasi anak. Orang tua tidak perlu menguasai seluruh isi materi pelajaran sekolah untuk membantu anak yang dibutuhkan adalah pendampingan yang konsisten, lingkungan belajar yang kondusif, serta komunikasi inklusif antara guru dan orang tua.””

— Perwakilan Tanoto Foundation (Wawancara Liputan, 15 November 2026)

Merangkul Masa Depan

Kembali ke ruang tamu keluarga Ibrahim. Setelah dialog rutin antara pihak madrasah dan paguyuban orang tua diaktifkan, pendekatan Mama Ibrahim dalam mendampingi buah hatinya perlahan berubah.

“Sekarang kalau anak capek, saya tidak memaksakan dia harus hafal satu halaman sekaligus,” senyum Mama Ibrahim. “Dari penjelasan Bu Guru dan bimbingan madrasah, saya jadi tahu kalau ajak anak ngobrol tentang kejadian seharian atau membacakan buku cerita sebelum tidur itu sudah bagian dari belajar literasi. Kami tidak merasa ditinggalkan sendiri lagi.”

Menembus tembok kelas dan menghapus stigma batas belajar bukan pekerjaan satu malam. Pengalaman MI Al-Ihsan Terpadu di Kedinding menunjukkan bahwa ketika guru menurunkan ketegangan standar akademis dan orang tua dibantu memahami perannya tanpa rasa bersalah, pendidikan dasar menemukan ruhnya yang sejati sebuah rangkulan bersama untuk mengantarkan anak tumbuh dengan percaya diri.

Baca Juga :  Pemerintah Pusat Revitalisasi 45 Sekolah di Sidoarjo, 1.577 Smartboard Disalurkan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi