banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Liputan Muktamar NU Ke-35

KH Miftachul Akhyar, Ulama Pesantren dan Simbol Kepemimpinan Spiritual NU

×

KH Miftachul Akhyar, Ulama Pesantren dan Simbol Kepemimpinan Spiritual NU

Sebarkan artikel ini

SeputarDesa.com, Jombang — Terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, kembali menegaskan posisi penting ulama sepuh dalam perjalanan kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Kehadiran KH Miftachul Akhyar dalam jajaran AHWA tidak sekadar mencerminkan pengalaman panjangnya dalam struktur organisasi NU. Sosoknya juga merepresentasikan kepemimpinan spiritual yang tumbuh dari tradisi pesantren, sanad keilmuan, serta pengabdian kepada umat.

Bagi kalangan yang mengikuti pengajian-pengajiannya, KH Miftachul Akhyar dikenal tidak hanya sebagai pejabat struktural NU, tetapi juga sebagai seorang ulama yang konsisten menyampaikan kajian keislaman, khususnya yang berkaitan dengan tauhid, fikih, akhlak, dan tasawuf.

Salah satu kajian yang banyak disimak adalah Syarah Hikam karya Ibnu Abbad al-Nafazi, yang disampaikan melalui kanal TV9. Pemikiran dan tausiyahnya kemudian turut menjadi bahan refleksi keagamaan yang dipublikasikan dalam berbagai media dakwah NU.

Tumbuh dari Keluarga Pesantren

KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953. Ia merupakan putra kesembilan dari 13 bersaudara, pasangan KH Abdul Ghani dan Nyai Hj. Siti Ashfiyah.

Ayahnya, KH Abdul Ghani, merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya. Ia dikenal memiliki hubungan keilmuan dengan sejumlah ulama besar NU, salah satunya KH M. Usman al-Ishaqi Sawahpulo, Surabaya.

Lingkungan keluarga tersebut menjadi fondasi awal pembentukan karakter dan keilmuan KH Miftachul Akhyar. Sejak kecil, ia mendapatkan pendidikan agama dan akhlak secara langsung dari keluarganya.

Baca Juga :  Presiden Dijadwalkan Tutup Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jombang, Senin 31 Agustus

Perjalanan intelektualnya kemudian berlanjut melalui tradisi rihlah ilmiah, dengan menimba ilmu dari sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

KH Miftachul Akhyar tercatat pernah belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang. Kedua pesantren tersebut memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tradisi keilmuan dan Nahdlatul Ulama.

Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ke Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, yang dikenal sebagai salah satu pesantren salaf dengan tradisi pendidikan keislaman yang kuat.

Setelah itu, rihlah keilmuannya berlanjut ke Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah. Di tempat tersebut, kecerdasan dan kedalaman keilmuan KH Miftachul Akhyar mendapat perhatian dari gurunya, KH Masduqie Allasimy, yang kemudian menjadikannya sebagai menantu.

Mendirikan Pesantren di Tengah Kota Surabaya

Bekal ilmu yang diperoleh dari berbagai pesantren kemudian diamalkan KH Miftachul Akhyar melalui pendirian Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya.

Awalnya, ia hanya berniat menempati rumah peninggalan sang kakek di kawasan Kedung Tarukan. Namun, interaksi dengan masyarakat sekitar membuatnya melihat kebutuhan terhadap pengajaran agama dan siraman rohani.

Ia kemudian mulai merintis pengajian sederhana. Dari pengajian kecil tersebut, aktivitas keagamaan berkembang dan akhirnya menjadi Pondok Pesantren Miftachus Sunnah.

Pesantren tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan dan dakwah Islam di tengah masyarakat urban Surabaya. Kehadirannya menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan agama sekaligus pendalaman nilai-nilai tauhid, fikih, akhlak, dan tasawuf.

Baca Juga :  Gus Sentot Serukan Gerakan Bersama Sukseskan Muktamar NU ke-35 di Jombang

Perjalanan tersebut juga menunjukkan bahwa tradisi pesantren salaf dapat tetap berkembang di tengah kehidupan masyarakat perkotaan yang terus mengalami modernisasi.

Menapaki Khidmah NU dari Bawah

Kiprah KH Miftachul Akhyar di lingkungan NU berlangsung secara bertahap. Ia menapaki khidmah organisasi dari tingkat bawah sebelum kemudian mendapatkan amanah di tingkat wilayah hingga nasional.

Sekitar 2000–2005, ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya. Pengabdian tersebut kemudian mengantarkannya ke tingkat PWNU Jawa Timur.

KH Miftachul Akhyar menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur selama dua periode, yakni 2007–2013 dan 2013–2018.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika ia dipercaya masuk dalam struktur kepemimpinan PBNU.

Pada periode 2015–2020, KH Miftachul Akhyar menjabat sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi KH Ma’ruf Amin.

Ketika KH Ma’ruf Amin maju dalam kontestasi politik nasional sebagai calon wakil presiden, KH Miftachul Akhyar kemudian dipercaya menjalankan amanah sebagai Penjabat Rais Aam PBNU.

Puncak kepercayaan terhadap kepemimpinannya terjadi dalam Muktamar Ke-34 NU di Lampung. Melalui mekanisme AHWA, KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026.

Pernah Memimpin MUI

Selain kiprahnya di NU, KH Miftachul Akhyar juga pernah mendapatkan amanah sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025.

Namun, amanah tersebut kemudian dilepaskan setelah mempertimbangkan ketentuan organisasi NU mengenai larangan rangkap jabatan bagi Rais Aam. KH Miftachul Akhyar selanjutnya memilih berkonsentrasi menjalankan khidmah di lingkungan NU.

Baca Juga :  Jelang Muktamar ke-35 NU, 556 Cabang dan Wilayah Lolos Verifikasi, Ring 1 Diperketat

Kembali Dipercaya dalam AHWA Muktamar Ke-35

Dalam Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, nama KH Miftachul Akhyar kembali mendapatkan kepercayaan sebagai salah satu anggota AHWA.

Keberadaannya di dalam forum tersebut membawa dimensi tersendiri. Selain memiliki pengalaman panjang dalam organisasi, ia juga dikenal memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren dan kepemimpinan ulama.

Catatan penting: bagian mengenai “KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam periode 2026–2031” sebaiknya dimuat setelah ada penetapan resmi dan berita acara Muktamar, agar pemberitaan SeputarDesa.com tetap akurat dan memenuhi prinsip verifikasi jurnalistik.

Bagi perjalanan NU, sosok seperti KH Miftachul Akhyar tidak hanya dipandang dari jabatan struktural yang pernah diembannya. Lebih dari itu, perjalanan hidupnya menggambarkan kesinambungan tradisi keilmuan pesantren, pengabdian kepada umat, serta kepemimpinan ulama yang berakar pada nilai-nilai spiritual.

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar dalam AHWA menjadi bagian penting dari dinamika Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas. Amanah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi ulama pesantren masih menjadi salah satu fondasi penting dalam menentukan arah perjalanan NU ke depan.

Keterangan Foto: KH Miftachul Akhyar dalam rangkaian kegiatan Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi