SeputarDesa.com, Sidoarjo – Musibah seringkali menghasilkan keterkejutan, namun juga melahirkan kehangatan yang tak terduga. Di ruang penerimaan Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, di tengah deretan botol air mineral dan sisa-sisa administrasi pasca-bantuan, momen kemanusiaan yang sunyi terjadi.
Bupati Sidoarjo, Subandi, tidak hanya datang sebagai representasi birokrasi yang membawa donasi bernilai miliaran. Ia datang sebagai seorang anak yang berempati kepada orang tua. Di pelukan pengasuh pondok, tubuh Subandi tampak luruh. Ia memeluk erat sosok kiai sepuh yang mengenakan peci putih itu, sementara tangan sang kiai membalas pelukan dengan genggaman yang terasa tulus dan penuh syukur. Itu adalah pelukan yang melampaui sekat kekuasaan dan jabatan, menjadi simbol nyata dari beban yang dibagi dan harapan yang ditanam kembali.
Jutaan rupiah yang diserahkan oleh ASN dan BAZNAS adalah angka, namun pelukan itu adalah nilai. Itu adalah pengakuan bahwa kepemimpinan diuji bukan hanya oleh kemampuan merumuskan kebijakan, tetapi oleh kapasitas untuk merasakan dan berduka bersama rakyatnya. Dalam pelukan itu, duka akibat hangusnya asrama, kerisauan para santri, dan kelelahan pengasuh seolah menemukan penawarnya. Di sisi kiri, seorang anggota TNI AD menyaksikan adegan itu, sementara di sisi kanan, punggung berbatik menyaksikan dari kejauhan. Semua menjadi saksi bahwa pemulihan Al-Khoziny tidak hanya bergantung pada dana yang cair, tetapi pada ikatan batin yang terjalin.
Momen tersebut menangkap esensi sejati dari kehadiran pemerintah: bukan sekadar sebagai juru bayar, melainkan sebagai simpul utama persaudaraan yang memastikan bahwa nyala api pendidikan pesantren, yang sudah berabad-abad menjadi tiang peradaban, tidak boleh padam.
Pelukan Subandi dan Kiai Al-Khoziny menjadi babak penutup yang paling kuat dari rangkaian penyerahan donasi, menegaskan kembali pesan sang Bupati: “Solidaritas itu jauh lebih kuat dibandingkan tantangan yang kita hadapi.”
Musibah yang menimpa Pesantren Al-Khoziny telah menyentuh pengasuh, tenaga pendidik, hingga ratusan santri yang kini harus berjuang menyesuaikan diri dengan fasilitas yang serba terbatas. Bupati Subandi menegaskan bahwa respons cepat adalah kunci dalam situasi ini.
“Di masa seperti ini, hal terpenting adalah bergerak bersama untuk meringankan beban dan memulihkan kembali kehidupan pesantren,” ujar Subandi, berdiri di antara sisa-sisa bangunan yang masih menunggu perbaikan.
Dukungan finansial yang diserahkan tidak berhenti pada donasi ASN. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, bekerja sama dengan BAZNAS Kabupaten Sidoarjo, turut menyerahkan bantuan tambahan. Kolaborasi tiga pilar—ASN, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Amil Zakat—ini menjadi fokus utama dalam upaya pemulihan.
“Tujuan kami adalah membantu pemulihan fasilitas, mendukung kebutuhan dasar santri, serta mempercepat proses belajar mengajar agar kegiatan pendidikan kembali berjalan dengan layak dan aman,” urai Subandi, menekankan tanggung jawab pemerintah daerah terhadap keberlangsungan lembaga pendidikan.
Amanah dan Optimisme Santri
Dalam keheningan aula pesantren, Subandi menyampaikan apresiasi tinggi kepada BAZNAS atas respons cepatnya dan kepada seluruh masyarakat serta relawan yang telah berdonasi. Ia menyebut sinergi ini sebagai bukti konkret bahwa “solidaritas itu jauh lebih kuat dibandingkan tantangan yang kita hadapi.”
Namun, amanah yang diserahkan sang Bupati memiliki bobot lebih dari sekadar uang. Ia berpesan kepada pengasuh dan pengurus agar bantuan yang diterima dikelola dengan penuh tanggung jawab dan transparansi, dengan memprioritaskan perbaikan yang paling mendesak demi keselamatan dan proses belajar.
Kepada para santri, yang sebagian besar duduk tenang mendengarkan, Subandi menyematkan pesan optimisme. “Kami juga berpesan kepada para santri untuk tetap tenang dan terus bersemangat belajar serta menimba ilmu di pondok pesantren,” pesannya, berharap semangat keilmuan di Al-Khoziny tidak padam oleh musibah.
Kisah Al-Khoziny bukan hanya cerita tentang kerugian materi, tetapi sebuah esai nyata tentang bagaimana sektor publik dan masyarakat bergerak cepat untuk memastikan bahwa nyala lilin pendidikan di pelosok Sidoarjo tidak terputus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com














