Oleh : M Irwani N Umam
Pimred Seputar Desa
Setiap 10 November, kita menunduk khidmat menyebut kata pahlawan. Tapi di tengah riuhnya propaganda, sensor halus, dan banjir kebohongan digital siapa pahlawan hari ini?
Jawabannya sederhana, mereka yang berani menulis yang benar, ketika kebenaran dianggap musuh.
Jurnalis sejati hidup di garis depan pertempuran yang tak terlihat. Mereka menembus ancaman, tekanan, dan godaan uang. Mereka tahu risikonya kehilangan pekerjaan, reputasi, bahkan nyawa tapi tetap menulis. Karena mereka paham, diam berarti tunduk, tunduk berarti mati.
Ironisnya, di negeri yang mengaku merdeka, banyak jurnalis harus berjuang untuk sekadar bicara jujur.
Berita disetir, data dimanipulasi, dan kebenaran dinegosiasikan. Padahal, tanpa jurnalisme yang merdeka, demokrasi hanya tinggal jargon, dan rakyat hidup dalam kebodohan yang dikemas rapi.
Pahlawan masa lalu melawan penjajahan fisik, jurnalis hari ini melawan penjajahan informasi.
Musuh mereka bukan tentara kolonial, tapi algoritma, propaganda, dan kekuasaan yang takut pada cahaya.
Dan tetap, mereka berjuang dengan pena, kamera, dan suara yang tak mau dibungkam.
Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti pada nostalgia. Ia harus menjadi alarm. Bahwa keberanian menulis kebenaran adalah bentuk perjuangan paling murni di zaman yang gelap ini.
Karena di tangan jurnalis yang berintegritas, kebenaran tetap punya nyawa.
Dan selama masih ada yang berani menulisnya, bangsa ini belum kalah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














