banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Opini

118 Tahun Kebangkitan Nasional: Negara Jangan Abai terhadap Jeritan Rakyat

×

118 Tahun Kebangkitan Nasional: Negara Jangan Abai terhadap Jeritan Rakyat

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Yohanes Winarto, S.H., M.H.
Ketua Badan Kehormatan DPRD Provinsi Jawa Tengah
Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

 

SeputarDesa.com, Semarang – 20 Mei 2026, bangsa Indonesia memperingati 118 tahun Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini tidak sekadar mengenang berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, tetapi juga menjadi refleksi mendalam tentang arah perjalanan bangsa hari ini. Kebangkitan Nasional lahir dari kesadaran rakyat untuk bersatu melawan ketidakadilan dan penindasan. Semangat itulah yang seharusnya tetap menjadi jiwa dalam penyelenggaraan negara saat ini.

Namun di tengah peringatan Kebangkitan Nasional, masyarakat justru dihadapkan pada berbagai persoalan yang semakin berat. Harga kebutuhan pokok yang terus naik, lapangan pekerjaan yang semakin sulit, daya beli masyarakat yang menurun, serta ketidakpastian ekonomi menjadi kenyataan yang dirasakan rakyat sehari-hari. Di sisi lain, kebijakan pemerintah sering kali terlihat lebih berpihak pada kepentingan elite dan kelompok tertentu dibandingkan kebutuhan rakyat kecil.

Sebagai wakil rakyat Provinsi Jawa Tengah, saya melihat ada kegelisahan yang nyata di tengah masyarakat. Petani masih menghadapi persoalan pupuk dan harga hasil panen yang tidak stabil. Nelayan menghadapi biaya operasional yang tinggi. Pelaku UMKM berjuang bertahan di tengah tekanan ekonomi. Sementara generasi muda dihadapkan pada sulitnya memperoleh pekerjaan yang layak setelah menyelesaikan pendidikan.

Baca Juga :  Opini : Pelentingan Kader dan Ujian Kesetiaan Politik

Kondisi ini menunjukkan bahwa semangat Kebangkitan Nasional belum sepenuhnya diterjemahkan dalam kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Negara seharusnya hadir memberikan rasa aman dan kesejahteraan, bukan justru membiarkan rakyat berjuang sendiri menghadapi tekanan hidup yang semakin berat.

Kita juga melihat bagaimana demokrasi belakangan ini menghadapi tantangan serius. Kritik masyarakat sering kali dianggap sebagai ancaman, padahal kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Pemerintah seharusnya membuka ruang dialog yang sehat, mendengar suara rakyat, dan tidak alergi terhadap perbedaan pandangan.

Kebangkitan Nasional mengajarkan bahwa bangsa ini dibangun melalui keberanian melawan ketidakadilan. Karena itu, keberpihakan kepada rakyat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan negara. Pembangunan tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi harus benar-benar menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata.

Baca Juga :  Peran Santri dalam Politik: Penjaga Nilai di Tengah Dinamika Kekuasaan

Sebagai bagian dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, kami meyakini bahwa politik harus dijalankan sebagai alat perjuangan rakyat. Politik tidak boleh kehilangan nurani dan tidak boleh menjauh dari persoalan masyarakat kecil. Ketika rakyat kesulitan, maka seluruh penyelenggara negara harus hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar narasi pencitraan.

Masyarakat Jawa Tengah dikenal memiliki karakter kuat, pekerja keras, dan menjunjung tinggi gotong royong. Namun kesabaran rakyat tidak boleh terus-menerus diuji oleh kebijakan yang tidak sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Pemerintah pusat maupun daerah harus lebih serius memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok, memperkuat sektor pertanian, membuka lapangan kerja, dan menjaga akses pendidikan serta kesehatan yang terjangkau.

Di era digital saat ini, ancaman terhadap persatuan bangsa juga semakin nyata. Penyebaran hoaks, politik identitas, dan polarisasi sosial terus berkembang di ruang publik. Situasi ini tidak boleh dibiarkan karena dapat merusak semangat persatuan yang menjadi fondasi Kebangkitan Nasional.

Baca Juga :  Belajar dari Kisruh PBNU: Mengelola Perbedaan demi Khidmah Jam’iyah

Generasi muda Indonesia juga membutuhkan perhatian serius. Anak-anak muda tidak cukup hanya diberikan slogan optimisme, tetapi harus diberikan ruang dan kesempatan yang nyata untuk berkembang. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang kritis, mandiri, dan memiliki daya saing, bukan justru menciptakan ketidakpastian masa depan.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 harus menjadi momentum evaluasi bersama. Bangsa ini tidak boleh kehilangan arah dan melupakan cita-cita perjuangan para pendiri bangsa. Negara harus kembali menempatkan rakyat sebagai pusat dari seluruh kebijakan pembangunan.

Kebangkitan Nasional sejatinya adalah keberanian untuk berpihak kepada rakyat, melawan ketidakadilan, serta menjaga persatuan bangsa di atas segala kepentingan politik dan kekuasaan. Jika semangat itu benar-benar dijalankan, maka Indonesia akan tetap berdiri kokoh sebagai bangsa besar yang berdaulat, adil, dan bermartabat.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi