banner 120x600
banner 120x600
banner 970x250
Opini

Maulid Nabi dan Demokrasi Berkeadaban: Refleksi PKB dalam Politik Kebangsaan

×

Maulid Nabi dan Demokrasi Berkeadaban: Refleksi PKB dalam Politik Kebangsaan

Sebarkan artikel ini

Oleh Dr. H. Miyadi, S.Ag., M.M.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tuban
Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

 

Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, Maulid merupakan ruang refleksi untuk menghadirkan kembali nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan berdemokrasi.

Bagi kita yang hidup dalam negara demokrasi, keteladanan Rasulullah SAW memiliki relevansi yang sangat kuat. Demokrasi membutuhkan bukan hanya aturan dan mekanisme politik, tetapi juga moralitas. Kekuasaan harus dijalankan dengan amanah, perbedaan harus dihormati, dan kepentingan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan tentang bagaimana membangun masyarakat yang beragam dengan menjunjung tinggi keadilan, persaudaraan, musyawarah, dan penghormatan terhadap perbedaan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun demokrasi yang sehat dan berkeadaban.

Dalam kehidupan politik, perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Setiap warga negara memiliki hak untuk menentukan pilihan politiknya. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai berubah menjadi permusuhan. Demokrasi seharusnya menjadi ruang untuk berkompetisi secara sehat sekaligus menjaga persatuan dan persaudaraan.

Baca Juga :  Negara Tak Boleh Gagal: Pendidikan Warga Miskin Harus Jadi Prioritas Utama

Di sinilah politik membutuhkan akhlak.

Politik tanpa etika berpotensi melahirkan pragmatisme, saling menjatuhkan, penyebaran informasi yang tidak benar, hingga polarisasi di tengah masyarakat. Sebaliknya, politik yang dibangun dengan nilai-nilai moral akan melahirkan kepemimpinan yang lebih bertanggung jawab dan kebijakan yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai bagian dari kekuatan politik nasional memiliki tanggung jawab untuk terus menghadirkan politik yang mengedepankan nilai keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan kemaslahatan. Politik tidak boleh berhenti pada perebutan kursi dan kekuasaan, tetapi harus bermuara pada pengabdian kepada masyarakat.

Bagi saya, jabatan politik merupakan amanah. Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, tidak hanya di hadapan masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, semakin besar kewenangan yang diberikan kepada seorang pejabat publik, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dijalankan.

Dalam konteks Kabupaten Tuban, semangat tersebut menjadi sangat penting. Tuban memiliki masyarakat yang beragam dengan latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan pilihan politik yang berbeda-beda. Keragaman tersebut bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama.

Pemerintah daerah, DPRD, partai politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ruang demokrasi agar tetap sehat. Kritik harus ditempatkan sebagai bagian dari kontrol sosial, sementara perbedaan pendapat harus diselesaikan melalui dialog dan musyawarah.

Baca Juga :  Ekonomi Berkeadilan dalam Spirit Nuzulul Qur’an

Demokrasi yang berkeadaban juga harus mampu menjawab persoalan nyata masyarakat. Politik harus hadir dalam bentuk kebijakan yang memberikan manfaat, membuka kesempatan ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan, memperkuat pembangunan desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi bagi kita semua: apakah kekuasaan yang kita miliki sudah digunakan untuk kepentingan rakyat? Apakah keputusan politik yang kita ambil sudah mencerminkan keadilan? Dan apakah perbedaan yang ada di tengah masyarakat telah kita kelola sebagai kekuatan untuk membangun bangsa?

Keteladanan Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi kedudukan seseorang, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Prinsip itulah yang semestinya menjadi ruh dalam kehidupan politik. Mereka yang memperoleh mandat rakyat harus menyadari bahwa jabatan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah untuk bekerja dan melayani.

Baca Juga :  118 Tahun Kebangkitan Nasional: Negara Jangan Abai terhadap Jeritan Rakyat

Maulid Nabi juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan. Dalam politik kita boleh berbeda pilihan, tetapi sebagai sesama warga bangsa kita tetap memiliki tujuan yang sama: menjaga Indonesia, memperkuat persatuan, dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, mari menjadikan semangat Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai energi untuk membangun demokrasi yang lebih santun, politik yang lebih beretika, serta kepemimpinan yang lebih amanah.

Demokrasi membutuhkan suara rakyat, tetapi demokrasi yang berkeadaban membutuhkan akhlak. Politik membutuhkan kekuasaan, tetapi kekuasaan yang bermartabat hanya akan lahir dari amanah dan tanggung jawab.

Semoga keteladanan Rasulullah SAW senantiasa menjadi inspirasi bagi kita dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus menjadi pedoman bagi para pemegang amanah publik untuk selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan lainnya.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Semoga kita mampu meneladani akhlak Rasulullah SAW untuk membangun masyarakat yang adil, damai, demokratis, dan sejahtera.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com

Penulis: Irwani UmamEditor: Irwani Umam

 




SeputarDesa.com - Mengungkap Fakta, Menjaga Integritas Desa
error: Dilarang Keras mengcopy sebagian atau seluruh artikel tanpa seizin redaksi