SeputarDesa.com, Cirebon – Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan materialistis, ilmu tasawuf dan thoriqoh kembali mendapat perhatian sebagai jalan untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui pengajian dan pembinaan ruhani, masyarakat diajak tidak hanya menjalankan syariat secara lahiriah, tetapi juga memperbaiki kondisi batin dan akhlak.
Pengguron Tarekat Agama Islam Pegajahan Cirebon menegaskan bahwa tasawuf merupakan bagian penting dalam ajaran Islam, khususnya dalam membentuk pribadi yang ikhlas, rendah hati, dan senantiasa mengingat Allah.
Tokoh Pengguron Tarekat Agama Islam Pegajahan Cirebon, P. Bagus Chandra Kusuma Ningrat mengatakan, tasawuf adalah ilmu penyucian jiwa yang mengajarkan manusia untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti riya’, sombong, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan.
“Ilmu tasawuf mengajarkan manusia agar tidak hanya sibuk memperbaiki penampilan lahiriah ibadah, tetapi juga membersihkan hati. Karena hati yang bersih akan membawa manusia lebih dekat kepada Allah Ta‘ālā,” ujarnya, Kamis (21/5/2026)
Menurutnya, dasar utama tasawuf adalah ajaran ihsan sebagaimana dijelaskan Rasulullah ﷺ dalam hadits Jibril, yakni beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan apabila tidak mampu maka meyakini bahwa Allah selalu melihat hamba-Nya.
Ia menjelaskan, tasawuf sejatinya telah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ, meskipun istilah “tasawuf” baru dikenal pada abad ke-2 Hijriah ketika muncul para ulama zuhud yang mengajak umat kembali hidup sederhana dan memperbanyak ibadah.
“Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam tasawuf. Beliau mengajarkan keikhlasan, zuhud, tawakal, dzikir, dan akhlak mulia. Maka tasawuf bukan ajaran baru, tetapi bagian dari ruh Islam itu sendiri,” katanya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga menegaskan pentingnya penyucian jiwa sebagaimana firman-Nya dalam QS Asy-Syams ayat 9–10:
“Qad aflaha man zakkaha wa qad khaba man dassaha,” yang berarti: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Menurut P. Bagus Chandra Kusuma Ningrat, ayat tersebut menjadi landasan utama dalam ilmu tasawuf dan thoriqoh untuk membina hati manusia agar senantiasa dekat dengan Allah melalui dzikir, mujahadah, dan pembinaan akhlak.
“Thoriqoh adalah jalan latihan ruhani yang dibimbing guru mursyid agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Tujuannya bukan dunia, tetapi mencari ridha Allah dan mencapai ketenangan hati,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa tasawuf yang benar harus tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ serta tidak menyimpang dari aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Islam memiliki tiga pilar utama yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Fiqih mengatur syariat, aqidah menguatkan keimanan, sedangkan tasawuf menyempurnakan ihsan dan akhlak manusia,” tandasnya.
Melalui pengajaran tasawuf dan thoriqoh, masyarakat diharapkan mampu membangun kehidupan yang lebih damai, penuh keikhlasan, serta memiliki keseimbangan antara ibadah lahir dan kebersihan batin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi SeputarDesa.com















