SeputarDesa.com, Sidoarjo – Sebuah pemandangan unik sekaligus mistis terekam di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Puluhan benda mirip keranda jenazah yang digotong warga di jalanan desa mendadak viral dan memicu rasa penasaran.
Usut punya usut, benda tersebut bukanlah keranda pembawa jenazah, melainkan puluhan amben atau tempat tidur bambu tradisional berisi gunungan makanan. Uniknya, makanan tersebut ditata memanjang dan ditutup kain jarik batik persis seperti prosesi pemakaman. Tradisi ekstrem dan penuh filosofi ini merupakan bagian dari tasyakuran Ruwat Desa Pagerngumbuk yang digelar pada Minggu pagi (17/5/2026).
Acara budaya yang sarat kearifan lokal ini juga dihadiri langsung oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, S.H., M.Kn., yang ikut berbaur bersama ratusan warga desa.
Arak-Arakan Mistis Amben Kain Jarik Menuju Balai Desa
Jika di desa lain ruwat desa identik dengan tumpeng biasa, Pemdes Pagerngumbuk punya cara berbeda untuk menunjukkan rasa syukur atas hasil bumi. Selain puluhan nasi kuning dan belasan tumpeng raksasa berisi sayur dan buah, sajian di atas amben bambu bertutup jarik menjadi magnet utama.
Warga desa bergotong-royong memikul amben tersebut dari rumah-rumah menuju Balai Desa Pagerngumbuk. Tradisi unik ini merupakan simbol “menyepuh” atau membersihkan desa dari segala bentuk kemalangan, sekaligus pengingat spiritual bagi warga yang masih hidup.
Selain ritual makanan unik tersebut, rangkaian ruwat desa ini juga dimeriahkan dengan agenda religius dan budaya, mulai dari pengajian umum, ziarah ke makam leluhur desa, hingga pementasan wayang kulit semalam suntuk.
Bupati Subandi: Simbol Kekompakan Warga dan Tolak Bala
Kehadiran Bupati Sidoarjo, H. Subandi, di tengah riuhnya warga desa membawa angin segar bagi pelestarian budaya lokal. Orang nomor satu di Sidoarjo ini memberikan apresiasi setinggi-langitnya kepada Kepala Desa dan seluruh masyarakat Pagerngumbuk yang kompak mempertahankan tradisi leluhur.
Menurut Subandi, sedekah bumi lewat ruwat desa ini memiliki esensi mulia, yaitu mengetuk pintu langit dengan doa agar penyelenggaraan pemerintahan desa berjalan lancar dan petaninya makmur.
“Tujuane nopo kok desa dislameti, desa diruwati? Biar desane pak lurah dalam penyelenggaraan pemerintahan diparingi gampang dan gangsar, mugi-mugi diparingi slamet sedoyo (supaya desanya pak lurah diberi kemudahan dan semua warga diberi keselamatan),” ujar Bupati Subandi menggunakan bahasa Jawa yang akrab di telinga warga desa.
Lebih lanjut, Subandi mendoakan agar ketulusan warga desa yang rela menyumbangkan hasil buminya untuk tasyakuran bersama ini dibalas dengan berkah melimpah.
“Mudah-mudahan niat kita bersyukur kepada Allah diterima, rumah tangganya dijadikan sakinah mawaddah warahmah, dan yang tidak kalah penting, mugi-mugi sedaya tanduranipun panjenengan subur, produksine meningkat (semoga semua tanaman bapak-ibu subur dan hasilnya meningkat),” pungkas Subandi disambut amin riuh dari warga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















