SeputarDesa.com, Cirebon – Di Blok Pagar Gunung, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, bambu bukan sekadar tanaman liar yang tumbuh di pekarangan. Bagi warga setempat, bambu telah menjadi denyut ekonomi sekaligus warisan budaya yang terus dijaga turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.
Siang itu, suasana kampung tampak hidup. Hampir di setiap halaman rumah, para perajin duduk bersila sambil menganyam bilah-bilah bambu tipis menjadi bakul berbagai ukuran. Suara gesekan bambu berpadu dengan obrolan ringan warga, menciptakan irama khas kehidupan yang sudah mengakar sejak lama.
Salah satu perajin, Atika (43), mengaku aktivitas menganyam sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Ia bahkan mulai belajar sejak masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
“Dari kecil sudah diajarkan orang tua. Mulai dari meraut sampai menganyam,” ujar Atika saat ditemui, Selasa (28/4/2026), tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Bagi Atika, anyaman bambu bukan hanya keterampilan, tetapi juga sumber penghidupan keluarga. Dari tangan terampilnya, bambu yang awalnya kaku perlahan berubah menjadi bakul kokoh yang siap dipasarkan.
Dalam sehari, Atika mampu menyelesaikan sekitar empat bakul setengah jadi. Namun jika hanya tahap akhir atau finishing, produksinya bisa lebih banyak.
“Kalau yang sudah setengah jadi paling empat sehari. Tapi kalau finishing bisa sampai 20 bakul, tergantung susahnya,” ungkapnya.
Bambu yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar desa, dengan jenis bambu tali dan bambu surat sebagai bahan utama. Melimpahnya bahan baku menjadi alasan utama mengapa kerajinan ini tumbuh kuat di wilayah tersebut.
Namun perjalanan para perajin tidak selalu berjalan mulus. Atika mengingat masa-masa ketika permintaan menurun drastis, membuat penjualan tersendat.
“Pernah sepi sekali, bakul susah laku. Tapi kebutuhan hidup tetap jalan,” katanya.
Kini, permintaan mulai kembali stabil. Bakul hasil anyaman warga dijual dengan harga terjangkau, berkisar Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per buah. Pemasaran pun semakin terbantu dengan kehadiran pengepul yang datang langsung ke kampung, selain tetap disuplai ke pasar tradisional.
Kepala Dusun Desa Cipanas, Rizal, mengatakan kerajinan anyaman bambu di Blok Pagar Gunung telah berkembang sejak lama, bahkan sejak masa pasca kemerdekaan Indonesia.
“Dulu karena bambu di sini melimpah, masyarakat mulai mengolahnya jadi bakul. Lama-lama jadi mata pencaharian utama,” jelas Rizal.
Saat ini, ratusan kepala keluarga di wilayah tersebut masih menggantungkan hidup dari anyaman bambu. Produk mereka tidak hanya beredar di sekitar Cirebon, tetapi juga dipasarkan hingga berbagai daerah di Jawa Barat.
Meski demikian, Rizal menyebut keberadaan produk anyaman bambu kini menghadapi tantangan besar, terutama akibat persaingan dengan produk modern berbahan plastik.
“Sekarang saingannya banyak, barang plastik lebih murah dan lebih praktis. Tapi anyaman bambu tetap punya nilai kuat karena lebih ramah lingkungan dan tahan lama,” ujarnya.
Rizal berharap potensi besar yang dimiliki Blok Pagar Gunung dapat mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah. Ia membayangkan wilayah tersebut dapat berkembang menjadi sentra kerajinan bambu sekaligus destinasi wisata edukasi.
“Kami ingin tempat ini dikenal lebih luas. Kalau bisa jadi sentra atau destinasi kerajinan, tentu akan membantu ekonomi warga,” kata Rizal.
Di kampung kecil ini, anyaman bambu bukan sekadar produk rumah tangga. Ia menjadi simbol ketekunan yang diwariskan lintas generasi, cerita tentang tangan-tangan yang terus bekerja, serta harapan yang dirajut dalam setiap helai bambu.
Di Pagar Gunung, tradisi itu masih hidup—dan terus berjuang bertahan di tengah arus zaman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com
















