SeputarDesa.com, Jombang – Matahari belum sepenuhnya naik ketika halaman Sanggar Ariska Laras, Dusun Bebekan, Desa Bakalan Rayung, Kecamatan Kudu, mulai dipadati masyarakat. Dari jauh terdengar tabuhan gamelan disiapkan, suara pengrawit mengecek laras, dan aroma dupa memenuhi udara. Pada Minggu, 16 November 2025, tempat yang sehari-hari menjadi pusat latihan seni ini berubah menjadi panggung perayaan budaya, ketika Paguyuban Pedalangan Gagrag Mojokertoan “Putra Baskara Sumiwi” menggelar pagelaran wayang kulit siang hingga malam dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional.
Bagi masyarakat seni tradisi di wilayah Mojokerto–Jombang, peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan. Wayang bagi mereka adalah napas, warisan yang bukan hanya ditonton tetapi juga dihayati, penjaga moral, pendidikan, dan jati diri.

Di tempat inilah, di kediaman Ki Aris Suyono, Wakil Ketua Paguyuban, denyut tradisi itu kembali diperlihatkan kepada publik.
Siang yang Bersuara: “Lahire Gatotkaca” dan Tiga Dalang dalam Satu Panggung
Saat jarum jam mendekati tengah hari, masyarakat mulai mengambil tempat di depan kelir. Anak-anak duduk paling depan, beberapa ibu membawa tikar, dan para sesepuh duduk di kursi yang telah disediakan. Mereka menanti lakon “Lahire Gatotkaca”, kisah monumental tentang kelahiran ksatria sakti dari keluarga Pandawa.
Namun yang membuat pagelaran siang ini istimewa bukan hanya lakonnya, melainkan para dalangnya. Tiga dalang tampil sekaligus:
-
Ki Seno Darmoaji,
-
Ki Wasis Asmoro,
-
Ki Susro Yuwono, Ketua Paguyuban.

Pergiliran antardalang menciptakan dinamika yang berbeda. Setiap dalang menghadirkan ruh dan gaya khasnya, ada yang tegas dan ritmis, ada pula yang lembut namun sarat olah vokal. Ketika adegan sakral kelahiran Gatotkaca dimainkan, suasana penonton hening. Sabetan wayang yang cepat, hentakan kethuk, dan suara gendhing yang mengalun membuat penonton larut dalam alur cerita.
“Kolaborasi dalang seperti ini menunjukkan kekuatan gagrag Mojokertoan yang fleksibel dan kaya teknik,” ujar salah satu penonton, seorang pecinta wayang dari Mojokerto yang datang sejak pagi.
Menjelang Malam: Cahaya Lampu dan Lakon “Gatotkaca Winisudo”
Saat senja turun, suasana sanggar berubah lebih syahdu. Lampu-lampu dipasang, gamelan kembali diasah suaranya, dan aroma kopi dari warung kecil di pojok halaman menambah hangatnya suasana.
Malam hari menjadi puncak acara dengan pagelaran lakon “Gatotkaca Winisudo”, kisah kedewasaan Gatotkaca hingga penobatannya sebagai ksatria Pandawa.
Tiga dalang tampil secara bergantian:
-
Ki Seno Aji,
-
Ki Teguh Sutresno,
-
Ki Ook Gando Carito.
Masing-masing membawa karakteristiknya sendiri. Ki Seno Aji kuat dalam narasi dramatik, Ki Teguh Sutresno dikenal dengan gerak sabetannya yang rapat dan tegas, sementara Ki Ook Gando Carito menampilkan gaya humor Mojokertoan yang khas, membuat penonton sesekali tergelak tanpa mengurangi kekhidmatan cerita.
Saat adegan penobatan Gatotkaca berlangsung, kelir dipenuhi cahaya kemerahan, gamelan mengalun berat, dan suara dalang menggema dengan wibawa. Momen tersebut menjadi simbol perjalanan panjang seorang ksatria dan juga pesan moral tentang tanggung jawab generasi muda di masa kini.
Paguyuban yang Menghidupkan Tradisi
Paguyuban Pedalangan “Putra Baskara Sumiwi” bukan sekadar kumpulan dalang. Mereka adalah para penjaga tradisi gagrag Mojokertoan, gaya pedalangan yang memiliki ciri khas dalam sabetan, tembang, serta karakter vokal. Di tengah gempuran teknologi dan hiburan digital, paguyuban ini tetap konsisten melakukan pelatihan rutin bagi dalang cilik, pengrawit muda, serta pembinaan karawitan untuk menjaga kesinambungan seni pedalangan.
“Wayang tidak boleh putus. Ada nilai, ada tuntunan, ada identitas di dalamnya,” ujar Ki Susro Yuwono, Ketua Paguyuban.
Menurutnya, peringatan Hari Wayang Nasional bukan hanya seremonial, tetapi harus menjadi momentum bagi lembaga seni, pemerintah, dan masyarakat untuk bersatu menjaga kelestarian kebudayaan Jawa.
Ruang Sosial, Ruang Budaya
Pagelaran siang–malam ini bukan hanya tontonan seni. Ia menjadi ruang berkumpulnya warga, ruang dialog antar-generasi, dan ruang bagi anak-anak untuk mengenal budaya yang mungkin mulai asing di era modern.
Banyak orang datang dari berbagai daerah: Jombang, Nganjuk, Kediri, Mojokerto. Beberapa bahkan rela menunggu hingga tengah malam demi menyimak lakon lengkap.
Sanggar Ariska Laras malam itu bukan hanya panggung, tetapi titik temu budaya, sejarah, dan masyarakat.
Menjaga Nyala di Tengah Zaman yang Berubah
Ketika pagelaran berakhir, jarum jam sudah menunjukkan larut malam. Penonton pulang dengan wajah puas, sementara dalang dan pengrawit sibuk membereskan peralatan. Di balik lelah mereka, ada kebanggaan bahwa tradisi tetap hidup.
Acara yang digelar Paguyuban “Putra Baskara Sumiwi” ini bukan sekadar pentas, tetapi pernyataan bahwa seni wayang dengan segala filsafat dan estetikanya masih relevan dan tetap dicintai.
Selama masih ada panggung seperti ini, serta paguyuban yang setia menjaga api kebudayaan, maka wayang akan terus menyala, bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan.













