SeputarDesa.com, Jombang-Halaman Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang pada Jumat (12/6/2026) sore dipenuhi suasana semarak dan penuh khidmah. Menjelang pembukaan Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026, ratusan peserta dan tamu undangan disuguhkan pertunjukan seni tradisi Bantengan yang menjadi bagian dari rangkaian pra-pembukaan kegiatan tersebut.
Mengusung tema “Kembali ke Akar”, penyelenggaraan Muktamar Kebudayaan Indonesia tahun ini mengajak masyarakat untuk menengok kembali warisan nilai, tradisi, dan kearifan para pendahulu. Tema tersebut terasa hidup melalui berbagai ekspresi budaya yang ditampilkan di halaman kampus yang berdiri di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas itu.
Ketua Panitia Lokal, Ki Wasis, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan acara.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan Muktamar Kebudayaan Indonesia tidak lepas dari semangat kebersamaan dan gotong royong yang dalam tradisi masyarakat Jombang sering disebut sebagai “bantingan”.
“Acara ini dapat terlaksana karena dukungan banyak pihak. Ada bantuan dari pemerintah daerah, para donatur, keluarga besar Unwaha, serta berbagai elemen masyarakat yang bersama-sama mengangkat beban dan tanggung jawab demi suksesnya kegiatan ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa tema “Kembali ke Akar” memiliki makna mendalam, yakni kembali kepada sumber nilai dan pemikiran para pendiri, khususnya KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama dan pendiri Lesbumi.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, para nyai, Pondok Pesantren Tebuireng, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun material dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Suasana kemudian semakin hidup ketika Lesbumi PCNU Kediri menampilkan seni tradisi Bantengan yang dipadukan dengan pameran pusaka. Pertunjukan tersebut menarik perhatian peserta muktamar sekaligus masyarakat yang hadir.
Ketua Lesbumi PCNU Kediri, Abu Muslih, menjelaskan bahwa seni Bantengan memiliki sejarah panjang dalam perjalanan kebudayaan Nahdlatul Ulama. Tradisi ini tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren serta menjadi bagian dari upaya merawat budaya yang berakar pada nilai-nilai keislaman.
Menurutnya, latihan pencak silat yang berkembang di langgar, masjid, dan pesantren kemudian melahirkan berbagai bentuk ekspresi budaya, salah satunya seni Bantengan yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat.
Pertunjukan yang disuguhkan tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga mengandung pesan-pesan pendidikan, kedisiplinan, kebersamaan, serta penghormatan terhadap warisan budaya para leluhur.
Abu Muslih menegaskan bahwa merawat seni tradisi merupakan bagian dari ikhtiar menjaga warisan para pendahulu Lesbumi agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula, dalam sambutannya mengajak peserta muktamar untuk memahami makna kebudayaan sebagai proses perubahan yang terarah menuju kehidupan yang lebih baik.
Beliau menjelaskan bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara tentang kesenian, melainkan juga mencakup tata nilai, ilmu pengetahuan, adab, dan berbagai aspek kehidupan yang membentuk peradaban masyarakat
“Dalam tradisi seperti Bantengan ini terdapat unsur agama, ilmu pengetahuan, dan seni yang saling melengkapi. Ketiganya menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan yang berkeadaban, menegakkan kebaikan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” tuturnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para kiai dan tokoh yang hadir. Setelah itu, pertunjukan seni Bantengan kembali dilanjutkan dan menjadi daya tarik utama bagi peserta muktamar.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, semangat “Kembali ke Akar” tidak hanya menjadi tema yang tertulis dalam spanduk, tetapi benar-benar hadir dalam praktik kehidupan masyarakat; melalui gotong royong, penghormatan terhadap tradisi, penguatan adab, serta upaya merawat kebudayaan sebagai bagian dari khazanah Islam Nusantara.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















