banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Berita

Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan, Sejarah Diplomasi RI di Era Kemerdekaan

×

Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan, Sejarah Diplomasi RI di Era Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Cirebon – Gedung Perundingan Linggarjati Kuningan merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai penting dalam perjalanan diplomasi Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Gedung ini berlokasi di Desa Linggarjati, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat, di kawasan yang sejuk di kaki Gunung Ciremai.

Pada tanggal 11 sampai dengan 13 November 1946, gedung ini menjadi tempat dilaksanakannya Perundingan Linggarjati antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Belanda. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Willem Schermerhorn, dengan mediasi dari pihak Inggris.

Baca Juga :  Banjir Kembali Rendam Desa Jatilor, Warga Dusun Tempuran Harapkan Perhatian Pemerintah

Perundingan tersebut menghasilkan naskah kesepakatan yang dikenal sebagai Perjanjian Linggarjati. Perjanjian itu menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya pengakuan kedaulatan Republik Indonesia secara internasional.

Karena menyimpan nilai sejarah yang tinggi, saat ini Gedung Perundingan Linggarjati telah ditetapkan sebagai museum dan cagar budaya yang dikelola oleh pemerintah. Di dalamnya terdapat berbagai koleksi berupa foto dokumentasi, replika ruang perundingan, serta benda-benda pendukung yang menggambarkan suasana pada masa itu. Penataan ruang diupayakan menyerupai kondisi asli guna memberikan gambaran yang komprehensif kepada pengunjung.

Gedung Perundingan Linggarjati terus mendapat perhatian serius dari pemerintah termasuk Kementerian Kebudayaan. Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, perlu pengembangan lebih baik lagi khususnya pada bagian museum agar bisa meningkatkan daya tarik, pelayanan, serta memperluas informasi untuk masyarakat.

Baca Juga :  Pengurus KDMP dan KKMP Kutai Kartanegara Ikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tahun 2025

“Kita perlu memperkuat sentuhan digital, seperti penggunaan rekaman arsip asli, animasi jalannya perundingan, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk menghidupkan foto-foto lama. Dengan pendekatan ini, sejarah tidak hanya dipahami, tetapi juga dapat dirasakan secara lebih imersif,” ucap Menbud RI saat kunjungan kerja ke Kuningan beberapa waktu lalu.

Di kawasan Linggarjati juga terdapat Gedung Sjahrir yang nilai historisnya tidak kalah penting. Untuk itu perlu komitmen bersama dalam merawatnya.

“Rumah ini sangat bersejarah karena menjadi tempat beristirahat di sela-sela perundingan. Sutan Sjahrir tinggal di sini, begitu juga Presiden Soekarno yang hadir berkunjung. Tempat ini menjadi saksi interaksi antara delegasi Indonesia, perunding Belanda seperti Van Mook, mediator Lord Killearn, hingga para jurnalis internasional yang mengabadikan momen bersejarah tersebut,” jelas Menbud RI.

Baca Juga :  Bupati Kuningan: Guru Madrasah Harus Inspiratif di Era Digital

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa