SeputarDesa.com, Brebes – Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (PSDAPR) Kabupaten Brebes mengajak kaum perempuan mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sampah rumah tangga sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan kelestarian irigasi.
Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Irigasi dan Tata Ruang yang digelar di Aula Dinas PSDAPR Kabupaten Brebes, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini diikuti para perempuan yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dari berbagai daerah di Kabupaten Brebes.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Irigasi dan Air Baku Dinas PSDAPR Kabupaten Brebes, Mitik Yudo Setiawan, S.E., yang mewakili Kepala Dinas PSDAPR Zuhdan Fanani, S.H.
Dalam sambutannya, Mitik Yudo menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, pengelolaan sampah harus dimulai dari lingkungan keluarga, di mana perempuan memiliki peran yang sangat strategis.
“Ibu-ibu memiliki peran penting dalam mengurangi timbulan sampah dari rumah tangga. Mulailah dengan memilah sampah organik dan anorganik. Jadilah sosok yang mampu menggerakkan keluarga dan lingkungan, sebagaimana Srikandi yang dikenal tangguh dan mampu mengambil peran penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Kabupaten Brebes saat ini memiliki dua Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang melayani wilayah utara dan selatan. Namun, kapasitas TPA akan semakin terbebani apabila masyarakat tidak melakukan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Brebes memaparkan bahwa berbagai program edukasi terus dilakukan melalui sosialisasi dan pendampingan di seluruh kecamatan. Hingga saat ini, kegiatan tersebut telah menjangkau 17 kecamatan, termasuk melalui gerakan kebersihan rutin seperti Jumat Ceria Bersih-Bersih.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Perwakilan perempuan dari wilayah Brebes Selatan mengungkapkan bahwa rendahnya kesadaran masyarakat masih menjadi kendala utama dalam pengelolaan sampah. Menurut mereka, perubahan perilaku masyarakat membutuhkan edukasi yang berkelanjutan serta dukungan dari berbagai pihak.
Sementara itu, perwakilan GP3A Kemantren Rungkang Daerah Irigasi Jengkelok mengusulkan penerapan metode sederhana dalam pengelolaan sampah organik dengan membuat lubang-lubang penampungan di lingkungan masyarakat. Setelah penuh, lubang tersebut ditutup kembali dengan tanah sehingga sampah dapat terurai secara alami dan mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.
Melalui kegiatan ini, Dinas PSDAPR Kabupaten Brebes berharap perempuan yang tergabung dalam P3A dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, tidak hanya dalam mendukung pengelolaan irigasi, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan melalui pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga.(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















